Dunia mereka, dunia saya

Saya seorang guru. Mmmmm… Seorang calon guru maksudnya. Saya mendidik. Uppss, bukan, bukan. Saya baru mengajar. Lebih kurang empat tahun sudah bergelut lagi dengan masa-masa sekolah. Menjadi kakak segala tahu. Mengajar anak-anak untuk memahami materi yang tidak mereka mengerti. Mengajar ya? Beda kah dengan mendidik? Oke.. Mari kita lihat.

anak-anak sd

Saya masih ingat ketika dulu kelas 6 SD, guru kelas kami bertanya tentang apa yang menjadi cita-cita kami ketika besar nanti. Waktu itu saya berpikir keras. Ingin saya katakan bahwa saya bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun saya urungkan, karena saya tidak mau dianggap sok bermimpi terlalu tinggi. Lagipula, dulu yang ada dipikiran saya, seorang dokter itu pasti berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, bau obat, jarum suntik, dan terlebih lagi menjadi dokter adalah cita-cita yang nggak kreatif (Nah Lo). Kemudian muncul lagi di pikiran saya beberapa profesi lain, pilot (nggak mungkin lah), polwan (rambut saya jadi pendek dong, tidak terimakasih), pramugari (hehe… pesawatnya terbang ya), lalu akuntan (ahaaa, kelihatannya keren itu). Siippp…. Saya kan suka matematika. Saya putuskan, hari itu cita-cita saya adalah menjadi seorang akuntan. Sekedar info nggak penting, yang ada dikepala saya waktu memikirkan profesi akuntan saat itu adalah orang yang kerjaannya tiap hari memegang kalkulator di bagian kasir toko. Hahaha… Cita-cita saya nggak prestige sama sekali.

Lalu ketika tiba giliran saya menjawab pertanyaan dari guru :
“An, kalau kamu cita-citanya mau jadi apa?”
Reflek saya menjawab : “Jadi guru, Bu.”
What??? Apa tadi saya bilang. Jadi guru? Saya kan sudah susah payah dengan penuh pertimbangan memutuskan mau jadi akuntan. Apa-apaan ini??? >.< Yasudah, nasi sudah menjadi bubur. Meskipun bibir saya tadi mengucapkan kata ‘guru’, tetapi yang ada di benak saya tetap jiwa seorang akuntan (cieeee…)

Selanjutnya…
Detik menghampiri menit. Melewati hari memutar ulang bulan, lalu beralih menjadi hitungan tahun. Ahhh, waktu lagi yang berperan di sini. Hingga akhirnya ketika tiba masanya saya memutuskan jurusan yang ingin saya ambil di Universitas, saya tetep kekeuh dengan cita-cita saya menjadi seorang kalkulatorwoman. Uppss, akuntan maksudnya. Dengan semangat 45 saya mengikuti tes, namun akhirnya kesempatan itu pun belum saya dapatkan. (Sepertinya moment waktu saya kelas 6 SD itu adalah sebuah pertanda. -.-) Dan kemudian, kesempatan pula lah yang membawa saya ke dunia ini. Dunia belajar anak-anak. Dunia belajar remaja. Dunia pendidikan mereka. 

Lalu, apakah saya kecewa? 
Ketika saya cek nomor tes saya lewat layanan pesan singkat yang disediakan oleh panitia seleksi, saya sudah tahu bahwa akan tertera jurusan pendidikan di pesan balasan yang akan saya terima nanti. Namun tetap saja, saya masih berharap bahwa teman saya salah baca dan kata “pendidikan” di sana akan hilang lalu muncul karakter-karakter yang bisa dieja menjadi tulisan “teknik”. Yaaa, memang rezeki saya mungkin ada di dunia mereka. 

Saya menikmatinya. Belajar menjadi seorang pengajar. Ohhh, tidak. Saya diajari untuk menjadi seorang pendidik. Saya menikmatinya. Mempersiapkan diri untuk menjadi contoh yang baik untuk anak didik saya nanti. Berkutat dengan silabus, RPP, promes, dan prota yang membuat saya gelelng-geleng kepala apakah saya sanggup mengerjakan itu semua saat benar-benar menjadi pendidik yang sebenarnya. Sudahlah, itu nanti ada waktunya sendiri.

And now, saya sudah lulus setelah empat tahun dididik menjadi seorang pendidik. Berbagai bimbingan, arahan, motivasi, dan semangat untuk menjadi seorang guru sudah kenyang saya nikmati. Dan sepertinya selama 4 tahun itu, otak saya telah benar-benar berhasil dicuci dari segala hal berbau akuntan lalu kemudian disisipi ingatan baru tentang dunia pendidikan. (Sudah, jangan dihiraukan).

Dan setelah merasakan rasanya berbaur dengan mereka ketika masa praktik mengajar, rasanya tidak sabar saya ingin bertemu dengan mereka di kelas. Di kelas saya sendiri. Menyampaikan ilmu yang akan menjadi bekal mereka, berdiskusi tentang isi dunia, mengobrol santai layaknya kakak yang bisa dipercaya menjadi penjaga rahasia, pun menyisipkan semangat untuk berani bermimpi maju. Untuk berani memiliki cita-cita. Ahhh… Sepertinya indah.

