Kepada hati : sudah waktunya berdamai, kali ini!

Siapa yang mengira bahwa perasaan bisa dikendalikan hanya oleh sepenggal nyanyian. Namun bukankah memang setiap kenangan akan begitu saja muncul kembali ke permukaan saat entah apa pun itu memicunya meski tanpa disengaja…

Sekali lagi semesta menunjukkan kedigdayaannya. Susah senang bersama yang usang yang berganti luka tak kunjung hilang membuat sepetak hati yang dihuninya pun penuh carut oleh luka. Perih, sesak setiap mencoba lagi menengok ke sana. Seperti ingin menutupnya rapat-rapat bahkan melupakan bahwa sepetak itu pada kenyataanya memang masih ada.

Hingga konfrontasi antara syair dan melodi mengajak hati membuka ruang yang selama ini dibiarkan (atau sengaja) untuk terkunci. Dan entah mengapa perih yang sekian lama ada saat kesempatan membawa pikiran singgah kesana sudah tidak lagi terasa. Bahkan berungkali meyakinkan diri dilakukan hanya demi memastikan bahwa hati sudah bisa diajak berdamai, mulai saat ini. Dear universe, thanks for this taste of being peace.

Kepada ruang yang diamnya pun mampu berkisah panjang. Terimakasih telah menunjukan bahwa hati sempit pun dapat kembali menjadi lapang. Bersama waktu yang selalu menjadi misteri untukku. Adalah sebuah kejutan bahwa kau memilih saat yang tak terduga untuk melebur cemas menjadi lega, mengubah prasangka menjadi do’a, mengusir lara menghadirkan bahagia.

past_400x400

 

Ibuk, sebuah novel…

14732576667591410831848

Biru biru biru… Kamarku sekarang banyak biru-birunya. Baiklah, dengan ini saya menyatakan diri sebagai salah satu fans the blues sodara-sodara. Hahaha….

Okee… Sebenarnya bukan tentang itu. Sedikit pengalihan isu supaya saya bisa fokus menulis tanpa terhalang bayang-bayang yang ada di mata saya sekarang. Fiuh… Kenapa sih blurnya ngga ilang-ilang. Perasaan mata saya baik-baik saja. Ngga minus dan belum waktunya plus. Yakali baru abis duaenam udah plus aja…

Jadi, entah bawaan estrogen atau memang daya magis buku karangan Iwan Setyawan ini yang begitu kuat akhirnya saya tumbang juga. Ngga tau kenapa pelupuk mata rasanya semakin berat saja dan genangan yang sekuat hati tertahan disana akhirnya tumpah sejadi-jadinya. Oh, damn it… Pikiran saya tak berada ditempat. Melesat ke sudut lain dimana mereka tak tahu bahwa di sini ada seorang anak perempuan yang sedang berjuang menahan rindu. Kaann… Apa ini. Cuma kata rindu doang bikin air mata mengalir lagi. Dasar, cengeng… Chelsea mana Chelsea.. Hahaha…

Attention please!!!

Yang lagi baper jauh dari orang tua mana suaranyaaaa????????

14729984512291972150722 Silakan Anda-Anda yang lagi ingin bermelankolis ria saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini supaya aura syahdu tentang rindu yang Anda rasakan semakin terasa. Anggap saja ini sebagai garam/gula dalam rica-rica ayam yang sedang Anda racik sekarang. Dijamin sensasi kebaperan yang Anda rasakan akan naik tiga sampai empat level sekaligus lebih tinggi dari sebelumnya.

Syelamat membaca… 😀 😀 😀

This just a super duper absurd post

Judulnya sparing Gami Bawis sama mas ujub… Hahaha…

Lucu aja sih, padahal kemarin udh planning cantik mau belanja sama-sama. Pergi cari buah sama belanja buat bikin penyetan. Bubar… Ngga jadi…

Janjian jam 8, si kakanda wae jam 8 baru bbm. “Jadi kah yang dianterin”. “Aku mandi dulu, bentar aja kok”. Fiuuhh.. Ya udah lah ya. Lagian weekend juga. Ngga ada acara mau kemana-mana. Paling 15-20 menit nyampe. Ditunggu di depan sambil scrolling BBB siapa tau ada  orang khilaf jual iphone 500ribu. Sampe Setengah jam lebih ngga muncul-muncul. Kemana pangeran satu ini. Masa dandan lama banget…

Emang sempet positive thinking sih, mungkin ada something wrong to his ‘white horse’ kah atau ada temen minta tolong ada perlu. Ada… Sebenarnya pikiran tersebut ada. Tapi yaa ngga tau ya kenapa kok iki ati rasane rodo clekat clekit sithik. Ra biasane ngga on time kayak gini. Sedikit jengkel, syebelll….

