Selamat pagi cinta

Selamat pagi cinta.
Hati siapa yang saat ini beruntung tengah engkau sapa
Dimana dan seperti apa?
Entahlah. Kau suka sekali hadir di saat-saat tak terduga.
Membuat jantungku berdetak lebih cepat seperti akan melompat jatuh ke dalam jurang asmara.
Tanpa tahu apakah akan ada Arjuna yang sigap menyelamatkan hatiku lalu berakhir bahagia selamanya.
Atau sia-sia saja terjatuh hingga di dasar dengan guratan-guratan luka,
yang memerlukan waktu sekian lama untuk dapat memulihkannya.

Mungkin tak ada kata yang lebih menarik dituliskan selain CINTA.
Mungkin tak ada sesuatu yang lebih indah untuk dijabarkan selain HATI.
Menyimak kisah seseorang tak sama dengan mengalaminya sendiri.
Namun ketika itu adalah sebuah perasaan cinta yang tulus dari hati,
keduanya akan sama-sama membuat perhatianmu utuh tak rela untuk terbagi. 

Pagi ini cinta sekali lagi berhasil singgah menyapa hatiku.
Menabuh rasa yang terwujud dalam debaran-debaran jantung bergemuruh tak menentu.
Aku menyukainya.
Sensasi yang terasa lebih nyata daripada sekedar rayuan gombal semata.
Hanya sebatas sapaan, tulisan, atau sekedar pandangan mata.
Hal-hal sesederhana itu memacu denyut nadiku berimama dengan tempo lebih cepat dari biasanya. 

11.49 pm

Malam ini, aku ingin kau duduk di sini menemaniku.
Detik ini, aku ingin menumpahkan segala perasaan yang begitu ingin meluap dari benakku.
Aku ingin menceritakan apa saja yang sudah terjadi di sini kepadamu.
Aku ingin kau mengerti di saat tak ada lagi orang lain yang bisa memahamiku.
Saat ini… Aku membutuhkanmu…

Mungkin terbersit padamu sebuah pertanyaan yang menggelitik hati
Mengapa tidak kutuliskan saja semua itu di sini?
di ruang yang menjadi muara setiap saat hadir di hatiku sebuah emosi
Seperti emosi-emosi sebelumnya yang pernah ada
Merangkainya bait demi bait membuat fikirku perlahan terbuka
Aku akan hidup kembali meskipun kehadiranmu sekali lagi harus tertunda

Namun, aku tak ingin membahas itu semua.
Saat ini, yang kuinginkan hanyalah keajaiban bahwa kau ada.
Karena lebih daripada mengutarakan isi hati sebenarnya.
Melainkan nyamannya berbagi denganmu itulah yang sesungguhnya ingin kurasa.
Kau tahu kan, aku tak bisa mendapatkan itu semua dari dunia maya?

setitik pelita

Maaf, keegoisan mengalahkanku untuk kesekian kalinya.
Semoga tidak salah berharap di pekatnya malam tiba-tiba hadir setitik pelita
Meskipun sekejap, ada kesempatan bagiku melihat tongkat dan meraihnya
Untuk meneruskan langkah menuju cahaya yang sinarnya terasa lebih nyata

Angkuhnya hati seorang wanita

Hati perempuan mengapa angkuh betul???

Begitu kah? Perasaan hati saya baik-baik saja. Hehehe… Maaf, jika mungkin Anda sampai berpikir seperti itu karena sikap saya kemarin-kemarin. Upsss… Kan, jadi ge er saya. 😀

Namun setelah saya pikir-pikir, memang terkadang seringkali wanita itu terlihat angkuh. Menurut saya itu karena seorang wanita ingin diperjuangkan. Karena seorang wanita ingin tahu, seberapa besar usaha yang dilakukan seorang lelaki untuk mendapatkan hatinya. Aduh… Berat sekali ini ya topiknya. >.< Okey , ngga apa-apa lah ya, sekali-sekali serius sedikit (perasaan memang apa yang aku tulis selalu beraura serius, hehehe).

Dan mungkin, salah satu alasan lainnya mengapa seorang wanita terlihat begitu angkuh adalah karena ia menganggap seorang lelaki yang mendekatinya tidak cukup dewasa bagi dia. Ketika seorang wanita bertemu pria yang menurutnya dewasa, ia tidak akan punya alasan untuk bersikap angkuh. Ia hanya akan diam dan tertunduk malu setiap saat kesempatan membawa mereka berada pada dimensi ruang dan waktu yang sama. Karena seperti itulah seseorang yang diharapkan untuk memimpinnya kelak menyempurnakan ibadahnya.

Lalu ada lagi. Mungkin yang ini lebih pantas berada di cerita-cerita sinetron. Mengapa seorang wanita begitu terlihat angkuh? Yaa… karena ia tidak mau secepat itu mengakui bahwa sebenarnya ia mempunyai perasaan yang sama. Istilah frontalnya ya gengsi itu. Bisa jadi karean alasan-alasan tertentu yang akan membuat status sosialnya bisa tiba-tiba saja berubah drastis ketika ia mengikuti apa yang sebenarnya menjadi kata hatinya. Ahhh, mungkin yang ini terlalu rumit.

Untuk saya sendiri, mungkin alasan kedua lah yang bisa membuat saya berlaku demikian….

What a “rawrrrr” day…

Apa sih ini? Ada apa dengan seharian tadi? Dengan hari Jum’at yang selalu ku nantikan? Dengan waktu? Dengan keadaan? Ada apa dengan malam ini? Dengan mereka? Juga… Ada apa dengan ….. ku…..???

