11. 49 pm

Dia menahan napas sejenak…
Menyadari keberadaanmu. Di sana, di sudut jalan itu. Memainkan ponsel sambil sesekali menyipitkan mata menghindari silau yang menerpa wajamu. Selesai. Napasnya kembali berhembus sempurna. Lalu ia tersenyum sebentar. Bahagia…

Ohh, tidak!! Apa yang kau lakukan? Dia panik. Detak jantungnya mulai tak menentu berirama. Mendapatimu melangkahkan kaki ke arahnya. Seakan seperti anak sekolah yang takut tertangkap basah menyisipkan surat cinta. Rasa khawatirnya berlebihan. Dia hanya… Malu.

Oke, fine. Dia bisa mengendalikannya. Berhasil menyunggingkan senyum ketika matamu menyapanya. Lalu kata-kata itu, menjadi urusan lain. Kau semakin membuatnya salah tingkah. Namun, dia cukup pandai membuatnya seperti biasa saja. Tak ada yang aneh. Padahal, apakah kau tahu? Hatinya bergemuruh tak menentu. Berusaha tak melakukan sedikitpun keburukan di depanmu. Dia ingin terlihat sempurna. Paling tidak di matamu.

Dia tersenyum. Namun, jangan pikir kau mengerti arti senyumnya. Senyumnya itu tak bisa melukiskan apa-apa. Hatinya jauh lebih bahagia dari sekedar senyum yang tampak secara kasat mata.

Dia mendengarmu. Dia memujamu. Dia melihat hal-hal kecil padamu yang tidak pernah diperhatikan orang lain sebelumnya. Dia merasa nyaman bersamamu. Dia menyetujui setiap pendapatmu dan kadang sedikit mencari alasan untuk setiap detail yang menurutnya bukan itu. Berbeda. Lalu dia akan menerimanya atas penjelasan yang kau berikan. Meskipun tak lantas menyetujuinya.

Hatinya bergetar. Jantungnya berdebar. Takut seakan gempa bumi akan datang tiba-tiba mengacaukan keseimbangan yang ia jaga sekuat tenaga. Karena entah mengapa setiap kau berjalan bersamanya, seakan gravitasi bumi tidak berlaku lagi. Seakan medan magnet tempat semua objek berpusat hanyalah dirimu sendiri. Ahh, merepotkan.

Kemudian dia diam. Ketika hingar bingar mulai menyeruak di tengah kebersamaan. Ketika dimensi empat yang berlaku bukan hanya untuk kau dan dia. Ketika ada lebih banyak perasaan yang harus dijaga. Bukan. Bukannya dia tidak ingin terlihat egois. Namun lebih karena dia ingin terlihat di matamu.

Dia memejamkan mata. Meskipun seribu persen tak yakin alam mimpi akan segera datang menjemputnya. Karena bayanganmu lagi-lagi masih enggan untuk pergi. Mengganggu waktu tidurnya.

Matanya terbuka. Bersama dirimu yang masih setia menunggu di ujung akhir mimpinya. Dia tersenyum. Bahagia…

Kau menyebut namanya. Terdengar seperti ada nada yang berbeda. Dia menyadarinya. Dia menyukainya. Dirimu menyebutnya dengan perasaan, bukan hanya sekedar ucapan-ucapan.

Undefinied #3

Padahal tadi malam hati saya sudah mulai bahagia. Karena sebelumnya entah ada saja orang-orang yang merasa tak bersalah mengganggu euforia saya menghitung hari hingga bertemu mereka. Padahal pagi ini hari saya dimulai dengan indahnya. Ketika sebuah senyum manis dari anak itu menyambut saya di tempat kerja. Tapi mungkin memang saya harus bersabar beberapa saat menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Tanpa dirusak oleh makhluk-makhluk entah jenis apa itu namanya.

Seperti pagi ini. Muka suram itu lagi. Sindiran-sindiran itu lagi. Aiihhh. Sebenarnya yang tidak dewasa itu siapa sih? Inget umur. Ngomong aja terus. Nggak konsisten. Sikap seperti itu lah yang membuat Anda semakin terlihat menyebalkan di mata saya.

