Sekali lagi memahami

Entah seberapa kuat emosi anak itu tadi. Hingga membuat ragaku terjaga menyampaikan apa yang berhasil menelusup ke hati. Ahh, perasaan. Mengapa kau tak patuh saja kepada naluri yang lebih bisa terkendali??

Adalah sebuah kewajaran, ketika setiap orang membutuhkan apa itu yang disebut dengan “memahami perasaan”. Rasa diterima, rasa berarti, rasa dipercaya, berharga, dicinta, dirindukan serta seribu rasa bahagia lainnya. Juga saat ia sedang jatuh, saat ia sedang kecewa, saat sedih, marah, benci, putus asa, dan saat ia seharusnya bisa berbagi beban. Setiap orang ingin bahwa orang lain mau mengerti setiap bersit rasa yang hadir terselip mengiringi detak detik yang tak hentinya bersuara.

Jadi, bukankah tidak salah saat aku menginginkanmu diam di sampingku, sambil memasang telinga mendengar ribuan keluhanku, hingga segala rasa sesak yang kumiliki memudar tanpa bekas. Lalu akhirnya beberapa petak ruang hati dan pikiran ini mulai bersiap kembali untuk bisa diisi keluhan lain yang bisa selalu kubagi denganmu kapan pun aku mau. Jika memang begitu, bukankah aku hanya akan menjadi “si egois” yang selalu ingin dipahami tanpa memahami bahwa kamu pun berhak untuk tidak memahamiku. Ahhh, membingungkan.

Sekali lagi memahami. Sekali lagi mengerti. Sekali lagi mengalah meski di dada seakan meledak sebuah emosi yang rasanya tak bisa dibendung lagi. Lalu apakah perasaan seperti itu mempunyai arti???

Bukanlah sebuah kesabaran ketika masih ada batasnya. Mungkin ungkapan itulah yang masih membuat ego ini tidak sering berontak ketika harus ada sekian hal yang meminta untuk dipahaminya. Meskipun lelah. Meskipun ia berhak menuntut untuk dipahami juga. Meskipun ia tahu belum tentu mereka yang beruntung sadar bahwa ada perasaan yang dikalahkan hanya untuk memahami setiap hal yang mereka keluhkan. Sudahlah…

Tak akan ada sedikit pun keburukan untuk setiap waktu yang berlalu dengan bersedia memahami perasaan. Bahkan darinya banyak hal yang bisa diperoleh untuk dijadikan sebuah pelajaran berharga. Bahwa dari itu semua menahan ego supaya tidak menjadi beban orang lain adalah sebuah prinsip yang harus dijaga. Meskipun bukan berarti kita tak berhak lemah. Kita juga berhak untuk tidak selalu mengalah. Namun sekali lagi, ketika suatu saat kau merasa tak ada orang yang memahami apa yang sedang kau rasa, coba ingatlah apakah kau pun sudah mencoba memahami mereka?

Senyuuuuummmm

11.49 pm

Malam ini, aku ingin kau duduk di sini menemaniku.
Detik ini, aku ingin menumpahkan segala perasaan yang begitu ingin meluap dari benakku.
Aku ingin menceritakan apa saja yang sudah terjadi di sini kepadamu.
Aku ingin kau mengerti di saat tak ada lagi orang lain yang bisa memahamiku.
Saat ini… Aku membutuhkanmu…

Mungkin terbersit padamu sebuah pertanyaan yang menggelitik hati
Mengapa tidak kutuliskan saja semua itu di sini?
di ruang yang menjadi muara setiap saat hadir di hatiku sebuah emosi
Seperti emosi-emosi sebelumnya yang pernah ada
Merangkainya bait demi bait membuat fikirku perlahan terbuka
Aku akan hidup kembali meskipun kehadiranmu sekali lagi harus tertunda

Namun, aku tak ingin membahas itu semua.
Saat ini, yang kuinginkan hanyalah keajaiban bahwa kau ada.
Karena lebih daripada mengutarakan isi hati sebenarnya.
Melainkan nyamannya berbagi denganmu itulah yang sesungguhnya ingin kurasa.
Kau tahu kan, aku tak bisa mendapatkan itu semua dari dunia maya?

setitik pelita

Maaf, keegoisan mengalahkanku untuk kesekian kalinya.
Semoga tidak salah berharap di pekatnya malam tiba-tiba hadir setitik pelita
Meskipun sekejap, ada kesempatan bagiku melihat tongkat dan meraihnya
Untuk meneruskan langkah menuju cahaya yang sinarnya terasa lebih nyata