Apa yang lebih menyakitkan dari kehilangan? Tidak ada.

Bahkan kaupun tak berhak merasa kehilangan untuk apa yang belum kau miliki. Pun kau tak pantas mengucapkan selamat tinggal untuk sesuatu yang bukan kepunyaanmu. Lalu mengapa hati ini lantas sepi? Tiba-tiba sepi. 

Karena jika Allah yang berkehendak, maka alam semesta dan seisinya hanya bisa pasrah, manusia ciptaanNya hanya mampu ikhlas. Ada tiada adalah kuasaNya. Kapan dan bagaimana mutlak hak prerogatifNya.

Karena ketetapan Allah itu pasti, dan Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya. Jadi, mengapa kita tidak yakin dan berkhusnudzan saja?

Lakukan saja apa yang kita bisa dan biarkan Allah mengerjakan bagianNya.

 

290417@149

Kejadian hari ini mengingatkan saya pada “Mas Mail” (bukan semacam tukang pos yeaahh), adalah salah satu supir dari travel langganan yang sering mengantar saya sampe di Balikpapan. Jadi hari ini, mas bojo mengalami ‘uncoditional moment’ karena kerjaan yang harusnya udah beres dari beberapa hari lalu dan target udh on akhirnya harus dianulir karena ada return dari klien. Yang bikin si abang uring-uringan, kesalahan itu adalah karena keteledoran orang lain yang seharusnya bisa untuk tidak terjadi jika dilihat dari situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Halaah…

Sebagai akibatnya, si abang harus nyari sales lagi di waktu yang udah mepet supaya bisa on target lagi, padahal ini sudah hari sabtu di akhir bulan dan udah siang pula..

Alhamdulillah, setelah doa dan usaha yang sebenernya sudah pesimis dari awal, menjelang maghrib Allah masih menakdirkan rezeki tersebut untuk kami. Dan disini saya semakin yakin bahwa apapun yang Allah inginkan, apapun yang Allah takdirkan, apapun yang Allah kehendaki, niscaya pasti terjadi.

Terus kenapa jadi inget sama mas Mail?

Sebelumnya saya luruskan sodara-sodara, bahwa namanya adalah Ismail, tapi biasa dipanggil Mail. Iya, ini penting. Masnya ini orangnya suka cerita, jadi waktu perjalanan Balikpapan-Bontang, saya lumayan terhibur karena ada teman ngobrol sepanjang jalan. Salah satu topik obrolan kami adalah tentang sesuatu yang menjadi hajat, tujuan, keinginan, atau rencana kita belum pasti akan terwujud. Jadi jangan buru-buru untuk diannounce kemana-mana yee.. Kata dia.

Jadi, obrolan kami sampai ke topik itu gara-gara zaman sekarang banyak orang yang suka pamer tentang sesuatu yang belum menjadi haknya. Dimana-mana yang namanya pamer pasti ngga disukai orang, apalagi yang dipamerin belum tentu ada. Tambahlah alasan orang buat nyinyir. Belum lagi kalo akhirnya yang dipamerin nggak jadi terlaksana atau nggak tercapai. Duuhhh.. Mau taruh dimane muka Neng, Bang??

Kebetulan prinsip mas Mail itu sama dengan saya, berusaha untuk menyimpan dulu suatu hajat atau keinginan yang belum pasti keadaanya.. Istilah jawanya “ngampet”. Misalnya nih, saya punya uang cukup untuk beli mobil (aamiin), udah ke dealer, bayar dan tinggal tunggu mobil dianter ke rumah. Tapi, kalo mobil itu belum bener-bener sampe kepegang tangan saya, saya anggap kalo itu belum menjadi hak saya. Bahkan kalau mobil itu pake cicilan dan cicilannya belum lunas, saya masih merasa bahwa itu mobil masih belum bener-bener punya saya..

