Ibuk, sebuah novel…

14732576667591410831848

Biru biru biru… Kamarku sekarang banyak biru-birunya. Baiklah, dengan ini saya menyatakan diri sebagai salah satu fans the blues sodara-sodara. Hahaha….

Okee… Sebenarnya bukan tentang itu. Sedikit pengalihan isu supaya saya bisa fokus menulis tanpa terhalang bayang-bayang yang ada di mata saya sekarang. Fiuh… Kenapa sih blurnya ngga ilang-ilang. Perasaan mata saya baik-baik saja. Ngga minus dan belum waktunya plus. Yakali baru abis duaenam udah plus aja…

Jadi, entah bawaan estrogen atau memang daya magis buku karangan Iwan Setyawan ini yang begitu kuat akhirnya saya tumbang juga. Ngga tau kenapa pelupuk mata rasanya semakin berat saja dan genangan yang sekuat hati tertahan disana akhirnya tumpah sejadi-jadinya. Oh, damn it… Pikiran saya tak berada ditempat. Melesat ke sudut lain dimana mereka tak tahu bahwa di sini ada seorang anak perempuan yang sedang berjuang menahan rindu. Kaann… Apa ini. Cuma kata rindu doang bikin air mata mengalir lagi. Dasar, cengeng… Chelsea mana Chelsea.. Hahaha…

Attention please!!!

Yang lagi baper jauh dari orang tua mana suaranyaaaa????????

14729984512291972150722 Silakan Anda-Anda yang lagi ingin bermelankolis ria saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini supaya aura syahdu tentang rindu yang Anda rasakan semakin terasa. Anggap saja ini sebagai garam/gula dalam rica-rica ayam yang sedang Anda racik sekarang. Dijamin sensasi kebaperan yang Anda rasakan akan naik tiga sampai empat level sekaligus lebih tinggi dari sebelumnya.

Syelamat membaca… 😀 😀 😀

Cerita masa kecil… (Mom, I Love You)

Semalam, tak sengaja saya ikut menyaksikan pertandingan sepak bola antara Manchester United melawan entah klub apa (hehehe) yang digelar di Inggris. Dari TV terlihat stadion tempat pertandingan disinari matahari yang sepertinya terik sekali. Namun, ada yang janggal, pelatih maupun penonton yang hadir kebanyakan mengenakan sweater atau baju tebal. Lohh.. Lohhh? Ada apa ini? Karena terganggu dengan komentar-komentar saya yang tidak ada satupun yang berkaitan dengan pertandingan, akhirnya teman saya pun geregetan, dan pertanyaan saya bisa mendapatkan jawaban (hahaha). Dia bilang seterik apapun matahari di sana, suhu udara tak akan lebih dari 20 derajat Celcius. Dan saya baru ingat, itu Inggris pemirsa, Inggris. -.-

Sementara saat ini, Bontang masih pagi. Bahkan petugas Ramayana belum sepenuhnya membuka lapak mereka. Tapiiiii….. Baru berada di luar rumah setengah jam mengapa keringat sudah mulai bercucuran saja? Baiklah, sebaiknya saya tidak boleh pura-pura lupa. Bahwa sekarang, kota tempat saya biasa menikmati Gami Bawis ini berada di kawasan khatulistiwa. Syalalaa…

Sudahlah, daripada mengutuki bumi yang semakin lama suhunya semakin meninggi lebih baik kita mencoba membongkar beberapa memori. Selain untuk berupaya mengaktivkan mode mood “on” sore hari nanti, semoga bisa menjadi bahan supaya lapak ini tidak terus menerus sepi. 🙂

Ada satu kejadian yang dulu pernah saya alami semasa kecil dan teringat sampai sekarang. Pada suatu malam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena merasakan sakit di bagian lengan tangan kanan. Saya benar-benar tidak bisa tidur hingga akhirnya menangis. Kerena mendengar saya menangis, akhirnya ibu ikut bangun, memijat tangan saya dengan minyak kayu putih, dan menayakan apakah siang tadi tangan saya terkena sesuatu yang membuatnya sakit seperti itu. Namun, saya tak merasa ada yang salah dengan aktivitas hari itu. Segalanya baik-baik saja, oh.. tunggu dulu, akhirnya saya menemukannya. Si tersangka yang membuat saya merasakan penderitaan dunia. Jadi, setelah saya susun kronologi hari itu, saya menemukan bahwa penyebab musibah itu adalah karena saya memarut kelapa yang sangat cukup banyak ketika membantu ibu memasak pada siang harinya. Nahh lo. Akhirnya, karena rasa dendam saya kepada acara memarut kelapa itu, saya putuskan untuk tidak lagi menyentuh atau bahkan melirik kelapa ketika acara masak memasak tiba. Hahaha, sadis sekali…