Upsss… Astaghfirullahaladzim. Inget puasa. >.<
Maaf pemirsa. Tapi memang spesies zaman prasejarah satu itu selalu mencari gara-gara. Dia pikir saya akan tepancaing meladeni omong kosong yang tak ada dasarnya itu. Ahh, maaf ya. Bukan level saya. Lalala…

Sisi positifnya, daripada pahala puasa saya hari ini terpangkas habis karena aura negatif di depan, akhirnya saya putuskan untuk hijrah ke ruang lain yang sebenarnya juga tidak nyaman. *muka suramnya please >.<*
Namun, daripada di sini suram di sana suram, saya buka lagi deretan ayat-ayat penyejuk hati itu. Saya nikmati lagi indahnya kalimat-kalimat itu. Alhamdulillah yaa, beberapa awan sudah mulai berarak pergi. Siap menikmati keceriaan Bontang di sisa hari ini. Karena besok waktunya untuk menerima reward setelah 10 bulan berada di sini. 😀

Secuil semangat hari ini :)

Hujan sudah berhenti rupanya, tetapi mengapa langit masih muram saja?? Entahlah…

Tak apa…
Biarkan mentari bersembunyi hari ini. Asalkan dirimu tidak…
Biarkan saja langit muram hari ini. Asalkan senyum selalu merekah di wajahmu …
Dan biarkan saja mereka mengeluh. Asalkan kita tetap melangkah menekuni tujuan yang telah melekat…

Hidupmu hanya sekali. Jadi seharusnya tak ada alasan untukmu menyia-nyiakannya.
Waktumu ini terbatas. Jadi mengapa harus kahabiskan dengan hanya mengeluh saja?
Nikmatilah yang telah kau dapat. Dan berjuanglah untuk sesuatu yang ingin kau raih.

Uppsss.. Jangan lupa. Berbagilah kebahagian hari ini.

All the people smile in the same language. Jadi, tersenyumlah… 🙂 🙂 🙂

Bahagia itu…

Bahagia itu…
Ketika kamu membuka mata, dan merasa akan ada sesuatu spesial yang akan kamu dapatkan hari itu.. Bahagia karena merasakan… 🙂
Ketika sesuatu yang kamu pikir benar-benar hilang, tiba-tiba datang sebagai sebuah kejutan..
Ketika kamu sangat lelah dan tiba-tiba ada jarkom bahwa kuliah dibatalkan..
Ketika menunggu dari pagi hingga siang dan akhirnya pasrah, ketika itu dosen yang kamu tunggu berjalan menghampirimu… dan itu bukan mimpi…
Ketika masuk kelas, dan disana kamu melihat senyum senang mereka menyambutmu, serasa kamu ingin menangis..
Ketika hujan turun, dan kamu berteduh sendirian, ketika itu ada pesan yang sangat kamu nantikan..
Ketika handphone kamu ilang dan kamu sangat sangat sangat membutuhkan sebuah nomor, tiba-tiba nomor itu mengirim pesan kepadamu.
Ketika kamu dipercaya untuk memberikan masukan..

Bahagia itu…
Ketika paket internet yang harusnya berakhir pukul 23.59 ternyata masih bisa dipakai hingga pukul 01.30..
Ketika satu flashdiskmu ilang dan kamu mendapatkan dua sebagai gantinya…
Bahagia itu, ketika kamu bisa menangis melihat film yang mengharukan dan bisa tertawa melihat film lucu..
Ketika kamu merasakan yang dinamakan “bad mood tingkat dewa” dan tiba-tiba ada yang memberimu coklat atau mentraktirmu es krim..

Bahagia itu…
Ketika sesorang mengatakan bahwa kamu berarti untuknya..
Ketika dia menganggap kata “ya” yang kamu ucapkan itu “sesuatu banget”..
Ketika kamu menengok kearahnya disaat dia sedang memperhatikanmu..
Ketika kamu menjadi alasan baginya untuk menjadi baik..