And here he is. My handsome prince yang datang dari negeri antah berantah (sebut saja Jl. Jalak) akhirnya datang dengan senyum percaya dirinya yang ngga abis-abis. Ganteng sih, tapi la piye maneh. Dasar atine ringkih (bety memang benar, kayak kardus gelas yang ada tulisanya ‘fragile’ itu lo). Udh terlanjur badmood tingkat provinsi, mau dirayu kayak apa ya tetep males. Jadilah ngambek ngga mau pergi. Padahal udah cantik-cantik, tapi kalo muka njetutut tetep aja ngga enak dilihat (iya, saya sadar sesadar-sadarnya kok).

Dan si mas ujub pun akhirnya berinisiatif beliin sarapan karena tuan putri mutung. Abis sarapan suasana mencair dan bisa berhaha-hihi lagi.

Entah topan badai dari mana tiba-tiba aja kepingin buat masak Gami Bawis. Yesss… Makanan khas tempat gueh tinggal sekarang ini. Jadilah kita ke pasar (hahaha) cari cobek tanah liat sama ikan bawis plus belanja bumbu-bumbunya sekalian (tomat sama cabe doang).

Jeng jeng jeng… Sampe rumah langsung usek di dapur iris bawang ulek cabe sreng sreng sreng… Jadi deh Gami Bawis buatan adinda tercinta meskipun disertai insiden kurang garam sama gula. Karena cobeknya kecil dan ngga bisa muat semua ikan Bawis yang udah dibeli jadilah dimasaknya separo aja. Rasanya? Si mas ujub sih bilang “Enak kok” yang kudefinisikan dengan nilai 7 minus. Hikss… Tapi enak beneran kok.. Hahaha. Pembelaan… -.-

Abis maghrib karena ikan beserta bumbu-bumbunya masih komplit akhirnya niatlah kami memasak lagi (memang dasar ngga ada kerjaan). Dan kali ini si mas ujub yang saya minta buat masak karena dia suka pamer kalo masakanya enak. Hhmmm… Let me see…

Srek usrek usrek… Taraaa… Jadi juga Gami Bawis versi kakanda yang rasanya ternyata ehem memang enak. Huaaaa… Kalah adek bang. Pledoi yang saya ajukan bahwa si abang belajar dari kekurangan masak memasak kita sebelumnya yaitu diperkuat pada bagian pedas asin sama manis (la kok semua, hehehe). Baiklah baiklah… Fair. Saya mengakui bahwa Gami Bawis buatanya memang enak. Jadi lain kali kalo saya pengen makan ngga perlu jauh-jauh ke Cafe Bontang Kuala sana. Mana ada si abang. Udah enak masaknya pake cinta lagi. Eerrrr…..

Dan hari ini alhamdulillah bisa ngambek, bisa mutungan, ketawa berdua. Bersyukur sekali. Semoga semakin hari semakin banyak keseruan yang bisa kami lewati. 😀

 IMG20160820151720

A Half Week Relationship

Karena LDR terlalu mainstream… ;D

Selayaknya kawan baru yang harus diakrabi. Bertemu denganmu seminggu 3 hari harus mulai kubiasakan sejak saat ini. Ya kalo tiga hari. Kalo dua, satu atau bahkan harus lembur untuk memenuhi tuntutan kerjamu, aku akan ikhlas. Tapiii… ah, tidak mungkin. Jurus ampuh “Sayang, aku kangen” nanti bakal segera membuatmu tiba dihadapanku beberapa saat kemudian. Seberapa lama sih rindu bisa kau tahan? Uppsss… Apakah aku terlalu ke ge-er an. :p

Tidak bersamamu setiap hari membuat kedewasaan semakin teruji. Digenggamanmu kutitipkan seluruh kepercayaan yang kumiliki. Pun amanah yang membuatmu memilihku semampunya berusaha untuk kujalani. Karena, bersama setiap hari bukan sesuatu yang menjadi tujuan utama hubungan ini. Meskipun sebenarnya, keinginan itu nyata tak bisa dipungkiri. Ah, ini konsekuensi. Tak apa jika jarak memang harus ikut serta dalam kompromi, aku siap dan aku percaya gunung dan lembah seperti apapun akan mampu kita lewati. Masa kita kalah sama Ninja Hatori. Hahaha…

Seminggu tiga hari seperti menjadi waktu yang tak boleh disia-siakan. Bisa jadi minggu selanjutnya membuat waktu tak berbaik hati memberikan kesempatan. Entah hanya keluar makan atau jalan-jalan menghabiskan waktu seharian, apapun itu membuatku bersyukur. Hadirnya dirimu di sela hari-hariku menjadi salah satu kebahagiaan yang tak mampu kuukur.