Malam ini, hal itu terulang kembali. Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena merasakan sakit di bagian yang sama. Ya, lengan kanan saya ternyata sedang minta perhatian dari si empunya. Saya meringis sendirian karena tak ada ibu yang biasa menjadi korban rengekan. Namun, kali ini sakit yang saya alami bukan karena seharian lelah memarut kelapa. Dan setelah saya pikirkan mati-matian wajar saja lengan saya ini “marah” kepada pemiliknya, karena beberapa saat terakhir ini ia “dipaksa” untuk menjamah deretan huruf dan angka di atas keyboard setiap hari demi memenuhi deadline yang menguras tenaga…

Ibu, putrimu saat ini sudah besar ternyata. Dia yang dulu menangis karena tidak kuat memarut kelapa, sekarang ia merindukanmu di sela aktivitas dan tututan kerja yang tak pernah ada habisnya.

Dear Mom, I Love You

It’s called as euphoria

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan menikmati udara gratis untuk kesekian kalinya. Masih diberikan kesempatan menyapa Agustus tercinta. Masih diberikan kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka. Thanks, God.

Pagi ini, senyum manis sang bunda yang menyambut hari Kamis saya. Pagi ini, tidak ada muka suram yang biasa bertebaran di mana-mana. Hari ini, waktu berlalu terasa begitu cepatnya. Ahhh, saat-saat bahagia memang biasanya seperti itu. Beda lagi jika yang terjadi adalah hal sebaliknya.

Kemarin… Adalah moment paling kacau balau dalam hidup saya. Bahagia, sedih, haru, rindu, malu, lega, bahkan “blank” terjadi secara bersamaan. Saya tak peduli tentang apa yang orang-orang di bandara itu pikirkan melihat saya sesenggukan dari pintu kedatangan hingga parkiran. Saya tak peduli, barang bawaan saya langsung disahut orang tak dikenal lalu dibawa pergi dengan langkah cepat sekali (ternyata itu bapak sopir taksi yang sudah dipesan orang tua saya, eehh). Bahkan saya tidak peduli bahwa ternyata jarak antara pintu kedatangan hingga pintu utama bandara Adi Sutjipto itu ternyata jauh sekali (kalau saat berjalan kemarin saya dalam keadaan sadar, saya pasti protes. Hahaha). Jadi ceritanya kemarin, saya pasrah saja digandeng sama orang tua saya menuju taksi. Dan alhamdulillah, itu bukan lagi hanya sebuah mimpi. :’)

Ketika taksi mulai keluar dari Bandara, saya baru bisa mulai berbicara. Hahaha… Postingan apa sih ini??? Seperti adegan yang didramatisir saja. Tapi memang kenyataannya seperti itu mau apa lagi. Adalah sebuah bentuk recharging semangat ketika kesempatan untuk bertemu dengan Ibuk bapak tercinta akhirnya bisa terlaksana. Alhamdulillah. Sekali lagi terima kasih Ya Allah. Saya tahu, berterima kasih pada-Mu secara langsung akan lebih baik. Namun biarkan saya saat ini bermelankolis ria, berlebay maksima, dan ber ber ber yang lainnya untuk menunjukkan bahwa saya bahagia. Saya bahagia Ya Allah, terima kasih. Itu sudah.

Itu sudaahhh….

Ini bukan hari yang spesial. Namun, entah mengapa terasa lebih berarti saja. Mungkin karena ini hari libur. Ahh, tidak juga. Hari libur saya tak pernah terasa seperti ini. Mungkin karena hari ini saya temui orang-orang yang spesial. Itu sudaahhh…. Ahhh, apa sih ini??? ^.^

Tak pernah saya bayangkan apa yang saya lakukan detik ini di tempat asalku, di Solo, jika waktu itu saya putuskan untuk tetap hang on melanjutkan hidup di sana saja. Mengubur dalam-dalam niat untuk mencoba mengenal lebih jauh alam Indonesia. Mungkin saya tak akan pernah banyak belajar, benar-benar belajar tentang kehidupan seperti sekarang. Mungkin saya tak akan pernah  menyadari begitu berartinya keberadaan seseorang hingga sejelas sekarang. Dan mungkin saya tidak pernah begitu bersyukur seperti yang sedang saya rasakan saat ini.

Alhamdulillah sore ini saya punya kesempatan juga untuk berkunjung ke rumah seseorang. Bukan suatu kewajiban sebenarnya. Namun ketika beberapa kesempatan kemarin membawa kami untuk bisa saling bertukar kata. Menyampaikan apa yang rasanya ingin sekali meledak di dada kepada seseorang yang bisa mengerti itu rasanya seperti mendapatkan angin segar ketika kau terjebak di sebuah hiruk pikuk problematika manusia.

