Setiap akhir adalah permulaan yang baru

Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, saya selalu menyukai tempat baru, orang-orang baru, dan saya menyukai suasana baru. Bukan berarti saya bisa santai-santai saja ketika menghadapi apa yang namanya, ehemm, ‘perpisahan’. Entah kenapa mendengar kata itu diucapkan, rasanya hati ini seperti teriris (hahaha… Lebay). Namun memang bukankah demikian? Hal terakhir yang diinginkan manusia adalah mendengar ucapan perpisahan. Karena itu artinya, hal-hal yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan akan tiba-tiba hilang dan tidak bisa lagi dirasakan. Ahhh… aku membencinya.

Sulit sekali menerima, bahwa esok kita sudah tidak bisa bersama. Dan itu adalah kata-kata yang selalu bergema ketika perpisahan dengan percaya dirinya sekali lagi hadir menyapa. Bahkan mungkin, ketika eksekusi akhirnya tengah terjadi, rasanya tidak lebih menyakitkan seperti hari-hari sebelum detik penentuan itu terlewati. Paling tidak,hati tidak lagi terisi harapan kosong, bahwa perpisahan yang akan pasti terlintas didepan mata hanyalah sebuah rencana bohong.

Sudahlah, mari kita lihat apa hikmah yang dibawanya? Yaa… Bukankah kalimat sakti itu yang akan menjadi satu-satunya penghibur diri, bahwa hanya dengan perpisahan, hidup tidak lantas berhenti?

Setiap akhir adalah permulaan yang baru. Entah dari buku mana saya menemukan kata-kata penyejuk hati itu. Yang jelas, meskipun sederhana, kalimat itu membuat saya percaya, bahwa akhir memberikan pelajaran kepada kita untuk memperbaiki segalanya. Mengingatkan untuk tidak terlena dengan kenyamanan. Menjadi alasan untuk lebih banyak mengenal, lebih banyak belajar tentang segala hal.

Lihatlah lebih dekat

…………………..
Mengapa bintang bersinar?

Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lhat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti….
…………………….

Tugas kantor sudah rampung kukerjakan beberapa jam lalu. Namun winamp-ku masih standby rupanya. Tak sadar ia mengusikku. Memperdengarkan suara merdu Sherina saat masih kanak-kanak dulu. Lihatlah Lebih Dekat. Lagu kesayangan yang menjadi pengobat sepi paling mujarab. Sekali lagi alam sadarku terhipnotis olehnya.

Tentang perpisahan, tentang sahabat, tentang cara pandang kehidupan…

Danbo

Selalu….

Saat-saat menjelang perpisahan adalah saat yang lebih sulit dilewati daripada perpisahan itu sendiri.

Tentu saja. Karena aku pernah mengalaminya. Karena aku telah berulangkali mengalaminya. Dan perasaan itu selalu ada setiap perpisahan datang.

Bagaimana jika tidak ada kamu?
Bagaimana jika mereka tidak sepertimu?
Bagaimana jika yang kubutuhkan hanya kamu?

Selalu prasang-prasangka serupa yang memenuhi pikiran ketika angin yang membawa aroma perpisahan tengah berhembus. Padahal sebenarnya, setelah waktu eksekusi itu terlewati, segalanya akan baik-baik saja. Mungkin memang akan ada “sedikit” yang hilang. Tetapi kadang tidak hanya “sedikit”. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang begitu berarti. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang menjadi sebuah alasan. Hingga rasanya membuka hati untuk sesuatu yang baru tak akan pernah terasa lebih baik. Tidak seperti syair lagu yang terdengar indah ketika diucapkan seirama melodinya…

Apalagi untuk mereka-mereka yang berlabel “keluarga”, “sahabat”, “kekasih“… Akan terasa begitu sulit. Membuka hati pada hal baru adalah bahasa klise untuk istilah merelakan. Mengikhlaskan. Kita tak akan pernah bisa bangkit jika “kacamata kuda” yang masih melekat erat itu tak jua dilepaskan. Seperti sepenggal lagu di awal. Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti. Semoga….

happy_danbo___by_prihantokoh-d2yc8bb

images