Contoh lainnya misalkan, saat saya dulu diumumkan sebagai salah satu peserta yang lolos cpns, saya masih merasa takut dan khawatir sebelum SK yang disitu tertera nama saya, saya pegang dan lihat dengan mata kepala sendiri. Lebay ya? Aaaah, menurut saya itu hal yang wajar. Itu yang inshaallah sudah pasti, masih saya khawatirkan. La kalo udh gembar gembor mau beli mobil, tapi ujung-ujungnya ngga lolos buat ngajuin kredit, apa ngga malu cyint…

Lalu apa yang sama dengan kejadian sore tadi? Bukan masalah tentang pengumuman kepada orang lain tentang apa yang akan menjadi hak kita, namun lebih kepada campur tangan Allah terhadap segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia. Bayangin, udah jelas-jelas dipengumuman dinyatakan diterima, tapi saat pembagian SK, namanya tidak ada dan panitia menyampaikan bahwa untuk dirinya (hanya dirinya saja) terjadi kesalah administrai pada saat pengajuan formasi sehingga, SK tidak terbit dan dia gagal dianglat cpns. Bukan salah si peserta memang, tapi dengan mendesak atau komplain kepada panitia pun tak lantas membuat keadaan menjadi seperti apa dia inginkan (hal yang saya takutkan benar-benar terjadi, hanya saja pada orang lain).

Dari situ dan sekian keadaan lain saya selalu yakin dan semakin yakin, bahwa Allah lah yang berkehendak. Allah lah yang Maha Menentukan. Kamarin mas bojo sudah lega karena on target, namun hari ini Allah menginginkan mas bojo (dan saya. eh) untuk khawatir lebih dulu, untuk berusaha lagi, dan untuk berdoa lebih khusyuk atas rezeki-Nya tersebut. Dan untungnya kami sadar, dan bukannya mengeluh, menggerutu berkepanjangan (yaa, meskipun pada awalnya sempat kecewa. Hehehe)

Jadi, tetap selalu ingat bahwa segala yang kita miliki di dunia ini adalah titipan. Terserah yang punya dong, kalau kita diberi jangan lupa bilang terimakasih, bersyukur. Kalau diambil lagi, yaa diikhlasin. Duuhh gampangnya ngomong ya.. Hahaha… Belajar atuh… Belajar…

Yawislah, ini aja yang mau dishare malem ini. Semoga bermanfaat untuk sekedar pengingat.. Selamat malam…

Saya memilih bahagia

Home alone! (again)

The time when you stay dewe’an at home and nothing (you want)  to do, then you start gluntang gluntung di kasur padahal orang-orang yang abis shalat isya belum turun dari masjid niscaya lebih mulia daripada kelayapan tengah malam tak tau entah kemana sama siapa dan sedang berbuat apa. Hehehe, iya iya… Saya akui bahwa statement di atas hanya salah satu bentuk pembelaan seorang istri yang sedang ‘mati gaya’ ditinggal suami kerja di luar kota. Hiikkss..

Menghabiskan waktu dengan hanya scrolling social media yang isinya sudah terlalu embuh tapi tetep lanjut aja karena kepo ternyata cukup menyita waktu, hingga akhirnya saya berhasil untuk tidak tampak membosankan karena jam 8 malam sudah nyenyak di peraduan. Yeaayy

Padahal niat hati ingin buka lapak lebih pagi supaya postingan yang rilis hari ini tidak cuma sebiji, tapi apa daya karena sudah lama jari-jari ini tak bersentuhan dengan kata-kata, memulai satu paragraf saja membutuhkan energi yang begitu luar biasa. Hahaha… Ini terlalu lebay ya sodara-sodara.