Hingga hadir saat-saat dimana aku tak ikhlas menerima tiga hari dalam satu minggu saja. Malam-malam saat lelah-lelahmu mengusik raga membuatku sungguh ingin berada di sana. Menjelajah ruang hingga sampai pada koordinat yang sama. Mendekapmu hingga lelah itu luruh, menguap tak tersisa. Aahh, mungkin aku memang harus belajar beberapa mantra.

Pada akhirnya, kita memang harus berteman dengan keadaan. Menjadikan tiga hari dalam seminggu menjadi bumbu dalam sebuah hubungan. Tenang sayang, aku tak akan keberatan. Karena kamu dan segala keadaan ini adalah pilihan. Semoga semesta meng-amin-kan…

l-161253

To whom it may concern : This is dedicated for you :)

Hey, you… Yes you…
Terima kasih telah memberiku waktu malam ini. Mengunjungi lapak sepi yang sekian lama kutinggalkan demi mengabdi kepada negeri. Hahaha… Apakah aku terlalu berlebihan honey, semoga ini tidak semakin menjadikan alasan hidungku menjadi sasaranmu lagi… 😀
Anyway, terima kasih telah mengerti. 🙂

Ngomong-ngomong… Mungkin postingan pertamaku ini akan kudedikasikan saja untukmu. Maka, berterima kasihlah padaku. Ngga perlu repot-repot membawakanku apa-apa. Bagiku, kau ada lebih cukup dari segalanya. Biarkan dengan senyumanmu aku bermanja sepuasnya.

Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita percayai begitu saja. Bagiku, kamu adalah salah satunya. Bukannya aku masih sangsi bahwa bersama hanya menjadi angan-angan kita belaka. Hanya saja rasanya seperti mimpi saat menyadari bahwa dirimulah yang selalu kuandalkan setiap saat aku butuh seseorang untuk dipercaya. Rasanya seperti mimpi saat menyadari bahwa ketika kupalingkan mata, kamulah yang menemaniku duduk bersama. Rasanya seperti mimpi, saat menyadari sekarang aku dan kamu berusaha kulebur menjadi kita.

Kau tau, aku tak percaya bisa menulis seperti ini lagi. Kupikir jari-jariku hanya akan tergantung di atas keyboard saja. Berhubung sekian lama kepalaku hanya dipenuhi dengan angka dan angka. Kata-kata seperti sudah tidak mempunyai ruang untuk kurangkai seperti sebelumnya. Namun yang lebih membuatku tak percaya adalah, bahwa postingan itu tentangmu. Iya, TENTANG KAMU. Sengaja ditulis kapital biar dramatis. hahaha..

Baiklah sayang, rasanya cukup sampai di sini. Lain kali mungkin aku akan menyapamu lagi dengan kata-kata manis yang lebih manusiawi. 😀 Paling tidak kamu dan aku bisa sama-sama tersenyum membaca postingan absurd malam ini. Bagaimana aku tau? Berterimakasihlah pada ponsel pintarmu karena menyediakan layanan notifikasi. :p 🙂

Selamat malam… ❤ ❤ ❤ ❤

 

Cerita masa kecil… (Mom, I Love You)

Semalam, tak sengaja saya ikut menyaksikan pertandingan sepak bola antara Manchester United melawan entah klub apa (hehehe) yang digelar di Inggris. Dari TV terlihat stadion tempat pertandingan disinari matahari yang sepertinya terik sekali. Namun, ada yang janggal, pelatih maupun penonton yang hadir kebanyakan mengenakan sweater atau baju tebal. Lohh.. Lohhh? Ada apa ini? Karena terganggu dengan komentar-komentar saya yang tidak ada satupun yang berkaitan dengan pertandingan, akhirnya teman saya pun geregetan, dan pertanyaan saya bisa mendapatkan jawaban (hahaha). Dia bilang seterik apapun matahari di sana, suhu udara tak akan lebih dari 20 derajat Celcius. Dan saya baru ingat, itu Inggris pemirsa, Inggris. -.-

Sementara saat ini, Bontang masih pagi. Bahkan petugas Ramayana belum sepenuhnya membuka lapak mereka. Tapiiiii….. Baru berada di luar rumah setengah jam mengapa keringat sudah mulai bercucuran saja? Baiklah, sebaiknya saya tidak boleh pura-pura lupa. Bahwa sekarang, kota tempat saya biasa menikmati Gami Bawis ini berada di kawasan khatulistiwa. Syalalaa…

