Random #10

Rasanya random sekali. Entah sebenarnya makhluk-makhluk macam apa yang sedang menghuni otakku saat ini. Bagaimanapun wujudnya, virus, bakteri, alien, atau bahkan mungkin gabungan dari ketiganya sepertinya mereka sedang mengadakan pesta. Alkohol bertebaran dimana-mana dan musik khas kaum sosialita berdebum memekakkan telinga. So Rawwrrr…

Hambar. Raga ini seakan bergerak sendirian. Merampungkan segala sesuatu hanya sebagai sebuah keharusan. Tanpa perasaan. Tak bernyawa. Entah kemana jiwa yang seharusnya bersamanya. Mungkin ia lelah dan sedang beristirahat. Mungkin ia menginginkan sebuah penghargaan. Bukan. Bukan penghargaan seperti yang kalian pikirkan.

Terkadang fase seperti ini memang singgah beberapa kali. Mencoba memeperdaya logika untuk menuruti emosi. Dan khilaf menjadi alasan sang manusia sebagai usaha pembelaan diri.

Undefinied #6

Menelusuri deretan kecil keyboard sang mesin lipat.
Merangkai sekian karakter, mewujudkan sebentuk bahasa.
Terjalin indah. Seindah dua hati yang tengah dimekari bunga-bunga kerinduan…

Jendela pun terbuka…
Mempersilakan angin malam hadir menyampaikan rindu..
Menerbitkan sebuah nuansa yang menuntun hati ke dalam fantasi – fantasi…
Ahhh… Hati….

Seirama melodi yang mengalun lirih menemani malam.
Melagukan kidung cinta yang tak jua purna.
Meskipun tanpa bintang dengan cantik kerlap – kerlipnya.
Meskipun tanpa bulan dengan indah pesona purnamanya.
Meskipun tanpa hujan….

Seperti menyusun potongan – potongan puzzle yang rumit.
Seperti menyusuri labirin yang berliku

To all my beloved students

Terlalu larut jika saat ini tangan dan pikiranku kupaksa untuk menggoreskan sketsa. Namun, mencoba untuk berbaring dan memejamkan mata pun rasanya akan percuma saja. Mungkin bukan alam mimpi yang akan kusapa. Melainkan imajinasi yang akhirnya akan mengajak alam pikiranku berkelana pada mereka.

Mereka, ya, mereka. Anak-anak remaja yang beberapa saat kemarin sempat mengisi hari-hariku di sana. Anak-anak remaja yang beberapa saat kemarin mampu menghadirkan tawa dan meneteskan air mata. Anak-anak remaja yang kadang membuatku merasa berarti sekaligus tidak berguna. Dan anak-anak remaja yang membangkitkan semangatku, selalu tersenyum, selalu bahagia demi mereka.

Beberapa pesan yang kuterima, entah secara spontan dari sang siswa maupun orang ketiga, membuatku beribu-ribu kali lebih kecewa. Haruskah hati perlu tersakiti untuk mengungkapkan bahwa kita saling menyayangi? Bahwa kita saling merasa sama-sama berarti? Yakin. Sungguh, aku tak tahu harus bagaimana. Mungkin benar. Keberartian itu akan terasa ketika jarak dan waktu mengambil alih tahta. Ketika kesempatan tak bisa begitu saja menuruti apa mau kita. Ketika sekali lagi, apa yang sebenarnya sama-sama menjadi keinginan harus luruh karena sebuah alasan yang tak pernah tunggal. Selalu jamak.

Ini bukan tentang masalah “aku tak ingin kembali lagi”. Namun, sekuat hati mencoba untuk memegang prinsip dan kepercayaan yang tak bisa terbeli. Bukan bermaksud tega mengorbankan dan mengecewakan. Akan tetapi mencoba konsisten menjaga kepercayaan. Dan ini tidaklah mudah.

Untukmu, semangat-semangatku…
Percayalah bahwa kesempatan yang kita miliki sebelumnya itu hadir karena rencana yang sudah digariskanNya. Lalu keadaan ini juga sebenernya memang sesuatu yang jauh dari apa yang kita kira. Jadi, mari kita sama-sama berdiri, mari kita sama-sama berlari. Mari kita buktikan bahwa beberapa kesempatan kemarin meninggalkan sesuatu yang cukup beberati. Dan mari kita wujudkan, bahwa kita masih bisa bersama meskipun tidak di sana lagi. Akan bahagia sekali ketika raga, hati, dan pikiran ini masih bisa mengabdi.