Baiklah, daripada lebih ngelantur kemana-mana saya ingin mencoba mengarahkan tulisan ini untuk hal yang positif saja. Yup, sekali lagi memilih bahagia dengan cara yang sederhana. Duh, syahdu sekali yaa… Hihihi…

Memulai untuk bahagia, saya pagi ini tersenyum karena masih diizinkan membuka mata di samping teman hidup yang entah seabstrak apapun posenya ketika bangun tidur,  ia selalu membuat saya selalu bersyukur bahwa lelaki baik inilah yang padanya segala tanggungjawab ia ambil alih dari orang tua saya. Bahwa dengan lelaki yang ngga bisa ngambek sama istri inilah saya berikrar untuk menjalani sisa umur bersama. Dan dari hadirnya lelaki yang super grusa-grusu inilah hidup saya menjadi lengkap. (Untuk yang terakhir, saya siap diprotes, komandan :p)

Melihatnya menyiapkan keperluannya sendiri sebelum melaksanakan tugas mencari nafkah untuk istri (dan anak-anak nanti) adalah hal yang membuat saya geli sekaligus tidak sampai hati. Di satu sisi, inilah salah satu rezeki saya mempunyai suami yang terbiasa hidup mandiri, namun disisi lain saya sedikit beretorika, apa sebegitu abaikah saya kepada suami meskipun ia tidak minta untuk dilayani? Namun hanya sesaat pikiran itu ada karena pada akhirnya hari ini kami memutuskan untuk tetap bahagia. Meskipun yaahh, jarak sekali lagi harus diterima.

Sempat terbersit di kepala, ah, inilah seninya berumah tangga. Menerima keadaan yang tak selalu diinginkan, pada akhirnya membuat sebuah kata sesederhana ‘rindu’ manjadi bisikan magis yang meminta ‘pertemuan’ untuk disegerakan. Namun bukankah kita akan menghargai kesempatan ketika waktu memang diciptakan Tuhan untuk tak pernah bisa dirayu?

Jadi, tak apa jika rindu harus dijawab oleh jeda hingga saat nanti waktu mengizinkan untuk bersua. Toh, kehangatan yang menjalar melingkupi hati masih bisa mempertahankan kebahagiaan meskipun hanya melalui beberapa baris pesan. Karena kebahagian itu kita sendiri yang menentukan, tak perlu menunggu untuk singgah dan dipersilakan.

Demikian. Selamat malam…

Apakah kita sudah memintanya?

Sekali lagi merasakan ‘heartbreaking moment’ yang benar-benar membuat saya merubah persepsi bahwa sekedar ‘menjaga jarak’ untuk tidak terlibat konflik itu tidak cukup. Sekedar berada di ‘zona aman’ dan tidak memulai perdebatan itu tidak mudah. Kenapa? Ah, entahlah. Dunia memang tidak seramah yang kau kira, kawan.

Hahaha… Lucu. Dulu saya kira hanya orang-orang yang berpikiran negatif saja yang bisa menyampaikan kalimat terakhir di atas. Hingga perlahan mulai menerima bahwa orang berhati dengki itu memang ada. Namun sekarang saya sadar (lebih tepatnya disadarkan)  bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh peri dan malaikat, akan tetapi juga setan dan iblis yang (terkadang difitnah oleh manusia) suka sekali memecah belah, menghancurkan hubungan dan membuat manusia saling mencaci maki. Begini ya ternyata hidup di zaman yang telah dikabarkan sebagai zaman penuh akan fitnah. Naudzubillah… 

Saya tahu setahu-tahunya bahwa di setiap jengkal langkah yang kita ambil akan disertai dengan akibat. Baik itu langkah ke arah yang benar maupun yang salah, langkah ke tempat yang baik atupun yang buruk, segalanya akan mendapat respon yang tak akan pernah kita duga. Dan kita HARUS SIAP dengan segala apapun itu. Hahaha… Jadi yang kemarin itu sepertinya saya tidak siap. Oke, pelajaran baru.

