Kesempatan yang lain

Saya bertemu dengannya tiga hari yang lalu. Waktu itu malam ketika saya selesai mengajar dan bersiap untuk pulang. Dia keluar ruangan dan tersenyum. Ohh. Siswa baru. Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah : anak ini tersenyum karena bertemu orang-orang baru atau karena memang dia suka tersenyum? Dan jawabannya : mari kita lihat beberapa saat ke depan. (Yuph, statement di atas saya kutip darihasil  chating dengan seseorang ^^ ).

Namanya Muhammad Faris. Dia tidak begitu tampan, tidak begitu tinggi, namun …. Ya, akhirnya saya akui kalau dia memang berbeda dari yang lain. Pesonanya bisa memikat rasa ingin tahu saya lebih jauh. Upsss, tunggu dulu. Jangan pikirkan seorang tante-tante yang tertarik pada seorang brondong manis ketika Anda membaca statement di atas. Okee??? >.<

Entah mengapa melihatnya tersenyum lalu berucap, pikiran saya tiba-tiba melesat jauh menyeberangi Laut Jawa menuju suatu tempat di sudut kota Solo, tempat saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Wajah polos Kun (sekaligus wajah seribu maknanya) saat serius mengerjakan soal yang saya berikan waktu itu, berkelebat di antara bayangan-bayangan lain yang memang selalu hadir di setiap waktu senggang saya. Wajah yang apa adanya, penuh penghargaan terhadap orang yang bertatap muka dengannya, trouble maker (dan dia memang seorang trouble maker sejati), cuek namun penurut, punya kemauan, “nakal”, dan misterius. Apalagi senyumnya. Ya, seperti yang saya bilang sebelumnya, senyumannya mengisyaratkan seribu makna. Senyum yang menyembunyikan kesusahan orang yang memandangnya. Senyum yang kadang membuat saya merasa malu. Namun yang saya tahu, senyumannya itu tulus. Dan tidak ada unsur kepura-puraan di dalamnya. (Atau saya yang terlanjur terhipnotis olehnya?)

Kun Pramudya Herlambang, Edo panggilannya. Namun saya lebih suka memanggil nama aslinya saja, Kun. Lebih kurang satu setengah taun dulu saya menemaninya belajar hingga alhamdulillah bisa lulus Ujian Nasional. Meskipun amat disayangkan karena ia masuk SMA di sekolah paling favorit di kota, namun lulus dari sekolah yang terlalu biasa-biasa saja sebelum sempat keluar masuk beberapa sekolah lainnya. Yaahh, itulah perjalanan hidup. Yang mempunyai kesan sendiri baginya, dan saya. Karena saya pernah menjadi bagian hari-harinya. Dan karena dialah ada seseorang yang juga pernah menjadi bagian hidup saya. Nah lo???

Saya tak pernah menganggapnya sebagai seorang remaja yang selalu harus diikat dengan segala aturan yang mengekangnya. Karena dia sadar, dia bukan anak kecil lagi, namun dia juga tahu bahwa dia belum cukup dewasa untuk memutuskan segalanya sendiri. Hingga ia membuktikannya, bahwa dia mampu, bahwa dia sebenarnya bisa, dan ia mampu dipercaya. Dia selalu membuat saya berarti ketika dia menghadiahi saya dengan sederet pencapaian manis dalam setiap ulangan matematika sebagai bukti bahwa kebersamaan kami tidak sia-sia. Dan akhirnya ketika waktu pun menjadi alasan untuk kita menyudahinya, ego untuk tetap mendapatkan sapaan dan senyum manis itu harus terelakan. Semoga beberapa waktu kemarin kita tidak saling mengecewakan.

Dan… Mari kita menyapa Faris lagi. Lalu apa lagi yang bisa saya katakan disini ketika hanya bayangan Kun saja yang ada di kepala saya ketika bertemu dengannya? Ahh, mungkin rasanya tak akan adil. Namun ketika saya temukan dia lagi tiga hari belakangan, rasanya memang sulit untuk tidak menyebut mereka sebagai pribadi yang sama. Mirip katakanlah. Senyum mereka, perhatian mereka, bahkan sampai pada aksen penekanan dan suara mereka pun membuat saya pun bersikeras bahwa saya menemukan Kun kembali di sini. Di koordinat yang berbeda di planet bumi yang sama. Ahh… Baiklah… Untuk selanjutnya mari kita lihat kesan apa yang dibawa oleh seorang Faris di beberapa kesempatan bersamanya nanti? 🙂

Edo

Ini foto edo yang saya dapatkan dari hasil kegiatan kepo saya di Facebook

P.S. : Saya tidak bisa memajang foto Faris di sini karena saya tidak punya akun Facebooknya. Dan karena wajah Edo di foto itu tidak terlihat, jadi ya dianggap imbang lah ya, intinya menurut saya mereka memang mirip, meskipun bukan dari segi fikik. 😀

Ini tentang arti sebuah senyuman

Dan sekarang sepertinya saya sudah bisa menebak-nebak arti dari statement itu. “Senyum yang menyembunyikan kesusahan orang yang memandangnya”

Sepertinya saya belum pernah mendengar sebuah judul penelitian tentang korelasi antara pengaruh senyum seseorang terhadap suasana hati orang lain. Barangkali topik tersebut bisa diangkat menjadi sebuah judul skripsi mahasiswa psikologi. Saya pikir efeknya mungkin akan lebih bagus daripada melulu hanya dibahas pengaruh tingkat ekonomi keluarga terhadap perkembangan mental anak. Ahhh… Sotak benar saya ini. >.<

Tapi entah mengapa hal itu ada dalam pikiran saya sekarang. Dan setelah saya pikir saya merasakannya sendiri, saya menjadi faham apa yang dimaksud dengan “Senyum yang menyembunyikan kesusahan orang yang memandangnya”. Semoga apa yang saya maksud selaras dengan apa yang ada di pikirannya. Seseorang yang mempunyai statement tersebut.

Jadi, pernahkah kau merasakan sensasi seperti ini??? Ketika kau sedang dihinggapi apa yang disebut orang sebagai “unmood” atau malah yang lebih parah lagi “badmood”, tiba-tiba saja perasaan tersebut hilang seketika hanya karena sebuah senyuman. Mungkin seperti itulah arti dari topik yang kita bahas sekarang.

Pertanyaannya sekarang, apakah kau sadar ketika mood itu kembali bersama hadirnya sebuah senyuman??? Dan jawabannya adalah tidak. Yang kau tahu hanyalah kau suka menyaksikan senyum itu dan tak ada hubungannya dengan suasana hatimu saat itu. Titik.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi???

Mungkin di sini yang menjadi sasaran pertanyaan pun tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Dan saya sendiri tidak mau ambil pusing tentan siapa yang bertanya juga siapa yang ditanya…. >.<

Hingga akhirnya kesimpulan yang terwujud pun hanya sebatas subjektivitas si penulis saja. Bahwa “senyum yang menyembunyikan kesusahan orang yang memandangnya” bisa jadi tidak berlaku umum. Setiap orang mempunyai senyumannya masing-masing. Senyuman yang membuatnya merasa lepas tanpa beban.

Lagi-lagi hanya sepenggal kalimat penutup tanggung yang bisa dihadirkan dalam setiap tulisan ber’genre’ seperti ini. Just another opinion of Assch.

Danbo Smile