Pagiku seolah menjadi penanda awal ke-random-an yang dengan sukses membuat kepalaku berdenyut sampai saat ini. Tak seperti biasanya. Entah kenapa jarum jam di kamarku dengan seenaknya memasangkan diri di angka 06.20 WITA ketika mataku tak sengaja terbuka untuk yang kedua kalinya di pagi yang damai tadi. Alhasil, pagi yang seharusnya selalu ku tunggu, yang membawa udara baru, yang membangkitkan semangat baru untuk memulai hari istimewa yang kunantikan, berubah menjadi pagi yang kacau, random, berantakan. Rawwrrrr….

Akhirnya setelah membersihkan diri sekenanya, aku baru ingat untuk menghubungi rekan yang seharusnya datang 5 menit lagi untuk menjemputku menjalankan tugas negara bagian Bontang wilayah Jalan Bhayangkara no. 16 A. Akhirnya dengan nada panik kuminta rekanku itu untuk memberikan injury time supaya aku tidak tampil memalukan di TKP nanti (baca: berdandan).

Lagi-lagi sekenanya. Yang ada di pikiranku saat itu adalah nanti pasang senyum semanis mungkin. Supaya aura kehidupan yang masih belum lengkap tmenyatu dengan ragaku sebisa mungkin tersamarkan. Hmmmm….

Dan setelah merasa percaya diri bahwa performance pagi ini tidak seberantakan hati dan pikiran yang masih belum rapi sejak bangun tadi, akhirnya tugas negara pun kita jalankan dengan sukses. Tak ada masalah…

Tapi ternyata tidak sesukses untuk saat-saat setelahnya. Suasana yang…. -Ahhh. Harus dengan apa aku menyebutnya- membuat hati dan pikiranku yang perlahan mulai terbenahi sedikit demi sedikit menjadi kacau lagi. Seraut wajah suram yang setiap hari kusaksikan, entah kenapa hari ini terasa berlipat-lipat lebih menjengkelkan… Bisa tidak sih itu jangan ditekuk melulu mukanya. . .

Lalu entah kenapa tiba-tiba badanku pun seperti tak ingn kalah memberikan sensasi kekacauan. Tubuh gemetar, mata berkunang-kunang, dan kepala rasanya ingin kuperas sekencang-kencangnya hanya supaya terasa lebih ringan. Mungkin efek kopi yang kuharap bisa mengobati hawa dingin setelah bercengkerama sepagian dengan udara Bontang pasca hujan Subuh tadi… Ahhh… Ada apa ini???

Aku yang tidak pernah bisa menyembunyikan sebuah kepanikan, kekacauan, random dan istilah sejenisnya. Tidak terlihat secara eksplisit memang. Tapi efeknya bisa membuat segala hal yang aku lakukan menjadi ikut kacau. Tidak sesuai yang kuharapkan…

Seperti sore dan malam ini. Lagi-lagi kunikmati sensasi berkejar-kejaran dengan waktu. Sesuatu yang tidak akan pernah terasa menyenangkan bagi siapa pun. Sungguh…
Dan untuk malam ini rasanya tak ada lagi yang bisa kutulis untuk mengilustrasikan moment yang semoga merupakan akhir dari ke-random-an yang mewarnai hariku ini.

This is about the reason

Kukira hanya satu alasan itu yang membuat hati masih bertahan di sini. Kukira sudah tidak ada alasan lain yang lebih menegaskan bahwa sebuah keberadaan terasa berarti. Atau bisa jadi suatu istilah bernama “comfort zone” perlahan membuat diri tak ingin beranjak menemukan kejutan-kejutan lain di luar sana.

Lebih dari itu. Mungkin terlalu lambat menyadari bahwa alasan lain itu sebenarnya ada. Atau mungkin terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah harapan??? Entahlah…

Ahhh… Untuk hal ini mungkin unsur air yang sedang berlaku dalam kehidupan. Bahwa mengalir itulah yang terbaik yang bisa dijalani sekarang…

…amnesia…

Kopiku terasa begitu manis malam ini. Memang kombinasinya yang pas atau mungkin karena hal lain. Entahlah…

Berlebihan rasany. Akhirnya kafein kujadikan senjata untuk menopangku menghabiskan hari ke empat Februari. Padahal kaki, tangan dan mata seolah sepakat berkoalisi untuk menuntun si empunya menjemput mimpi. Namun ternyata hati yang memenangkannya. Ia tak rela hari ini berlalu begitu saja..

Dulu kami menyebut ini sebagai “amnesia”. Yaa, sengaja diplesetkan memang. Tak taunya sampai sekarang itu menjadi brand saat kita tidak bisa (atau tidak ingin) tidur pada malam hari. Ada beberapa alasan. Tugas adalah salah satunya. Namun hati, selalu menjadi alasan yang paling mendominasi. Entah apapun yang ia rasakan….

Similarity of the different

Ternyata memang tidak bisa digeneralisasikan.Begitu berbeda rupanya. Yang satu benar-benar sedingin es yang beku di kutub utara dan yang lain selalu membara laksana api yang berkobar dengan hebatnya.

Tapi memang tak bisa dipungkiri. Es dan api itu mempunyai satu kesamaan yang tak terelakkan. Kau tak akan pernah bisa lupa bagaimana rasanya ketika dua unsur itu menyentuh hatimu…. Rasanya lebih dari sekedar hangatnya mentari, juga sejuknya air yang mengalir. Lebih dari itu, masing-masing perasaan itu bisa jauh merasuk ke lubuk hati yang paling dalam..

***