Better

Angin itu membawa mendung yang telah lama menaungi. Kilat petir yang terus menerus menyambar mulai berkurang seiring berlalunya awan negatif yang cukup lama “menahtakan diri”. Lalu setitik mentari harapan pun mulai berupaya untuk mampu bersinar bangkit kembali. Dan “sedikit lebih baik” membuat banker anti radiasi emosi tak diperlukan lagi untuk dijadikan tempat mengamankan diri menghindari bias negatif dari ego yang tidak terkendali. Ahhh, berlebihan.

Bukan bermaksud merayakan sebuah moment yang bernuansa kesedihan. Namun dari itu lebih banyak kebaikan yang bisa dijadikan pelajaran untuk bisa bersama-sama sampai pada sebuah tujuan. Lebih banyak keceriaan yang bisa terwujudkan ketika tak ada kewajiban menjaga dua hati dalam waktu bersamaan. Paling tidak, inilah yang bisa dirasakan untuk sekejap waktu yang tiba-tiba saja begitu cepat berlalu.

Pun untuk sesosok pribadi yang masih tersisa. Sebuah keadaan menjadi latar untuk membuktikan dua jalan pikiran yang ternyata sama. Hingga akhirnya lebih banyak lagi awan yang berarak pergi menyisakan ruang untuk merasakan hangatnya sinar sang surya.

Thanks God. Semoga ini tidak menjadikan lalai untuk terus berbenah diri. Semoga ini membuka jalan untuk setiap niat dan usaha melaksanakan tugas yang telah diwajibkan kepada kami. Semoga lebih baik dan lebih baik lagi menjadi motivasi bagi kami untuk selalu bersemangat menyambut bergantinya hari.

Karena alasan itu adalah mereka

Love

Untuk kesekian kalinya mereka membuat saya “hidup” lagi setelah sempat beberapa saat baterai penyuplai semangat saya terlepas karena adanya sedikit benturan. Tidak terlalu kuat, namun ternyata efeknya bisa membuat semangat ini sedikit terkikis. Hingga perlu mengumpulkan beberapa alasan untuk membangun pondasi baru supaya semangat ini bisa berdiri lagi menopang setiap cerita yang masih harus terus berjalan.

Rasanya benar ketika saya sampaikan bahwa “saya lah yang membutuhkan mereka”, dan bukan mereka yang membutuhkan saya. Atau mungkin yang lebih adil adalah saya dan mereka sama-sama saling membutuhkan. Ketiadaan salah satu dari kami akan membuat keberadaan ini terasa kurang lengkap, jika tidak bisa dikatakan tiada artinya.

Karena pada kenyataanya saya tidak pernah tega melihat antusiasme mereka untuk berjumpa dengan saya harus saya balas dengan senyuman hambar yang terlihat jelas dipaksakan. Karena saya tidak ikhlas, semangat mereka untuk belajar terbayarkan dengan segala ke-absurd-an yang dengan indahnya saya share di kelas. Dan yang paling tidak saya harapkan adalah apa yang saya bawa ke hadapan mereka hanyalah sebuah kebosanan efek dari sebuah tuntutan semata.

Jadi, mungkin karena sekian alasan itulah yang perlahan membuat baterai ini mulai terisi lagi. Dan untuk hal ini semoga tak perlu lah segala macam reward yang mungkin hanya akan bertahan sesaat. Lalu terlupakan, tersia-siakan. Karena rasanya mereka saja sudah cukup. Karena alasan itu adalah mereka. Semoga.

Semangat! Semangat! Semangat!

Weekend yang melelahkan. Enam jam tambahan kimia kelas 12 plus dua jam IPA bersama anak-anak kelas 6 yang sensasinya luar biasa. Akhirnya jam 10 pagi sampai jam 10 malam pun rasanya seperti menjadi romusha di jaman penjajahan Jepang yang harus bekerja ekstra keras supaya bisa sekedar mendapatkan makanan untuk bertahan hidup. Hahaha… Lebay sekali ini paragraf. Mungkin efek samping dari berbagai senyawa yang bereaksi menjadi satu di kepala saya dari tadi pagi. Dan reaksi tersebut ternyata masih berlangsung hingga sekarang. Sepertinya tidur adalah satu-satunya inhibitor yang bisa menghentikannya.