Yang saya pengen tau sebenarnya adalah, apakah setiap manusia itu sadar bahwa mereka sedang (atau habis) digoda oleh syaitan? Pikiran ini muncul setelah saya melihat salah satu chanel di TV yang menayangkan acara religi dan disitu terdapat kata-kata bahwa ‘hati yang terbuka itu hanyalah atas kehendak Allah’, ‘hidayah itu datang hanya karena Allah yang memberikan’. Jadi, itulah jawaban dari pertanyaan yang sering kita dengar : “Kenapa seseorang bisa sampai tidak sadar bahwa ia telah berbuat mungkar kepada makhluk yang sama dari mana dia berasal? Yang sama-sama diciptakan oleh Dzat Yang Maha Tunggal.” Lalu yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah bertanya kepada diri sendiri, jauh ke dalam lubuk hati yang dalamnya pun tak pernah kita ketahui, dan pertanyaan itu apakah kita sudah meminta? Apakah kita pernah memohon untuk diberikan hidayah olehNya?

Mari kita tutup mata sejenak, mari kita jernihkan pikiran sesaat dan bertanyalah pada diri sendiri lalu jawablah DENGAN JUJUR apakah kita menginginkan hidayah itu hadir dalam hidup?

 

Klasemen kebaikan


He said : “Kalau mau baik ya baik aja. Perkara orang mau membalas seperti apa itu urusan mereka. Yang penting apa? Ikhlas. ”

fb_img_1479216463793

Sementara orang-orang di luar lagi sibuk mengapling kebenaran tentang politik dan agama, saya yang akalnya masih lebih cetek dari kolam pancingan mainan di pasar malam ini malah baper gara-gara tidak merasa cukup baik untuk diperlakukan secara “baik” kembali. Halah, memang dasarnya “ringkih“, dibengoki sithik sama orang yang nggak sabar antri di pom bensin aja wis mbrabak. Apalagi …. Ah, sudahlah.

Ngga selesei-selesei kalau mau ngotot-ngototan bahwa kebaikan harus pasti dibalas dengan kebaikan pula. Eeemmm…  Yang tak pernah saya lupa adalah kata-kata dari seorang bapak tua pengingat saya bahwa masih banyak orang ikhlas di dunia ini : “Yakin saja mba, kalau kita berbuat baik, pasti akan ada balasanya. Meskipun bukan secara langsung. Bisa saja saya berbuat baik sama mba, lalu suatu saat saya atau keluarga saya mendapat pertolongan dari orang lain. Saya yakin itu.”

Bukankah hukumnya memang seperti itu, kebaikan dibalas dengan kebaikan.

Atau mungkin hanya kebaikan dengan level tertentu yang akan mendapat balasan kebaikan juga. Jika hanya sekedar menjadi aman dengan tidak mencari masalah dengan orang lain belum bisa disebut berbuat baik, mungkin dengan begitu seseorang tidak berhak meminta imbalan dibaiki juga. Karena menjadi super hero bagi seseorang pun yang sudah tidak diragukan lagi kadar kebaikanya, pengakuan kebaikan pun belum tentu didapatkanya.

Bagi orang yang super duper very ultimate baper kayak “sebut saja melati”, dikhianati (aduh kok syedih banget)  maksudnya mendapat perlakuan kurang manusiawi (hahaha, tambah parah) intinya ketika dia dikecewakan itu akan membuatnya bertanya kepada dunia dan seisinya sebenernya apa sih yang salah dengan dirinya, kurang baik apa, apa pernah dia melakukan kesalahan fatal yang membuat orang lain tega membuatnya kecewa. Duh… Sabar… Sabar Mel…

Kembali ke awal, bahwa kuncinya cuma satu. IKHLAS, ditambah inget banyak-banyak BERSYUKUR. (Alhamdulillah punya alarm penyemangat sekaligus donatur coklat paling bisa diandalkan se Bontang) *wink*