Thanks God

Seharusnya ia mengeluh. Seharusnya ia menuntut. Seharusnya -…Read More->

Lihatlah lebih dekat

…………………..
Mengapa bintang bersinar?

Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lhat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti….
…………………….

Tugas kantor sudah rampung kukerjakan beberapa jam lalu. Namun winamp-ku masih standby rupanya. Tak sadar ia mengusikku. Memperdengarkan suara merdu Sherina saat masih kanak-kanak dulu. Lihatlah Lebih Dekat. Lagu kesayangan yang menjadi pengobat sepi paling mujarab. Sekali lagi alam sadarku terhipnotis olehnya.

Tentang perpisahan, tentang sahabat, tentang cara pandang kehidupan…

Danbo

Selalu….

Saat-saat menjelang perpisahan adalah saat yang lebih sulit dilewati daripada perpisahan itu sendiri.

Tentu saja. Karena aku pernah mengalaminya. Karena aku telah berulangkali mengalaminya. Dan perasaan itu selalu ada setiap perpisahan datang.

Bagaimana jika tidak ada kamu?
Bagaimana jika mereka tidak sepertimu?
Bagaimana jika yang kubutuhkan hanya kamu?

Selalu prasang-prasangka serupa yang memenuhi pikiran ketika angin yang membawa aroma perpisahan tengah berhembus. Padahal sebenarnya, setelah waktu eksekusi itu terlewati, segalanya akan baik-baik saja. Mungkin memang akan ada “sedikit” yang hilang. Tetapi kadang tidak hanya “sedikit”. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang begitu berarti. Tetapi terkadang yang “sedikit” itulah yang menjadi sebuah alasan. Hingga rasanya membuka hati untuk sesuatu yang baru tak akan pernah terasa lebih baik. Tidak seperti syair lagu yang terdengar indah ketika diucapkan seirama melodinya…

Apalagi untuk mereka-mereka yang berlabel “keluarga”, “sahabat”, “kekasih“… Akan terasa begitu sulit. Membuka hati pada hal baru adalah bahasa klise untuk istilah merelakan. Mengikhlaskan. Kita tak akan pernah bisa bangkit jika “kacamata kuda” yang masih melekat erat itu tak jua dilepaskan. Seperti sepenggal lagu di awal. Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti. Semoga….

happy_danbo___by_prihantokoh-d2yc8bb

images

Ternyata rindu…

Kata orang rindu itu indah…
Namun bagiku ini menyiksa…

Sengaja memang. Playlist malam ini kupenuhi dengan sekian melodi rindu yang bergantian mengalun merdu menemani malam panjangku. Menerbitkan nuansa syahdu yang selalu saja membuatku merasa nyaman. Membiarkan butir-butir air mata mengalir hingga seluruh rindu terlampiaskan tanpa sisa. Ahhh… Andai saja hujan turun…

Yaaa… Perasaan itu sedang ingin singgah. Ternyata rindu…
Rindu yang membuat pikranku bercabang kemana-mana sepekan belakangan. Rindu yang membuat semua hal tak pernah rapi kuselesaikan. Rindu yang membuatku kacau…

Ternyata rindu. Yang mengurangi senyumku hari-hari kemarin. Yang mengaburkan semangatku. Yang membuatku merasa begitu lemah. Begitu rapuh. Begitu sendu…

Ya Rabb… Saya merindukan mereka….

30 Desember 2012

30 Desember 2012

Sejenak menengok kembali masa satu tahun silam. 364 hari ke belakang. Bukan hal wajib sebenarnya, namun tak ada salahnya mengikuti apa yang menjadi sebuah tradisi. Yang katanya supaya bisa memperbaiki segala sesuatu yang tidak tercapai di 2012 ini.

Ahh… sayangnya aku tak bisa mengingat segalanya. Mungkin nanti di tahun-tahun berikutnya, perlu sudah aku tuliskan apa yang ingin aku capai. Supaya aku tidak bingung lagi memberikan tanda chek untuk setiap hal yang menjadi resolusiku di tahun itu. Sudah sering aku pikirkan memang. Namun yaa, beinilah aku. I am just I.

Actually, resolusi terbesarku di tahun ini alhamdulillah tercapai sudah. Hari kamis, tanggal 6 September kemarin tepatnya. Bahagianya menyaksikan senyum Bapak dan Ibu saat hadir di acara wisuda putrinya yang selalu ia banggakan. Juga adikku yang hebat. Ya Allah, bolehkan aku menangis sekarang. Untuk kesekian kalinya aku merindukan mereka lagi. Untuk saat ini, aku sangat sangat sangat  merindukan mereka… Sungguh…

Lalu apa lagi?? Oh, Damn!!! Saat ini aku tidak ingin bermelankolis ria. Tapi sayangnya, itu yang terjadi sekarang…

I miss you mom, dad… 🙂

:)