Undefinied #6

Menelusuri deretan kecil keyboard sang mesin lipat.
Merangkai sekian karakter, mewujudkan sebentuk bahasa.
Terjalin indah. Seindah dua hati yang tengah dimekari bunga-bunga kerinduan…

Jendela pun terbuka…
Mempersilakan angin malam hadir menyampaikan rindu..
Menerbitkan sebuah nuansa yang menuntun hati ke dalam fantasi – fantasi…
Ahhh… Hati….

Seirama melodi yang mengalun lirih menemani malam.
Melagukan kidung cinta yang tak jua purna.
Meskipun tanpa bintang dengan cantik kerlap – kerlipnya.
Meskipun tanpa bulan dengan indah pesona purnamanya.
Meskipun tanpa hujan….

Seperti menyusun potongan – potongan puzzle yang rumit.
Seperti menyusuri labirin yang berliku

Wahai mata, terpejamlah

Seharusnya mata ini sudah terpejam sejak tadi. Seharusnya bunga tidur sudah menyapa untuk menemani menyamankan diri. Bukan sengaja untuk bandel sebenarnya. Namun, memang mungkin efek obat yang terlalu lama bereaksi. Juga pandangan mata yang belum ingin meninggalkan dunia. Atau pikiran? Dan akhirnya, karena sungguh begitu susahnya memaksa raga untuk menikmati peraduan, saya putuskan untuk sejenak menengok lapak kesayangan. Sekedar iseng mencari cara supaya mata segera terhipnotis oleh deretan kata yang terpantul olehnya.

Ahhh, iya. Saya lupa kalau ada proyek yang seharusnya mulai saya sentuh lagi. Mumpung waktu banyak memberikan kesempatan bagi saya untuk mulai berekspresi. Mumpung malam tak ada kewajiban yang harus dijalankan dan sepenuhnya bisa saya monopoli. Dan mumpung sebuah karakter masih tersimpan utuh rapi hingga saat ini. Belum terkikis. Belum usang.

Jadi, untuk itulah. Saya benar-benar tidak ikhlas jika sekelumit cerita kemarin terlupakan begitu saja. Lalu apalagi cara yang harus saya lakukan selain tentu saja membingkainya? Hanya supaya ia tetap ada. Supaya ia tetap bisa saya temukan ketika suatu saat saya ingin lagi menikmati alur yang ia bawa. Dan tentu saja, merasakan kembali adrenalin saya terpacu untuk beberapa scene tertentu yang mengisi setiap episodenya.

Okee… Semangat. Paling tidak setelah tubuh ini puas oleh hak yang mau tidak mau harus saya berikan baginya untuk beristirahat sejenak. Yuuppp,, Mungkin memang sejak tadi saya diwajibkan untuk membuka notebook tercinta. Karena mata ini akhirnya sudah hampir menyerah juga ternyata. Itu sudah.. Markidur yuuukk… Good night. Have a sweet dream. 🙂

140413@149

Apa kabar ya bintang-bintangku di langit Pelabuhan Lhok Tuan malam ini? Apakah masih sama seperti hari kemarin? Bersebelas saja, seperti terakhir kali aku menghitungnya? Atau sudah bertambah banyak kah? Jangan-jangan malah menghilang sudah semuanya. Tersembunyi di balik awan yang sibuk berarak kesana kemari.

Menerawang ke atas. Ke hamparan langit Bontang yang beranjak gelap. Pun melemparkan pandangan jauh ke depan. Ke birunya lautan yang perlahan menghitam. Semuanya indah. Seindah kerlap-kerlip bintang yang muncul menghilang menghiasi langitnya. Seindah kerlap-kerlip bintang laut yang timbul tenggelam di tepian samudera.

