210614@149

Secangkir cokelat hangat menemaniku menyambut matahari
Gemuruh roda-roda di luar jendela, menandakan pagi telah hadir sekali lagi
Menjanjikan kehidupan bagi insan yang tak lelah tersenyum 
Berterima kasih atas kesempatan bahwa ia masih bisa terjaga
Meskipun masih ingin terlelap pada indanya mimpi yang ia rasakan sebelumnya

Harapan yang tergantung seperti embun di rerumputan
Seperti merdu kicauan burung di pepohonan
Seperti nyaring teriakan penjual bubur yang tak lelah berjalan
Yang hanya hadir ketika pagi datang
Yang akan segera berlalu ketika siang mulai beranjak menggantikan

Selamat pagi kubisikkan kepada nama yang terukir di hati
Semoga setiap detik yang kita lewati tak akan sia-sia pergi begitu saja
Semoga setiap menit yang kita lalui menjadi jeda,
untuk bisa memperbaiki kesalahan kekhilafan sebelumnya

Semoga senyum yang menenangkan, kasih yang terucap pelan,
Mampu membawa kita hadir bersama dalam sebuah dunia sederhana
Dunia kebahagiaan

Laut, pagi, matahari

Good morning, dear. Sedang apa kau pagi ini? apakah dirimu sudah terbangun dari nyamannya peraduan? Apakah engkau sudah siap mencicipi pahit manisnya kehidupan? sekali lagi…

Dear, taukah kau apa yang sedang kulakukan saat ini? Hahaha, pertanyaan bodoh ya. Pasti kau akan berkata. “Oke fine. Aku memang cerdas dan tampan, tapi bukan berarti aku paranormal.” Aaahh, dirimu memang seperti itu.

Aku sedang duduk di sebuah bangku kayu di salah satu ujung kota tempat tinggalku saat ini. Dan aku sedang menghirup udara dalam-dalam menikmati hangatnya sinar mentari pagi ini. Terbit dari balik jajaran tumbuhan bakau menggantikan bulan dan bintang yang telah purna menjalankan tugasnya. Aku tau kau cerdas, tumbuhan bakau berarti pantai, laut… Ya, laut.Kau mungkin tak akan menerima begitu saja dan akan mati-matian menyanggahku. Di kota? Ada laut? Heii, tak ingatkah dirimu bahwa baru saja kubilang kau cerdas. Tentu saja ada. Kota bukan berarti macet dan polusi. Kau belum menyaksikannya sendiri. Kotaku yang begitu romantis ini.

Dear, mungkin ini terlalu imajinatif. Tapi sungguh, saat ini aku ingin kau berada di sudut ruang dan waktu yang sama denganku. Apa artinya? Ahh, silakan dipikir sendiri saja. Sepertinya sia-sia saja aku bertanya. Tentu saja kau tau. Ya, aku ingin kau ada di sini. Menemaniku. Ketika aku menengokkan pandangan mataku sedikit ke kiri, jauh di depan sana, sederetan rumah apung menyita perhatianku. Dan sampai saat ini aku tak pernah bisa menyatukan titik-titik yang pernah kusinggahi itu. Baiklah, aku memang terlalu rumit. Lalu ketika kutengokkan kedua mataku ke sisi kanan, maka akan kutemukan jajaran pohon bakau yang selalu bisu, Seakan hanya ikhlas untuk sekedar “ada”. Menjemput pagi untuk mengantarkan matahari kembali ke peraduannya. sementara di hadapanku, entah selat entah samudera menjanjikan kedamaian yang tak pernah ingin kutinggalkan.

Aku menyerah kepada waktu. Aku bangkit, kuputar langkahku menyusuri tepian rawa yang mengantarkanku pulang. Dan sekali lagi ingin segera memori ini kuabadikan.

Tahap 6 BSD