Semangka

Semua ini bukan apa-apa. Jika nanti produk akhirnya adalah sebuah kata berejakan LULUS yang tertera di selembar kertas yang mereka terima pada hari penentuan. Semua ini tak ada artinya. Jika nanti yang tersaksikan hanyalah senyum manis tersungging dari bibir mereka. Dan dari senyum itu kita tau bahwa mereka bangga, mereka bahagia. Meskipun tak ada sepenggal kata pun yang mereka ucapkan.

Selalu begini. Rasanya baru kemarin saya merasakan sensasi seperti ini. Ketika jantung saya berdebar-debar, sementara jagoan-jagoan saya dengan santainya bersiap menyapa ujian nasional. Ahh… Tiba-tiba teringat mereka. Ari, Edo, Ircham, Irwan,  Indra, Arif, dan Nanda. Apa kabar kalian sekarang? 🙂

Sekian rasa pernah tercipta. Sekian rasa pernah merasuk ke hati. Tak pernah sama. Selalu berbeda setiap kali kesempatan mengharuskan kita berjumpa. Entah itu lima puluh menit yang rasanya seperti seabad, pun dua jam yang hanya seperti sekejap saja. Semuanya telah terekam dan tersusun urut dalam piringan hitam yang menjadi lumbung penyimpanan hari-hari yang telah saya lalui di sini, di Bontang.

Ketika sebuah paragraf penutup selalu menjadi masalah bagi saya, rasanya beratus-ratus kata yang terangkai indah pun akhirnya percuma saja. Sudahlah. Tak ada yang lain untuk ini. Lakukanlah yang terbaik, dan semuanya tak pernah akan sia-sia. SEMANGAT… (^.^)/

i KNOW YOU CAN exam

Secuil semangat hari ini :)

Hujan sudah berhenti rupanya, tetapi mengapa langit masih muram saja?? Entahlah…

Tak apa…
Biarkan mentari bersembunyi hari ini. Asalkan dirimu tidak…
Biarkan saja langit muram hari ini. Asalkan senyum selalu merekah di wajahmu …
Dan biarkan saja mereka mengeluh. Asalkan kita tetap melangkah menekuni tujuan yang telah melekat…

Hidupmu hanya sekali. Jadi seharusnya tak ada alasan untukmu menyia-nyiakannya.
Waktumu ini terbatas. Jadi mengapa harus kahabiskan dengan hanya mengeluh saja?
Nikmatilah yang telah kau dapat. Dan berjuanglah untuk sesuatu yang ingin kau raih.

Uppsss.. Jangan lupa. Berbagilah kebahagian hari ini.

All the people smile in the same language. Jadi, tersenyumlah… 🙂 🙂 🙂

It’s better to late than never

Desember sudah akan berakhir ternyata. Hampir saja tak ada postingan di bulan penutup tahun ini…

Ahhh, ya. Saya ingat. Beberapa waktu terakhir, semangat saya hilang entah kemana. Mungkin ikut menguap terjemur oleh matahari Bontang yang sering kali bersinar begitu teriknya. Atau suasana yang melulu seperti itu, hingga membuat saya merasa bosan dan merasa tidak ada tantangan. Yang terakhir sepertinya lebih masuk akal… 🙂

Beberapa hari yang lalu, baru saya sadar ternyata indikator semangat saya sudah sangat mengenaskan. Bangun pagi mulai ogah-ogahan. Di kantor bawannya ngantuk dan bete. Dan selepas istirahat makan siang, rasanya saya ingin men-skip pukul 16.00-18.00 WITA. Yaa,, supaya saya tidak bertemu dengan kurcaci-kurcaci itu dan menyaksikan perang antar galaksi berlangsung yang akhirnya membuat mood saya semakin buruk saja. (Ya Allah, padahal dulu bertemu mereka adalah hal paling saya nantikan).

Okee… Lama sekali saya menyadarinya. But I think IT IS BETTER TO LATE THAN NEVER.  Saya tidak boleh terus seperti ini. Semangat ini harus di-recharge sesegera mungkin. Ahh, seandainya saya bisa pulang….

Tujuh bulan lagi, alternatif yang terlalu lama untuk menge-full-kan lagi semngat saya yang sudah berada pada stadium lanjut ini. Rasanya tak akan bisa menunggu selama itu. Dan akhirnya saya putuskan. Itu adalah cara saya. Memberikan reward pada diri sendiri. Egois memang. Ya, saya memang sedang ingin egois. Tapi tak ada salahnya kan. Toh, semangat saya bisa kembali terisi setelah itu. Paling tidak untuk sekian waktu ke depan… 🙂

ganbatte