Ahh… Rasanya tak ingin beranjak sebenarnya. Namun ternyata masih ada yang menakjubkan setelah itu. Ketika sang raja siang telah sempurna bersemayam di peraduannya di balik cakrawala, sebuah panorama lain Bontang pun seakan tak pernah ada habisnya. Keeksotisan pemandangan malam Pupuk Kaltim membuat mata tak ingin beralih pada yang lain. Lagi-lagi gemerlapnya cahaya memberikan sensor-sensor menuju kepala yang akhirnya bisa diterjemahkan hanya dengan sebuah kata. Mengagumkan. 🙂

 Dan aslinya lebih menakjubkan. :)

Pesona Cahaya Malam Pupuk Kaltim

Just another post

Bener – bener deh… Panas sekali Bontang malam ini. Atau jangan – jangan cuma di wilayah Jl. Gunung Dieng, BSD aja?? Tepatnya di kamar kosku. Hohoho… Padahal di luar hujan lagi asik – asiknya berloncatan di atas atap rumah tetangga sebelah. Sekedar info, kamar kosku ada di lantai dua. Sekali buka jendela, yang terlihat adalah atap rumah tetangga. >.<

Mmmm… Maaf ya, Shopie. Malam ini aku sedang tidak ingin mendengar kisah – kisahmu. Ternyata sang mesin lipat (pinjem istilahnya ya, mb Dian. hehe) lebih menarik perhatianku untuk menghabiskan malam. Jangan marah ya. Nanti aku sempatkan juga deh, masuk ke duniamu barang satu dua halaman sebelum tidur. 🙂

Apa yaaa…???
Sebenernya bingung juga apa yang mau ditulis saat ini. Rasanya sejak kemarin di kepala penuh ide ini itu. Tapi sekarang mengapa tiba – tiba menguap entah kemana. Lalalala…

Lalala??? Upss. jadi inget seseorang. Selamat jalan. Semoga sukses di tanah kelahiran ya, Pak Ahmad. Semangat selalu. Titip cium buat Rendra. 😀

Oiya. By the way. Selamat untuk teman – teman seperjuangan di UNS. Khususnya buat P. Kimia 08 yang kemarin abis menjalani prosesi sakral bernama WISUDA. Gimana rasanya berdesak – desakan antri di audit buat salaman sama Pak PR??? Hihihi… Selamat yaa.. Semoga ilmu yang diperoleh selama kita belajar di Gedung D tercinta bersama dosen – dosen tercinta bisa berguna untuk kehidupan kita kelak. Semoga sukses untuk apa pun yang dicita-citakan.
Sahabat – sahabatku tersayang, Heny, Desy, Dian dan Lina. Selamat yaa. Akhirnya perjuangan kalian berbuah manis. Jadi inget perjuangan dulu. Antri dosen, revisi seabrek, berangkat pagi pulang sore. Mungkin nanti itulah yang akan menjadi cerita untuk anak cucu nanti ya, kawan… Buat Amy sama Nisa. Ayooo semangat. Semoga periode selanjutnya, kita bisa melihat kalian mengenakan toga itu juga. 🙂

Ini saja dulu. Ide-ide di pikiranku sedang bercabang – cabang rupanya. Semuanya meminta untuk di print out ke dunia nyata. Semoga bisa. Dan semoga tidak mengecewakan… Lalala… 😀

…amnesia…

Kopiku terasa begitu manis malam ini. Memang kombinasinya yang pas atau mungkin karena hal lain. Entahlah…

Berlebihan rasany. Akhirnya kafein kujadikan senjata untuk menopangku menghabiskan hari ke empat Februari. Padahal kaki, tangan dan mata seolah sepakat berkoalisi untuk menuntun si empunya menjemput mimpi. Namun ternyata hati yang memenangkannya. Ia tak rela hari ini berlalu begitu saja..

Dulu kami menyebut ini sebagai “amnesia”. Yaa, sengaja diplesetkan memang. Tak taunya sampai sekarang itu menjadi brand saat kita tidak bisa (atau tidak ingin) tidur pada malam hari. Ada beberapa alasan. Tugas adalah salah satunya. Namun hati, selalu menjadi alasan yang paling mendominasi. Entah apapun yang ia rasakan….