Sudahlah, daripada mengutuki bumi yang semakin lama suhunya semakin meninggi lebih baik kita mencoba membongkar beberapa memori. Selain untuk berupaya mengaktivkan mode mood “on” sore hari nanti, semoga bisa menjadi bahan supaya lapak ini tidak terus menerus sepi. 🙂

Ada satu kejadian yang dulu pernah saya alami semasa kecil dan teringat sampai sekarang. Pada suatu malam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena merasakan sakit di bagian lengan tangan kanan. Saya benar-benar tidak bisa tidur hingga akhirnya menangis. Kerena mendengar saya menangis, akhirnya ibu ikut bangun, memijat tangan saya dengan minyak kayu putih, dan menayakan apakah siang tadi tangan saya terkena sesuatu yang membuatnya sakit seperti itu. Namun, saya tak merasa ada yang salah dengan aktivitas hari itu. Segalanya baik-baik saja, oh.. tunggu dulu, akhirnya saya menemukannya. Si tersangka yang membuat saya merasakan penderitaan dunia. Jadi, setelah saya susun kronologi hari itu, saya menemukan bahwa penyebab musibah itu adalah karena saya memarut kelapa yang sangat cukup banyak ketika membantu ibu memasak pada siang harinya. Nahh lo. Akhirnya, karena rasa dendam saya kepada acara memarut kelapa itu, saya putuskan untuk tidak lagi menyentuh atau bahkan melirik kelapa ketika acara masak memasak tiba. Hahaha, sadis sekali…

Malam ini, hal itu terulang kembali. Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena merasakan sakit di bagian yang sama. Ya, lengan kanan saya ternyata sedang minta perhatian dari si empunya. Saya meringis sendirian karena tak ada ibu yang biasa menjadi korban rengekan. Namun, kali ini sakit yang saya alami bukan karena seharian lelah memarut kelapa. Dan setelah saya pikirkan mati-matian wajar saja lengan saya ini “marah” kepada pemiliknya, karena beberapa saat terakhir ini ia “dipaksa” untuk menjamah deretan huruf dan angka di atas keyboard setiap hari demi memenuhi deadline yang menguras tenaga…

Ibu, putrimu saat ini sudah besar ternyata. Dia yang dulu menangis karena tidak kuat memarut kelapa, sekarang ia merindukanmu di sela aktivitas dan tututan kerja yang tak pernah ada habisnya.

Dear Mom, I Love You

Hai kaliaan.. Apa kabar?

Lebih dari dua tahun lalu, moment-moment itu terjadi. Namun, ketika membuka dokumen-dokumen yang alhamdulillah sempat saya simpan di tempat paling canggih era manusia jaman sekarang (baca: internet), senyum saya masih sama. Bahkan kelopak mata ini hingga terasa begitu berat. Mungkin aku merindukan mereka. Anak-anak itu. Laki-laki koboi itu. Hai, Mr. Kepo. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau masih ingat aku? Gadis manis yang sering kau buat tersenyum. Dulu,,,, 🙂

Dua tahun katanya bukan waktu yang lama. Akan tetapi ketika sekian waktu tak berjumpa, lalu kesempatan memberikanmu waktu untuk bertukar sapa, siapa yang bisa mengira bahwa perubahan nyata terjadi sedemikian cepatnya. Dulu, anak laki-laki yang nakal itu suka memanggilku “ibu” dan tak pernah bisa diam menjahiliku. Sekarang, bahkan untuk berbicara agak lama saja, ia akan tertunduk malu. Kalian sudah beranjak remaja rupanya. Sementara sang remaja mulai menjemput dewasa. Semangat yang dulu mereka tunjukkan pun membuahkan hasil yang tak sia-sia. Setengah perjalanan sebagai mahasiswa berhasil dilewati. Tinggal separuh waktu hingga saatnya menemui kenyataan baru yang membuat kedewaasan mereka akan lebih teruji. Dan saat itu, kalian akan menyadari betapa benar apa yang disampaikan guru-guru kalian seperti yang sedang kurasakan saat ini.

Semoga aku tak akan mudah lupa. Karena memori tentang kalian, seharusnya tersimpan di otak kanan. Dan aku bahagia, pernah mengabadikan moment kita bersama meski dalam dunia maya. Sebagai bukti yang akan membuatku tersenyum sendiri seperti saat ini ketika nanti rindu kapan pun hadir kembali.