Kepada hati : sudah waktunya berdamai, kali ini!

Siapa yang mengira bahwa perasaan bisa dikendalikan hanya oleh sepenggal nyanyian. Namun bukankah memang setiap kenangan akan begitu saja muncul kembali ke permukaan saat entah apa pun itu memicunya meski tanpa disengaja…

Sekali lagi semesta menunjukkan kedigdayaannya. Susah senang bersama yang usang yang berganti luka tak kunjung hilang membuat sepetak hati yang dihuninya pun penuh carut oleh luka. Perih, sesak setiap mencoba lagi menengok ke sana. Seperti ingin menutupnya rapat-rapat bahkan melupakan bahwa sepetak itu pada kenyataanya memang masih ada.

Hingga konfrontasi antara syair dan melodi mengajak hati membuka ruang yang selama ini dibiarkan (atau sengaja) untuk terkunci. Dan entah mengapa perih yang sekian lama ada saat kesempatan membawa pikiran singgah kesana sudah tidak lagi terasa. Bahkan berungkali meyakinkan diri dilakukan hanya demi memastikan bahwa hati sudah bisa diajak berdamai, mulai saat ini. Dear universe, thanks for this taste of being peace.

Kepada ruang yang diamnya pun mampu berkisah panjang. Terimakasih telah menunjukan bahwa hati sempit pun dapat kembali menjadi lapang. Bersama waktu yang selalu menjadi misteri untukku. Adalah sebuah kejutan bahwa kau memilih saat yang tak terduga untuk melebur cemas menjadi lega, mengubah prasangka menjadi do’a, mengusir lara menghadirkan bahagia.

past_400x400

 

Hai kaliaan.. Apa kabar?

Lebih dari dua tahun lalu, moment-moment itu terjadi. Namun, ketika membuka dokumen-dokumen yang alhamdulillah sempat saya simpan di tempat paling canggih era manusia jaman sekarang (baca: internet), senyum saya masih sama. Bahkan kelopak mata ini hingga terasa begitu berat. Mungkin aku merindukan mereka. Anak-anak itu. Laki-laki koboi itu. Hai, Mr. Kepo. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau masih ingat aku? Gadis manis yang sering kau buat tersenyum. Dulu,,,, 🙂

Dua tahun katanya bukan waktu yang lama. Akan tetapi ketika sekian waktu tak berjumpa, lalu kesempatan memberikanmu waktu untuk bertukar sapa, siapa yang bisa mengira bahwa perubahan nyata terjadi sedemikian cepatnya. Dulu, anak laki-laki yang nakal itu suka memanggilku “ibu” dan tak pernah bisa diam menjahiliku. Sekarang, bahkan untuk berbicara agak lama saja, ia akan tertunduk malu. Kalian sudah beranjak remaja rupanya. Sementara sang remaja mulai menjemput dewasa. Semangat yang dulu mereka tunjukkan pun membuahkan hasil yang tak sia-sia. Setengah perjalanan sebagai mahasiswa berhasil dilewati. Tinggal separuh waktu hingga saatnya menemui kenyataan baru yang membuat kedewaasan mereka akan lebih teruji. Dan saat itu, kalian akan menyadari betapa benar apa yang disampaikan guru-guru kalian seperti yang sedang kurasakan saat ini.

Semoga aku tak akan mudah lupa. Karena memori tentang kalian, seharusnya tersimpan di otak kanan. Dan aku bahagia, pernah mengabadikan moment kita bersama meski dalam dunia maya. Sebagai bukti yang akan membuatku tersenyum sendiri seperti saat ini ketika nanti rindu kapan pun hadir kembali.

Just another post

Bener – bener deh… Panas sekali Bontang malam ini. Atau jangan – jangan cuma di wilayah Jl. Gunung Dieng, BSD aja?? Tepatnya di kamar kosku. Hohoho… Padahal di luar hujan lagi asik – asiknya berloncatan di atas atap rumah tetangga sebelah. Sekedar info, kamar kosku ada di lantai dua. Sekali buka jendela, yang terlihat adalah atap rumah tetangga. >.<

Mmmm… Maaf ya, Shopie. Malam ini aku sedang tidak ingin mendengar kisah – kisahmu. Ternyata sang mesin lipat (pinjem istilahnya ya, mb Dian. hehe) lebih menarik perhatianku untuk menghabiskan malam. Jangan marah ya. Nanti aku sempatkan juga deh, masuk ke duniamu barang satu dua halaman sebelum tidur. 🙂

