Sibuk semauku…

Sementara Bruno Mars lagi asyik menghayati nasib dirinya jadi seorang mantan, saya entah kenapa lebih ingin membuka tab baru padahal baru beberapa menit saja mantengin eyang google demi benar-benar belajar tentang siklus PDCA. Beberapa menit. Itupun disambi balas-balasan komen di FB. Hahaha… Sebenarnya niat belajar atau tidak sih saya ini. Ooohh.. Oke. Ternyata kalau belajar bukan memang niat dari sendiri itu amat sangat tidak enak sekali. Ya, memang. Kalau bukan karena tugas, mungkin saya juga enggan mengetik “siklus PDCA” di mesin pencari yang tingkat ketergantungan orang terhadapnya mungkin hanya bisa disaingi oleh ganja, atau micin??

img20160919220828

I sometimes love being busy, but I hate being too busy, but I also hate when I have nothing to do.

Disitu masalahnya. I love being busy, tapi kalo busy bukan karena kewajiban pribadi atau sesuatu yang ikhlas dijalani rasanya kok berat sekali. Memang manusia itu sukanya “nganeh-nganehi”. Well, guys. Do you know what I mean? Saking susahnya nyari istilah (sebenarnya enggak juga sih) tapi memang begitu kan ya. Pengen sibuk, ada kerjaan bertubi-tubi ngeluh. Kayaknya pengennya itu ya kerjaan datang kalo dia lagi pengen kerja. Secukupnya saja (memangnya ro*co, secukupnya saja). Kalo lagi pengen kerja, berharap ada kerjaan, kalo pas lagi males ya mbok kerjaane ngerti, nanti-nanti dulu datangnya. La kok penak tenan…

Aiissshh… Gara-gara quote itu sih. Malah jadi asik ‘ngelapak’ gini. Padahal tadi niatnya mencoba mengumpulkan tekad sekuat tenaga berusaha menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada saya. Eeeh la malah nyasar ke tongkrongan sini. Yasudah, sambil menyelam cari ikan bawis. Lumayan enak dibikin gami. Hahaha… (harap maklum, sudah malam)

Jadi sebenarnya di postingan kali ini apasih yang mau dibahas? NGGAK ADA… Nggak ada yang mau dibahas. Hehehe… Sekedar mengalihkan pikiran sekalian menyalurkan hasrat pengen nulis yang udah dari jaman kaman pengen terealisasi tapi nggak jadi-jadi karena memulai membiasakan lagi itu ternyata memang sulit sekali saudara-saudara.

Baiklah, cukup obrolan nggak pentingnya. Semoga postingan lain yang (semoga) rilis setelahnya bisa lebih memberi makna. Selamat malam. Salam dari Bruno Mars yang sekarang lagi nyanyi “Marry You” (Udah move on kayaknya).

Hati yang tersenyum

Mata itu berbicara.
Pandangan itu mengatakan segalanya.
Senyum itu… Menguraikan apa yang tak mampu terucapkan.
Sederhana… Namun, terlalu rumit jika harus dijabarkannya, untuk bisa membuatmu benar-benar percaya.

Bahasa yang terbatas.
Yang hanya bisa dipahami oleh hati-hati yang mau mengerti.
Yang hanya bisa dieja oleh jiwa-jiwa yang mau menerima.
Yang hanya bisa dibalas oleh rasa yang berkata sama
Oleh detak yang berirama senada.
Oleh senyum yang menjawab tanpa harus bersuara.

Memancarlah cahaya-cahaya itu
Hadir dari rona merah rupa yang tersenyum malu.
Bahkan ketika seluruh wajah harus rela tertutup sutera
Letupan emosi pun masih menyala dari binar mata,
seperti anak panah yang hebat melesat dari busurnya.

Apakah kau lihat senyum hati itu?
Melangkah anggun dengan hentakan merdu.
Mengetuk pintu, mencoba untuk menyapamu. 

Hati yang tersenyum

…a muse…

Selamat malam rekan-rekan sebangsa dan setanah air. Apa kabar? Masih hujan kah di luar jendela? Keluarga dan teman-teman saya yang masih setia berada di wilayah WIB sana bilang kalo hujan masih betah saja dari pagi sampai pagi lagi sampai pagi lagi, begitu seterusnya. Rasanya air yang ada di langit sana nggak habis-habis meskipun tetesannya tak pernah reda. Pantas saja kalo banjir di beberapa tempat di negeri kita belum surut juga. Jangan lupa ya, ayok kita terus mendo’akan dan membantu sodara-sodara yang sedang ditimpa musibah, baik itu yang kebanjiran maupun korban Sinabung yang ada di Sumatera sana. Semoga apa yang bisa kita berikan, entah itu hanya do’a yang ikhlas sekalipun bisa sedikit meringankan ujian hidup yang sedang menyapa mereka. Insyaallah…

Sekarang, saya sudah berada di Bontang lagi. Saya sedang menikmati (lagi) ternyata betapa nyaman kamar yang sudah lebih dari satu tahun menampung saya di sini. Memang selalu begitu, sesuatu akan terasa lebih berarti ketika berjarak dan ketika terbandingkan. Dan saat-saat seperti itulah terasa bahwa “Tidak ada sesuatu yang biasa-biasa saja”. Hanya belum menemukan saat yang tepat untuk menyadari keberartiannya.