Gampang diucapkan, tapi susah direalisasikan. Memang. Katanya ikhlas itu ilmunya tingkat tinggi. Belajar sedikit-sedikit. Apa yang tidak sesuai diterima tapi ngga usah dimasukkan hati. Ditambah ingat, selalu banyak bersyukur. Rezeki kebaikan tidak datang dari satu tempat. Rezeki kebaikan dapat berupa apapun sebagai nikmat. Kesehatan iya, perkerjaan iya, waktu luang, keluarga yang bahagia. Tidak cuma sekedar materi saja. Yeesss… I absolutely know Mr. President… But…

Bukan masalah balasan rezeki, hanya tentang sikap. Fine! That’s the point. Sekali lagi harus diingat, bahwa ternyata kunci ketentraman hati (biar ngga baper mulu) itu ya cuma IKHLAS. Oooh, jadi selama ini mungkin saya dan orang-orang yang sering baper lainnya kurang ikhlas. Hahaha… (ambil kaca) Baiklah. Kita bisa usahan untuk perbaiki nanti. Pelan-pelan… 😉

Quote beberapa saat lalu…

Orang yang berbuat baik kemudian dibalas keburukan lalu dia berhenti berbuat baik itu biasa.

Orang yang berbuat baik kemudian dibalas kebaikan dan dia terus berbuat baik itu biasa.

Orang yang berbuat baik kemudian dibalas keburukan namun dia tetap berusaha berbuat baik, itulah yang luar biasa.

Super sekali. Semoga kita selalu dimudahkan, dikuatkan, diberikan jalan untuk selalu ikhlas dan istiqomah dalam kebaikan. Dan jangan lupa bersyukur. Karena barang siapa bersyukur, maka janji Allah akan ditambah nikmatnya namun siapa yang kufur maka ingatlah bahwa adzab Allah sangat pedih. Na’udzubillahi min dzalik.

Malah jadi ceramah. Kalah-kalah ustadzah Oki. Hehehe…

Selamat malam, semoga mimpi indah (dan tidak baper lagi) malam ini. 😉 😉 😉

Memulai lagi konsistensi

Mungkin menulis seperti ini adalah cara paling ampuh yang akan saya gunakan kelak ketika harus menunggu suami pulang malam. Ya, cara paling ampuh kedua. Lalu apa yang pertama? Cara paling ampuh pertama adalah dengan main sama “Pou” atau menanam tananaman yang bisa makan zombie. Hahaha… Sabar sabar ya kakanda…

Saya suka menulis, apapun itu ingin sekali saya ekspresikan lewat tulisan. Entah masalah pribadi sehari-hari kah, opini tenang trend masa kini, berita hoaks di sosial media, sampai quote-quote gratisan yang kadang bikin manggut-manggut kadang bikin kesindir bisa membuat saya geli sendiri untuk mengomentarinya. Tentu saja, mengomentarinya di blog pribadi saya ini.

Tapi… Menulis itu tidak mudah kawan. Saya sendiri, meskipun sudah menulis ribuan paragraf (yakalee ribuan, dapat sepuluh paragraf aja alhamdulillah), terkadang bisa tiba-tiba men-delete habis semuanya atau kalau tidak hanya membiarkanya saja memenuhi saved draft yang entah kapan lagi saya ingat untuk menyelesaikanya dengan ikhlas. Kenapa dengan ikhlas? Karena tulisan yang dibuat dan di-publish dengan tidak ikhlas niscaya akan mengecewakan pembacanya.

Maksudnya ikhlas? Seorang penulis, ah ngga usah muluk-muluk ngomongin penulis, kita saja yang suka menulis pasti bisa merasakan apakah yang sedang ditulis itu pantas dibaca atau tidak. Terkadang ketika ego sedang menguasai, mau tulisan itu bagus mau jelek yang penting mah posting aja. Biar kelihatan sering update. Padahal, ya itu tadi. Sebenarnya kita tidak ikhlas merilis tulisan yang dipaksakan seperti itu.