Apa yaaa…???
Sebenernya bingung juga apa yang mau ditulis saat ini. Rasanya sejak kemarin di kepala penuh ide ini itu. Tapi sekarang mengapa tiba – tiba menguap entah kemana. Lalalala…

Lalala??? Upss. jadi inget seseorang. Selamat jalan. Semoga sukses di tanah kelahiran ya, Pak Ahmad. Semangat selalu. Titip cium buat Rendra. 😀

Oiya. By the way. Selamat untuk teman – teman seperjuangan di UNS. Khususnya buat P. Kimia 08 yang kemarin abis menjalani prosesi sakral bernama WISUDA. Gimana rasanya berdesak – desakan antri di audit buat salaman sama Pak PR??? Hihihi… Selamat yaa.. Semoga ilmu yang diperoleh selama kita belajar di Gedung D tercinta bersama dosen – dosen tercinta bisa berguna untuk kehidupan kita kelak. Semoga sukses untuk apa pun yang dicita-citakan.
Sahabat – sahabatku tersayang, Heny, Desy, Dian dan Lina. Selamat yaa. Akhirnya perjuangan kalian berbuah manis. Jadi inget perjuangan dulu. Antri dosen, revisi seabrek, berangkat pagi pulang sore. Mungkin nanti itulah yang akan menjadi cerita untuk anak cucu nanti ya, kawan… Buat Amy sama Nisa. Ayooo semangat. Semoga periode selanjutnya, kita bisa melihat kalian mengenakan toga itu juga. 🙂

Ini saja dulu. Ide-ide di pikiranku sedang bercabang – cabang rupanya. Semuanya meminta untuk di print out ke dunia nyata. Semoga bisa. Dan semoga tidak mengecewakan… Lalala… 😀

Lihatlah lebih dekat

…………………..
Mengapa bintang bersinar?

Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lhat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti….
…………………….

Tugas kantor sudah rampung kukerjakan beberapa jam lalu. Namun winamp-ku masih standby rupanya. Tak sadar ia mengusikku. Memperdengarkan suara merdu Sherina saat masih kanak-kanak dulu. Lihatlah Lebih Dekat. Lagu kesayangan yang menjadi pengobat sepi paling mujarab. Sekali lagi alam sadarku terhipnotis olehnya.

Tentang perpisahan, tentang sahabat, tentang cara pandang kehidupan…

Danbo

Selalu….

Saat-saat menjelang perpisahan adalah saat yang lebih sulit dilewati daripada perpisahan itu sendiri.

Tentu saja. Karena aku pernah mengalaminya. Karena aku telah berulangkali mengalaminya. Dan perasaan itu selalu ada setiap perpisahan datang.

Bagaimana jika tidak ada kamu?
Bagaimana jika mereka tidak sepertimu?
Bagaimana jika yang kubutuhkan hanya kamu?

Selalu prasang-prasangka serupa yang memenuhi pikiran ketika angin yang membawa aroma perpisahan tengah berhembus. Padahal sebenarnya, setelah waktu eksekusi itu terlewati, segalanya akan baik-baik saja. Mungkin memang akan ada “sedikit” yang hilang. Tetapi kadang tidak hanya “sedikit”. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang begitu berarti. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang menjadi sebuah alasan. Hingga rasanya membuka hati untuk sesuatu yang baru tak akan pernah terasa lebih baik. Tidak seperti syair lagu yang terdengar indah ketika diucapkan seirama melodinya…

Apalagi untuk mereka-mereka yang berlabel “keluarga”, “sahabat”, “kekasih“… Akan terasa begitu sulit. Membuka hati pada hal baru adalah bahasa klise untuk istilah merelakan. Mengikhlaskan. Kita tak akan pernah bisa bangkit jika “kacamata kuda” yang masih melekat erat itu tak jua dilepaskan. Seperti sepenggal lagu di awal. Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti. Semoga….

happy_danbo___by_prihantokoh-d2yc8bb

images

Ini cerita tentangmu, kawan

Ini cerita tentangmu, kawan

Jujur aku tak tau sejak kapan kita memproklamirkan hari jadi persahabatan kita.

Mungkin memang benar yang kau katakan dulu. Kamu adalah pelarianku. Maaf. Tapi sungguh aku tak pernah bermaksud untuk mencari pelarian. Siapa pun dan untuk alasan apa pun.