Krisis kepercayaan

Bontang masih dingin saja. Seperti hari-hari sebelumnya yang membuat alam mimpi membuai untuk memejamkan mata. Menikmati pikiran yang masih sibuk berkelana. Meskipun sebenarnya raga sudah menyerah kalah untuk mengikuti jemari yang ingin sekali merangkai kata.

Ini tentang sebuah pertanyaan yang sudah menumpuk-numpuk di kepala. Yang seringkali terlupakan karena adala hal lain yang meminta perhatian menyingkirkannya. Namun akhirnya, ia mendapatkan perhatiannya juga. Hingga jadilah saat ini, saya mengesampingkan rayuan bantal dan guling di sana untuk mengajak saya terlelap bersamanya.

Bahkan kemarin siswa saya sendiri yang mengatakan. “Hidup ini adalah kebohongan”. Benarkah demikian? Sebegitu bermasalahkah hidup hingga hal seperti itu ia ucapkan? Apakah sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan? Lalu untuk apa harus repot-repot ada istilah “kepercayaan”?

Mungkin karena itulah, zaman sekarang pemberi harapan pun bukan lagi sesuatu yang mulia, karena sudah banyak kata ‘palsu” yang melekat di belakangnya. Jadi, bagaimana harus percaya? Bukan percaya, lebih tepatnya hanya menggantungkan sebuah spekulasi yang akan diikuti ucapan “alhamdulillah” jika ditepati dan “jadikan saja pengalaman” jika diingkari.

Jadi, sebenarnya apa arti hidup di dunia ini? Orang jawa bilang “Urip iku mung mampir ngombe” (hidup itu hanya singgah untuk minum). Hanya sebentar. Yang kekal adalah kehidupan setelahnya. Yaaa… Itu sih jika kau percaya.

Beberapa saat yang lalu, saya belajar bersama seorang teman. Dia mengatakan sesuatu tentang kebaikan. Yaaa… That’s fine. Saya menyetujuinya. Beberapa saat kemudian, saya mendapatinya menyakiti hati saya dengan mengingkari apa yang telah ia katakan kepada saya sebelumnya. Lalu bagaimana kalau seperti itu? Mungkin seperti yang pernah ada di postingan saya sbelumnya. Memaafkan akan menjadi pintu supaya dendam tidak mengakar di dalam hati selamanya. Namun, kepercayaan rasanya tidak bisa utuh kembali seperti sedia kala.

Krisis kepercayaan. Mungkin itulah istilah bercetak tebal yang sedang kita bicarakan. Jika ingin jujur, tak usah kita perlu melihat orang-orang berdasi yang sibuk mencari alasan mengingkari amanatnya. Yang membenarkan kesalahan karena tak mempedulikan kepercayaan yang disematkan kepadanya. Karena sebenarnya hal-hal itu akan selalu ada, dimanapun dan kapanpun tak mengenal masa. Selama manusia masih mempunyai ego dan berpikiran bahwa yang benar itu ya hanyalah dirinya saja.

Mengapa harus semangat???

Haiii… Haiii….
Selamat malam para pembaca setia blog saya dimana pun Anda berada. Semoga semangat untuk terus berkarya tak lepas menyertai langkah selama kita bisa.

Wow!!! Ada yang spesial kah edisi ini? Sepertinya langit cerah sekali???

Sekali lagi mereka membuat saya ingat untuk membangkitkan semangat yang sempat menguap beberapa saat lalu karena krisis kepercayaan yang tengah melanda institusi. Thanks dears, kobaran semangat kalian akan selalu menjadi alarm yang membangunkan saya ketika efek dari sebuah rutinitas terasa menjemukan. Semoga kita sama-sama tidak pernah lelah saling mengingatkan untuk selalu berpikir positif menjalani hidup yang hanya sekali ini…

Jadi, apa yang sebenarnya telah terjadi?

Saya selalu ingat ucapan seorang guru Bahasa Indonesia saya ketika saya duduk di SMP kelas tiga. Bu Haryati namanya. Beliau berkata seperti ini :

“Seorang guru ketika sudah masuk ke dalam kelas harus tidak punya masalah”

Maksudnya???
Mungkin Anda yang kebetulan berprofesi sebagai seorang guru maupun pengajar sudah memahami apa maksud dari ucapan “sadis” itu. 

Guru adalah seorang “aktris” maupun “aktor” yang akan hadir sebagai pelaku utama dalam sebuah panggung bertajuk pendidikan. Mendidik. Yaaa… Itulah peran yang harus ia jalankan. “Menjadi” dan bukan hanya sekedar “memberi” teladan menjadi amanah mulia yang akan ia emban. Kepadanyalah dititipkan sebuah kepercayaan untuk melahirkan seorang tokoh, ahli, ilmuwan, dan cendekiawan yang menjadi harapan.