Mengapa bisa dipaksakan? Karena menulis itu mengikuti mood, dan yang jelas menulis itu memerlukan konsistensi. Mood nyata berpengaruh. Banyak penulis-penulis hebat, profesional mampu menciptakan mood menulis mereka sendiri. Jangankan menciptakan, kecapekan dikit aja, mood kita udah ngga karuan. Masih niat mau nulis? Ngelepas seragam kerja aja kadang ogah-ogahan (hahaha. Curhat banget). Sementara konsistensi tak kalah pentingnya sama mood yang udah dibahas tadi. Dulu dalam satu bulan, saya bisa menulis sampai dua puluh postingan, minimal lima atau enam lah. Nah, gara-gara mood tadi akhirnya kuantitas postingan semakin berkurang, bahkan sampai tiga bulan berturut-turut tidak ada postingan sama sekali. Hingga suatu ketika saya mau menulis lagi rasanya berat sekali. Serius… Ya, contohnya seperti sekrang ini. Banyak sekali ide-ide tulisan yang lebih fresh dan up to date muter-muter di kepala saya dari jaman kapan entahlah akhirnya tak juga rilis. Malah postingan absurd macam ini yang ter-publish. Maafkan saya para pembaca yang baik hatinya. 😀 😀 😀

Tapi tenang saja, saya menulisnya dengan ikhlas kok. Beneran, mengapa begitu, karena saya menuliskanya tanpa memeras otak memaksakan sesuatu di tulisan ini. Itung-itung memulai lagi konsistensi supaya bisa menulis lagi ikhlas benar-benar dari pikiran dan hati.

Jadi Mari Menulis Sekarang

Selamat malam.

Bicara Sosial Media (2)

Sebentar, mari kita sedikit flashback ke belakang…

Saya dulu adalah penganut ‘face to face communication’, betul sekali, itu adalah istilah ciptaan saya sendiri. Hahaha… Saya bukan aktivis “save vintage generation” atau penganut aliran “anti sosial media”, namun saya lebih suka dan sebisa mungkin untuk mempertahankan komunikasi secara langsung. Live. Meskipun hampir semua media sosial kecuali medsos alay. wkwkwk seperti Facebook, Twitter, Path, Skype, Instagram, Google+, BBM, Whatsapp dan sebangsanya nangkring di layar ponsel saya, tapi dua yang tersebut terakhir adalah yang paling cukup sering saya gunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, rekan kerja, dan teman lama yang sudah sangat akrab. Itu pun seringkali hanya beberapa chatting-an singkat, saling komentar status atau say hello sekedarnya. Niatnya hanya satu, supaya komunikasi tetap terjaga. Tak jarang memulai chat dengan orang lain hanya karena ada perlu, ya, karena ada yang ditanyakan atau minta info tentang masalah tertentu.  Kenapa seperti itu??? Silakan baca sendiri alasannya di sini.

Facebook dan Twitter yang merupakan saksi online eksistensi saya di jagad maya sudah sekian lama tak dikunjungi pemiliknya. Sampai suatu saat ketika saya iseng buka FB saya sampai menghabiskan waktu cukup lama untuk men-scroll postingan terakhir saya karena ternyata sudah banyak dermawan (baca : online shop) yang berbaik hati mengisi wall saya dengan produk-produk mereka supaya wall saya tidak sepi. Duh, baiknya… Saya jadi terharu dan mencak-mencak menghapus satu-satu iklan-iklan itu. Wkwkwk

…sekarang…

Facebook saya sudah bersih dari iklan (Alhamdulillah), Instagram mulai update dan Whatsapp saya semakin ramai dengan banyaknya grup yang ada, bahkan saya sendiri jadi admin sebuah grup. Apakah ini nyata sodara-sodara??? Hahaha…

Saya harus mencari toko buku terdekat dengan segera. Memborong bertumpuk-tumpuk novel supaya tidak habis setahun dibaca…

media-sosial-untuk-bisnis