Mungkin memang cara pandang yang sama yang membuat kita dekat. Yang membuat kita mempunyai prinsip yang sama. Yang membuat kita seakan saling menemukan pasangan jiwa satu sama lain.

Kita sama-sama tidak suka banyak bicara. Mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Kita mempunyai pandangan yang sama tentang sifat seseorang. Kita bersemboyan bahwa alangkah lebih baik jika setiap orang bisa saling membaca pikiran.

Lobi gedung D rasanya akan menjadi tempat yang tak akan pernah kita lupakan. Tempat kita sering menghabiskan sore bersama, dulu. Tempat kita menggosip, curhat, dan merenung sambil  menunggu dosen akhir-akhir kemarin. Dan tentu saja, lokasi strategis untuk ber-say hello saat waktu tak mengizinkan kita untuk bertatap muka lebih lama.

Ahhh, aku merindukannya.
Saat-saat itu….

Masih ingatkah, kawan??

Ketika kita sedang stay tune di 5311 (entah kuliah apa itu?), membicarakan dua orang tak bersalah yang jelas-jelas sedang duduk dibelakang kita.
Ketika suatu malam kita terlibat pembicaraan berpola segiempat hanya dengan sebuah handphone.
Ketika kita duduk makan somay di boulevard kampus dalam suasana kikuk yang sangat-sangat tidak menyenangkan.
Ketika kita histeris saat membicarakan dia, dia, dan dia…

Masih ingatkah?

Hantu lab 1 yang muncul hanya pada akhir musim liburan. Dengan atasan putih, bawahan hitam plus rambut acak-acakkan?
Motor yang selalu kita lirik saat menyambangi parkiran. Pun kemeja kotak-kotak yang sudah menjadi sebuah ciri khas.

Aku bahagia kawan, mempunyai cerita tentangmu. Pernah menghabiskan waktu bersamamu. Bisa berbagi. Apa pun itu. Terima kasih ….

Ingin kutulis lebih banyak lagi sebenarnya. Namun begitu bnyak yang berebut ingin tersampaikan. Hingga aku sendiri bingung, apa sebenarnya yang ingin kutulis.

Kamu  : “Hujan kah, di sana?”
Aku     : “Nggak, ada apa?”
Kamu  : “Besok kalau pas hujan, coba keluarlah. Hitunglah banyak air yang menetes. Sebanyak itulah aku bersyukur memilikimu sebagai sahabatkau.”

*Begitu pun diriku… :*

Sedikit lebih dewasa

Karena dulu aku belum memahamimu, belum mengerti tentang dia, dan belum bisa mengikuti apa kemauan mereka. Karena dulu, kita melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Karena dulu, kita belum mengetahui latar belakang satu sama lain, sebab, alasan dan hal-hal yang memang adalah ciri khas kita. Yang mungkin bukan selalu hal yang baik, yang mungkin tidak berkenan bagi orang lain, namun memang seperti itulah masing-masing dari dari kita. Unik.

Dulu kita yang kiranya masih kolotan. Men-judge seseorang sebagai makhluk cildish hanya karena banyak bicara. Berpikir tentang kemalasan dia hanya karena selalu lama dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja, memberikan cap “pelit” pada orang yang tidak mau meminjamkan tugasnya. Padahal kita sendiri yang malas. Ahh, betapa sempitnya akal manusia. Padahal telah dijelaskan bahwa “belum tentu kita lebih baik dari orang yang telah kita jelek-jelekkan.”

Masih ingat dulu, mereka mereka mereka dan kita terkotak-kotak dalam istilah “best friend”, atau juga anak gaul menyebutnya “geng”. Yang kita banggakan dimana-mana, yang kita utamakan, yang akhirnya sekarang, untuk hanya membuat janji hangout bareng saja, harus melalui konsolidasi yang sangat rumit, mencocokkan jadwal ini itu, dan akhirnya harus ikhlas saat pertemuan sakral itu tak jadi terwujudkan.

Mungkin saatnya kita memahami, masing-masing dari kita punya jalan hidup yang lain. Tapi bukan berarti jalan hidupku hanya untukku sendiri, juga kamu. Kadang kala, kita bisa berbagi, belajar dari apa yang kita dapat selama perjalanan kita, memotivasi. Kamu bercerita tentang hidupmu, pun pengalaman hidupku akan kubagi denganmu.