Malam ini milikku sendiri

Syahdunya River Flows in You dari dentingan piano Yiruma mengawali malam indah ini . Perlahan mengikuti, romantisnya A Whole New World OST dari Kisah seribu satu malam Aladin, A Hundred Years milik Five for Fighting, Rahasia Hatinya Element  hingga Buat Aku Tersenyum lantunan Sheila on 7 yang tak pernah bosan kudengarkan. Bahkan Landon Pigg, Maroon 5, Creed, Maher Zain, Padi, sampai Wayang yang sekarang sudah tak tahu kabarnya pun ikut hadir melengkapi playlistku dengan irama-irama. Bergantian memanjakan telinga hingga alunan nada-nada ini akan berhenti bersuara.

Sedangkan mataku, sedang asyik menikmati kata-kata sakti yang berhasil menarik kedua sudut bibir ini.
Melengkungkan senyuman hanya untuk diriku sendiri.
Untuk. Diriku. Sendiri.

Lalu apa yang alam sadar ini pikirkan? Aku tak akan membiarkannya terlalu jauh berlarian. Mungkin hanya tentang matahari, bumi, malam, dan hujan. Atau beberapa filosofi lain yang tak sengaja mendekat lalu terhanyut masuk kedalam pusaran. Tak apa. Malam ini milikku sendiri. Tak ada yang bisa  mengharuskan apa yang ingin dan tak ingin kupikirkan saat ini. Kalau mau, silakan saja mencoba untuk mengajukan distruksi. Namun, akhirnya kau akan bersiap-siap untuk menerima segala konsekuensi. Upppsss…

Beberapa memori yang sengaja tersisihkan, malam ini boleh berbahagia menyambut saat keberartiannya. Beberapa kata yang belum sempat tereja, malam ini boleh tersenyum mengiringi larik-larik yang perlahan akhirnya tersketsa. Beberapa keheningan yang beberapa saat sebelumnya selalu tertunda, malam ini boleh bersukacita merayakan saat-saat kemerdekaan yang tak setiap waktu didapatkannya.

Malam ini milikku sendiri. Ditemani secangkir kopi dingin yang tak tersentuh sejak tadi. Aku, dirimu, melodi ini, dan setiap inci materi yang pernah kutemui menjadi alasan yang sah untuk jari-jariku yang sedang asik menari di atas deretan karakter mesin lipat ini. Menikmati setiap frasa ajaib yang terwujud, entah itu  bernilai atau hanya sekedar jejeran kata-kata tak bermakna. Menjadi pelengkap malam seperti ini yang sayangnya terasa begitu langka.

Selamat malam kusampaikan kepada hati yang tengah menikmati nuansa serupa. Berbahagialah, karena malam ini adalah milikmu sepenuhnya. Berbahagialah. Karena begitu banyak alasan bagimu untuk menikmati waktu tak yang akan pernah sama. Berbahagialah. Karena kau mempunyai kesempatan, yang mungkin tak semua orang bisa beruntung mendapatkannya.

Kidung hujan

Malam ini hujan turun lagi. Lebih dari sekedar rintikan, mengalun teratur di luar jendela. Bertempo lambat namun sesekali menghentak. Seperti sebuah melodi yang sengaja diciptakan oleh sang composer.

Sempat beberapa saat alunannya terhenti. Seakan memberikan waktu kepadaku untuk merajut kata demi kata melukiskan kesyahduannya. Seakan memberikan ruang untukku menuliskan beribu rasa yang jatuh bersamanya.

hujan

Perlahan terbitlah irama yang lain. Irama yang sebenarnya. Syair-syair cinta, juga melodi-melodi rindu. Mengalun merdu dari sebuah kotak kecil yang setia menemaniku. Bersahutan mengisi pikiran mencoba mengalihkan alam sadar ini. Hingga akhirnya raga dan batin pun terkuasai.

Entah kapan hujan akan berhenti. Ku harap tidak dalam waktu dekat ini.
Karena selalu saja alasan yang sama membuatku menyukainya.
Menyukai merdu rintikannya. Menyukai dingin suasananya.
Lebih penting dari itu adalah, aku selalu menyukai nuansa yang ia bawa
Nuansa yang nyaman. Memberikan sebentuk ketenangan yang sayang untuk dilewatkan.
Nuansa yang syahdu. Seakan di setiap tetesnya terselip bisikan-bisikan rindu.
Dan akan terus seperti itu…

… and the way the rain comes down hard, is how i feel inside …

Lihatlah lebih dekat

…………………..
Mengapa bintang bersinar?

Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lhat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti….
…………………….

Tugas kantor sudah rampung kukerjakan beberapa jam lalu. Namun winamp-ku masih standby rupanya. Tak sadar ia mengusikku. Memperdengarkan suara merdu Sherina saat masih kanak-kanak dulu. Lihatlah Lebih Dekat. Lagu kesayangan yang menjadi pengobat sepi paling mujarab. Sekali lagi alam sadarku terhipnotis olehnya.

Tentang perpisahan, tentang sahabat, tentang cara pandang kehidupan…

Danbo

Selalu….

Saat-saat menjelang perpisahan adalah saat yang lebih sulit dilewati daripada perpisahan itu sendiri.

Tentu saja. Karena aku pernah mengalaminya. Karena aku telah berulangkali mengalaminya. Dan perasaan itu selalu ada setiap perpisahan datang.

Bagaimana jika tidak ada kamu?
Bagaimana jika mereka tidak sepertimu?
Bagaimana jika yang kubutuhkan hanya kamu?

Selalu prasang-prasangka serupa yang memenuhi pikiran ketika angin yang membawa aroma perpisahan tengah berhembus. Padahal sebenarnya, setelah waktu eksekusi itu terlewati, segalanya akan baik-baik saja. Mungkin memang akan ada “sedikit” yang hilang. Tetapi kadang tidak hanya “sedikit”. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang begitu berarti. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang menjadi sebuah alasan. Hingga rasanya membuka hati untuk sesuatu yang baru tak akan pernah terasa lebih baik. Tidak seperti syair lagu yang terdengar indah ketika diucapkan seirama melodinya…

Apalagi untuk mereka-mereka yang berlabel “keluarga”, “sahabat”, “kekasih“… Akan terasa begitu sulit. Membuka hati pada hal baru adalah bahasa klise untuk istilah merelakan. Mengikhlaskan. Kita tak akan pernah bisa bangkit jika “kacamata kuda” yang masih melekat erat itu tak jua dilepaskan. Seperti sepenggal lagu di awal. Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti. Semoga….

happy_danbo___by_prihantokoh-d2yc8bb

images