Random #7

Satu hari lagi terlewati. Detik, menit, lagi hari akhirnya samapai juga menyapa Juni. Melewati sekian waktu yang terasa begitu biasa saja, jika tidak bisa dikatakan menjemukan. Menorehkan sekian cerita yang sepertinya tidak begitu bermakna. Bukan cerita drama mengenaskan memang. Namun tak layak juga disebut sebagai sekuel manis. Karena entah mengapa, yang muncul di setiap episodenya adalah adegan yang mengilustrasikan keegoisan, iri hati, gengsi, lalu konflik yang akan menampilkan adegan saling lempar tanggung jawab sebagai ending yang menggantung. Tak ada solusi. Hanya kebisuan yang masing-masing mengisyaratkan bahwa “Hanya akulah orang paling normal di sini”. Begitu seterusnya.

Dan akhir-akhir ini, harapan untuk bisa memperbaiki keadaan pun sepertinya semakin sulit saja. Belum. Tak terpikirkan terlalu muluk ingin memperbaiki sebenarnya. Mungkin lebih tepatnya mencoba bertahan untuk tidak ikut masuk dalam jalinan benang kusut yang sepertinya sulit untuk diurai. Apalagi mencoba menguntainya lagi menjadi sebuah tenun kebersamaan yang erat hingga bisa tetap kuat menopang sebuah keberadaan tempat bernaung yang sama.

Hingga setiap hari pun, mencoba untuk menerbitkan sebuah senyuman terasa begitu berat ketika wajah pertama yang tersaksikan mengisyaratkan beribu keluhan yang tak ada habisnya. Ketika suara pertama yang terdengar bukan sapaan manis, namun decak kesal yang selalu saja membuat telinga risih mendengarnya. Seakan tak pernah belajar dari kegagalan sebelumnya. Mungkin senyum ini terlalu memprihatinkan jika diibaratkan. Seperti karung basah yang tiba-tiba dijatuhkan tanpa rasa bersalah memadamkan sepercik api kecil yang dengan susah payah berusaha dinyalakan. Ahhh… Biarkan saja berlebihan.

Jadi, mohon maaf jika ego lebih sering terprioritaskan setiap hari. Semata hanya ingin mengurangi bias negatif yang terlalu sayang jika hanya diam saja membiarkan diri mengikuti skenario yang terus menerus diulang untuk menampilkan kekacauan setiap episodenya. Yang seharusnya tidak perlu tertayangkan ketika yang menjadi alasan keberadaan ini adalah menjalankan kewajiban yang memang seharusnya dijalankan. Dan bukan iri hati maupun gengsi. Lalu setelah itu, harapan untuk merajut kembali lembaran-lembaran kebersamaan pun semoga bukan hal musatahil lagi.

What a “rawrrrr” day…

Apa sih ini? Ada apa dengan seharian tadi? Dengan hari Jum’at yang selalu ku nantikan? Dengan waktu? Dengan keadaan? Ada apa dengan malam ini? Dengan mereka? Juga… Ada apa dengan ….. ku…..???

Pagiku seolah menjadi penanda awal ke-random-an yang dengan sukses membuat kepalaku berdenyut sampai saat ini. Tak seperti biasanya. Entah kenapa jarum jam di kamarku dengan seenaknya memasangkan diri di angka 06.20 WITA ketika mataku tak sengaja terbuka untuk yang kedua kalinya di pagi yang damai tadi. Alhasil, pagi yang seharusnya selalu ku tunggu, yang membawa udara baru, yang membangkitkan semangat baru untuk memulai hari istimewa yang kunantikan, berubah menjadi pagi yang kacau, random, berantakan. Rawwrrrr….

Akhirnya setelah membersihkan diri sekenanya, aku baru ingat untuk menghubungi rekan yang seharusnya datang 5 menit lagi untuk menjemputku menjalankan tugas negara bagian Bontang wilayah Jalan Bhayangkara no. 16 A. Akhirnya dengan nada panik kuminta rekanku itu untuk memberikan injury time supaya aku tidak tampil memalukan di TKP nanti (baca: berdandan).

Lagi-lagi sekenanya. Yang ada di pikiranku saat itu adalah nanti pasang senyum semanis mungkin. Supaya aura kehidupan yang masih belum lengkap tmenyatu dengan ragaku sebisa mungkin tersamarkan. Hmmmm….

Dan setelah merasa percaya diri bahwa performance pagi ini tidak seberantakan hati dan pikiran yang masih belum rapi sejak bangun tadi, akhirnya tugas negara pun kita jalankan dengan sukses. Tak ada masalah…

Tapi ternyata tidak sesukses untuk saat-saat setelahnya. Suasana yang…. -Ahhh. Harus dengan apa aku menyebutnya- membuat hati dan pikiranku yang perlahan mulai terbenahi sedikit demi sedikit menjadi kacau lagi. Seraut wajah suram yang setiap hari kusaksikan, entah kenapa hari ini terasa berlipat-lipat lebih menjengkelkan… Bisa tidak sih itu jangan ditekuk melulu mukanya. . .

Lalu entah kenapa tiba-tiba badanku pun seperti tak ingn kalah memberikan sensasi kekacauan. Tubuh gemetar, mata berkunang-kunang, dan kepala rasanya ingin kuperas sekencang-kencangnya hanya supaya terasa lebih ringan. Mungkin efek kopi yang kuharap bisa mengobati hawa dingin setelah bercengkerama sepagian dengan udara Bontang pasca hujan Subuh tadi… Ahhh… Ada apa ini???

Aku yang tidak pernah bisa menyembunyikan sebuah kepanikan, kekacauan, random dan istilah sejenisnya. Tidak terlihat secara eksplisit memang. Tapi efeknya bisa membuat segala hal yang aku lakukan menjadi ikut kacau. Tidak sesuai yang kuharapkan…

Seperti sore dan malam ini. Lagi-lagi kunikmati sensasi berkejar-kejaran dengan waktu. Sesuatu yang tidak akan pernah terasa menyenangkan bagi siapa pun. Sungguh…
Dan untuk malam ini rasanya tak ada lagi yang bisa kutulis untuk mengilustrasikan moment yang semoga merupakan akhir dari ke-random-an yang mewarnai hariku ini.