Untukmu, harapan-harapanku…
Memancarlah. Jangan biarkan awan-awan itu menghalangi sinarmu. Aku percaya, matahari akan terasa lebih cerah setelah hari hujan. Anggap saja seperti itu. Anggap saja mendung itu akan segera berlalu. Dan ketika saat itu tiba. Kita akan sama-sama tersenyum bahagia.

I did again

I did again… The most annoying thing. It is supposed to be done. But it still can not…

Seharusnya sebelumnya saya siapkan dulu naskah yang harus saya baca sebelum bertemu dengannya. Seharusnya sebelumnya saya persiapkan dulu daftar pertanyaan yang saya inginkan untuk dijawab olehnya. Dan seharusnya sebelumnya saya atur volume suara saya dulu untuk bisa maksimal beradu argumen dengannya.

Ahhh, ternyata memang saya yang terlalu lemah. Ternyata saya harus selalu terpaksa “menerima”. Dan ternyata lagi-lagi saya harus kalah. Sudah sering hati ini berteriak. “Sudah, saya tidak ingin mengalah lagi”. Sudah sering pula kalimat itu menyeruak “Oke, ini untuk yang terakhir kali”. Namun, ketika moment yang sama datang, ternyata semuanya terulang lagi.

#JulyWish… Semangat sudah siap sejak pagi ketika mata mulai terbuka. Menyambut bulan yang akan mengadirkan moment bahagia di hari penutupnya. Aahhhh,,, saat itu nggak akan lama. Oke siippp… Mari mulai  lagi menjemput rezeki. Namun rupanya, tidak setiap hal yang kita harapkan berjalan sempurna.

Mungkin memang saya yang mencari gara-gara. Mencari penjelasan dari orang yang merasa dirinya selalu benar itu ternyata percuma saja. Jelas-jelas mengganggu. Jelas-jelas menjengkelkan. Mengakui kesalahan saja tidak bisa (atau tidak mau). Apalagi minta maaf. Niatnya sih hanya ingin memperjelas keadaan saja. Supaya tidak harus menarik napas dalam-dalam ketika sesuatu mengharuskan untuk bertegur sapa. Tetapi mungkin memang beradu alasan bukan keahlian saya.

Finnaly, apa yang saya dapatkan. Bukan kondisi lebih baik seperti yang saya harapkan. Lebih buruknya adalah sakit hati yang malah dengan indahnya terasakan. Bodoh. Untuk apa pula sih repot-repot sok mencoba  memperbaiki keadaan? Toh mereka-mereka yang terlibat pun tidak mempunyai keinginan yang sejalan. Masih menikmati kerandoman seakan tak terjadi apa-apa. Ahh, iya. Mungkin saya yang terlalu menganggap rumit keadaan. Bisanya sih begitu…

Random #7

Satu hari lagi terlewati. Detik, menit, lagi hari akhirnya samapai juga menyapa Juni. Melewati sekian waktu yang terasa begitu biasa saja, jika tidak bisa dikatakan menjemukan. Menorehkan sekian cerita yang sepertinya tidak begitu bermakna. Bukan cerita drama mengenaskan memang. Namun tak layak juga disebut sebagai sekuel manis. Karena entah mengapa, yang muncul di setiap episodenya adalah adegan yang mengilustrasikan keegoisan, iri hati, gengsi, lalu konflik yang akan menampilkan adegan saling lempar tanggung jawab sebagai ending yang menggantung. Tak ada solusi. Hanya kebisuan yang masing-masing mengisyaratkan bahwa “Hanya akulah orang paling normal di sini”. Begitu seterusnya.

Dan akhir-akhir ini, harapan untuk bisa memperbaiki keadaan pun sepertinya semakin sulit saja. Belum. Tak terpikirkan terlalu muluk ingin memperbaiki sebenarnya. Mungkin lebih tepatnya mencoba bertahan untuk tidak ikut masuk dalam jalinan benang kusut yang sepertinya sulit untuk diurai. Apalagi mencoba menguntainya lagi menjadi sebuah tenun kebersamaan yang erat hingga bisa tetap kuat menopang sebuah keberadaan tempat bernaung yang sama.

Hingga setiap hari pun, mencoba untuk menerbitkan sebuah senyuman terasa begitu berat ketika wajah pertama yang tersaksikan mengisyaratkan beribu keluhan yang tak ada habisnya. Ketika suara pertama yang terdengar bukan sapaan manis, namun decak kesal yang selalu saja membuat telinga risih mendengarnya. Seakan tak pernah belajar dari kegagalan sebelumnya. Mungkin senyum ini terlalu memprihatinkan jika diibaratkan. Seperti karung basah yang tiba-tiba dijatuhkan tanpa rasa bersalah memadamkan sepercik api kecil yang dengan susah payah berusaha dinyalakan. Ahhh… Biarkan saja berlebihan.