Mudah sekali berangan-angan seperti itu.
Lalu memangnya saya harus berangan-angan seperti apa? Mempunyai kelas yang akan menampilkan pertunjukkan perang galaksi setiap hari? Menyuruh mereka membaca sendiri materi kemudian melulu mengerjakan tugas di buku diktat untuk dikumpulkan dan menilai bagus atau tidak tulisan mereka? What the heaven. Itu bukan profesi yang saya inginkan. Setidaknya akhir-akhir tahun kemarin. Memang angan-angan saya itu tidak akan terwujud mulus tanpa niat dan usaha yang tekun. Namun bukanlah seorang pendidik jika yang dilakukannya hanya sebatas meng-copy paste kata-kata yang tercetak di setiap halaman buku ke otak siswanya. Bagi pengajar, mungkin iya. Menyampaikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana. Membantu mereka memahami apa yang tidak bisa mereka pelajari sendiri. Mungkin saat ini iya, amanah yang saya dapatkan adalah untuk mengajar. Dan semoga suatu saat nanti, akan datang kesempatan yang membawa saya benar-benar masuk ke dunia pendidikan mereka. Amin. Insyaalah.

Ahhh... Anak-anak... :)

Yang ini selalu membuatku senyum-senyum sendiri

PS :Tulisan ini terinspirasi setelah melihat video tentang peran para pengajar muda memeberikan hak seluruh anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan seperti teman-teman mereka lainnya di kota. Bagi yang berminat melihatnya juga, bisa mampir ke sini.

Untitled #2

Ini gila atau seperti apa sih??? Tak ada angin tak ada hujan. Bintang juga dengan santainya masih asyik ngeksis di langit. Tapi entah kenapa malam ini tiba-tiba saya ingin jalan-jalan saja berdua ke pameran buku bersama Roberto. Ini pikiran datang dari mana coba??? >.<

Apakah efek dari episode tadi sore? Ketika saya menghabiskan waktu berdua di ruang tentor menunggu jarum jam berputar hingga bel harus dibunyikan. Sepertinya waktu tersebut lebih dari cukup bagi seorang siswa dan guru untuk saling berbincang satu sama lain. Oh, No. Semoga ini bukan masalah serius. Hahaha

Mengingat pertemuan kami tinggal menghitung hari (Ahhh, lagi-lagi perpisahan), mungkin karena itulah saya merasa lebih ingin dekat bersamanya. Lebih ingin melewatkan waktu yang kami lalui dengan kebahagiaan, dengan canda tawa, dengan senyuman dan berbagai hal positif lainnya. Dan bukan dengan adegan film action yang ekstrim seperti yang selalu saya saksikan dulu ketika awal-awal saya mengajar di kelasnya. Yaaa, beberapa rekan pengajar pernah menjadi korban gigi tajamnya Berto ketika mereka ditakdirkan untuk berjumpa. Say haii to Mr. Zu and Mr. Anhar dulu. Hehehe

Tadi ketika saya sampai di kantor A.Yani, entah kenapa sambutan Berto terlihat begitu manis. Terasa lebih manis lagi ketika dia mengajak saya untuk ikut dalam pesta perpisahan yang akan diadakan di sekolahnya selepas ujian akhir nanti. Ahh, Berto. Maaf ya, tapi rasanya saya tidak akan siap jika nanti menjadi pusat perhatian di sana, mengingat tak ada orang lain yang mungkin akan mengenakan hijab di pesta perpisahan itu nanti seperti saya. Yaa.. Berto memang bersekolah di sekolah khusus sesuai agamanya. Dan yang lebih tidak mungkin lagi adalah : Apa nanti yang saya lakukan di sana??? Menjadi obat anti nyamuk sendirian, sementara tamu yang lain sibuk bersay-hello ke sana ke mari??? Tidak, terimakasih. >.<

Baiklah, mari kita kembali menemui Berto lagi ya. Jadi, sebenarnya Roberto itu adalah salah satu siswa yang mencuri hati saya. Nah, Lo. Tunggu dulu. Maksudnya begini. Saya merasa bahwa Roberto itu adalah sekian kecil sosok anak-anak yang sebenarnya. Aduh, apalagi ini???

Oke… Oke, maksudnya begini. Mungkin ini hanya sekedar perasaan saya. Ketika zaman dan teknologi memaksa seorang anak untuk tumbuh dan berkembang melebihi batas di masa mereka seharusnya berada, rasanya berbaur bersama mereka pun seakan sulit. Ketika apa yang mereka butuhkan bisa saat itu juga mereka dapatkan, dan ketika sebuah hubungan hanya sebatas kepentingan, rasanya kebersamaan yang terlewati pun seakan tak meninggalkan sebait kesan pun.

Kadang merasa seperti bukan mendapati bahwa mereka adalah anak-anak ketika yang saya dengarkan adalah obrolan tentang materi dan kekuasaan. Atau sikap sopan santun yang seharusnya tercerminkan hanya menjadi hiasan di buku pendidikan moral mereka saja. Terlebih lagi ketika nasihat-nasihat yang kita berikan pun seakan hanyalah petuah usang manusia zaman prasejarah yang sudah tidak sesuai lagi dengan era yang mereka hadapi sekarang. Lagi-lagi saya berharap bahwa ini hanya subjektivitas dan omong kosong saya sendiri.

Dan Roberto…. Masih lugu seperti apa anak-anak seusianya seharusnya. Masih ceria dan lepas bertemu hari-hari yang saat ini memang menjadi masanya. Juga masih polos. Dan yang ia tahu hanyalah bahwa yang baik itu boleh dilakukan dan yang tidak baik itu tidak boleh dilakukan.

RobertoRoberto Kens Taneda

Lalu sekarang, saya tiba-tiba teringat Andika. Sosok “the real kid” lainnya. Baik-baik ya di sana. Tak sabar menunggu kesempatan berjumpa beberapa waktu ke depan. Insyaallah. 🙂

P.S. : seharusnya foto yang saya pajang adalah foto waktu kita di ruang tentor tadi. tapi berhubung uploadnya failed terus, yasudah lah ya. Tak masalah… 🙂