Jadi, mohon maaf jika ego lebih sering terprioritaskan setiap hari. Semata hanya ingin mengurangi bias negatif yang terlalu sayang jika hanya diam saja membiarkan diri mengikuti skenario yang terus menerus diulang untuk menampilkan kekacauan setiap episodenya. Yang seharusnya tidak perlu tertayangkan ketika yang menjadi alasan keberadaan ini adalah menjalankan kewajiban yang memang seharusnya dijalankan. Dan bukan iri hati maupun gengsi. Lalu setelah itu, harapan untuk merajut kembali lembaran-lembaran kebersamaan pun semoga bukan hal musatahil lagi.

What a “rawrrrr” day…

Apa sih ini? Ada apa dengan seharian tadi? Dengan hari Jum’at yang selalu ku nantikan? Dengan waktu? Dengan keadaan? Ada apa dengan malam ini? Dengan mereka? Juga… Ada apa dengan ….. ku…..???

Pagiku seolah menjadi penanda awal ke-random-an yang dengan sukses membuat kepalaku berdenyut sampai saat ini. Tak seperti biasanya. Entah kenapa jarum jam di kamarku dengan seenaknya memasangkan diri di angka 06.20 WITA ketika mataku tak sengaja terbuka untuk yang kedua kalinya di pagi yang damai tadi. Alhasil, pagi yang seharusnya selalu ku tunggu, yang membawa udara baru, yang membangkitkan semangat baru untuk memulai hari istimewa yang kunantikan, berubah menjadi pagi yang kacau, random, berantakan. Rawwrrrr….

Akhirnya setelah membersihkan diri sekenanya, aku baru ingat untuk menghubungi rekan yang seharusnya datang 5 menit lagi untuk menjemputku menjalankan tugas negara bagian Bontang wilayah Jalan Bhayangkara no. 16 A. Akhirnya dengan nada panik kuminta rekanku itu untuk memberikan injury time supaya aku tidak tampil memalukan di TKP nanti (baca: berdandan).

Lagi-lagi sekenanya. Yang ada di pikiranku saat itu adalah nanti pasang senyum semanis mungkin. Supaya aura kehidupan yang masih belum lengkap tmenyatu dengan ragaku sebisa mungkin tersamarkan. Hmmmm….

Dan setelah merasa percaya diri bahwa performance pagi ini tidak seberantakan hati dan pikiran yang masih belum rapi sejak bangun tadi, akhirnya tugas negara pun kita jalankan dengan sukses. Tak ada masalah…

Tapi ternyata tidak sesukses untuk saat-saat setelahnya. Suasana yang…. -Ahhh. Harus dengan apa aku menyebutnya- membuat hati dan pikiranku yang perlahan mulai terbenahi sedikit demi sedikit menjadi kacau lagi. Seraut wajah suram yang setiap hari kusaksikan, entah kenapa hari ini terasa berlipat-lipat lebih menjengkelkan… Bisa tidak sih itu jangan ditekuk melulu mukanya. . .

Lalu entah kenapa tiba-tiba badanku pun seperti tak ingn kalah memberikan sensasi kekacauan. Tubuh gemetar, mata berkunang-kunang, dan kepala rasanya ingin kuperas sekencang-kencangnya hanya supaya terasa lebih ringan. Mungkin efek kopi yang kuharap bisa mengobati hawa dingin setelah bercengkerama sepagian dengan udara Bontang pasca hujan Subuh tadi… Ahhh… Ada apa ini???

Aku yang tidak pernah bisa menyembunyikan sebuah kepanikan, kekacauan, random dan istilah sejenisnya. Tidak terlihat secara eksplisit memang. Tapi efeknya bisa membuat segala hal yang aku lakukan menjadi ikut kacau. Tidak sesuai yang kuharapkan…

Seperti sore dan malam ini. Lagi-lagi kunikmati sensasi berkejar-kejaran dengan waktu. Sesuatu yang tidak akan pernah terasa menyenangkan bagi siapa pun. Sungguh…
Dan untuk malam ini rasanya tak ada lagi yang bisa kutulis untuk mengilustrasikan moment yang semoga merupakan akhir dari ke-random-an yang mewarnai hariku ini.