Jadi, bisa disimpulkan sendiri, apa yang akan terjadi ketika seorang guru membawa problematika yang sedang ia alami ke dalam kelas tempat murid-muridnya menantikan ilmu untuk akan menjadi bekal mereka mewujudkan mimpi? Ahhh… Sudah banyak contoh yang seringkali dihadirkan media untuk menjadi bukti.

So, guru harus selalu tampil perfect di mata siswanya, begitu? Guru juga manusia biasa yang tak luput dari khilah dan lupa.

Yapss, itu adalah fitrah manusia. Namun, seorang guru yang sadar bahwa ia adalah guru akan selalu berusaha untuk tampil maksimal membawakan peran yang sudah ia ikrarkan.

Semangatnya yang membara membuatnya seolah menjadi manusia yang tak pernah punya beban. Meskipun sebenarnya saat itu ada sekian hal yang harus ia ikhlaskan. Sapa riangnya menjadikan ia terlihat seperti orang paling bahagia di dunia. Meskipun rupiah yang ada di sakunya tak tahu bisa bertahan untuk berapa lama. Kemudian senyum yang selalu tersungging dari bibirnya menegaskan bahwa tak ada satu hal pun yang bisa menyakiti hatinya. Meskipun ketika ia membalikkan badan meneteslah sebutir air mata yang hadir dari siswa yang disayanginya.

Sebuah persembahan spesial untuk guru-guru sejati yang mengorbankan semua yang dimiliki untuk siswa-siswanya tercinta. Semoga saya dan kita calon guru penerus mereka tak lelah meneruskan perjuangan menyalakan pelita penerang bangsa. Amin. Insyaallah.

Precious second #2

Precious second

Sekali lagi ditampar oleh sebuah kutipan sederhana yang membuat hati bergetar menyadari sekian, detik sekian menit, sekian waktu yang berlalu sia-sia.

Apa sih yang kau dapatkan atas satu menitmu yang berlalu dengan sebongkah rasa marah, sepercik kebencian, dan sekelumit rasa kesal? Kepuasan karena bisa membenci? Kelegaan karena bisa menyalurkan emosi? Kurasa tidak.

Apakah ketika kau bisa marah dengan seseorang, lantas dia bisa meng’undo‘ kesalahan yang ia lakukan? Tentu saja tidak. Apakah ketika kau bisa marah kepada seseorang, lantas sesuatu yang hilang darimu akan dengan segera terkembalikan? Ya, bisa jadi. Namun apakah setelah kau marah kepada seseorang, sekejap waktu yang berlalu itu bisa membuatmu yakin bahwa kebahagiaan telah kau dapatkan??? Nah. Jadi, kapan kau bisa mengganti kebahagiaan yang hilang itu? Jawabannya pun hanya satu. Tak akan pernah. Karena setiap detik membawa kebahagiaannya sendiri-sendiri. Sementara waktu terus berjalan, seberapa banyak kebahagiaan yang bisa kau curi darinya? seberapa banyak kebahagiaan yang telah kau buang dengan percuma?

Lalu bagaimana ketika sebuah keadaan memaksamu untuk sejenak mengikhlaskan kebahagiaan yang seharusnya kau rasakan? Ya sudah. Biarkan saja berlalu. Toh emosi dari hati yang serta merta itu terlanjur hadir di sela menit yang kau lewati. Uppss… Namun, jangan sampai ia menguasaimu lebih dulu, karena semakin lama kau membiarkannya bertahta, semakin banyak pula kebahagiaan yang kau lewatkan di setiap detiknya yang terbuang sia-sia. Yang bisa kau lakukan adalah memaafkan. Yang bisa membuatmu kembali bahagia adalah mengikhlaskan. Mungkin, kepercayaan yang kau titipkan padanya tak akan pernah utuh seperti sedia kala. Namun, itu akan lebih baik daripada kebencian itu mengakar dalam hatimu selamanya.

Sekali lagi sebuah cermin ikut terselipkan di sela bait-bait seperti ini. Hanya berharap supaya tidak pernah lupa untuk berkaca pada diri sendiri. Mengapa harus seperti itu? Karena kau tak akan mungkin bisa membuat orang lain mengikuti kebaikan yang kau sampaikan, ketika darimu sendiri hal-hal seperti itu tak mereka dapatkan. Jadi, seperti tertulis sebelumnya. Kalimat indah yang menjadi petuah bagi sesama, tak lain adalah sebuah cambuk yang membuat diri sendiri harus mau berkaca. Apakah kau sudah mewujudkan apa yang berani kau sampaikan?

Senyum itu menular

Judul di atas saya temukan di sebuah novel yang baru-baru ini saya baca. Saat itu pula, saya langsung terbius oleh mantra yang ada di dalamnya yang membawa saya untuk menghadirkan lagi sebuah senyum yang ternyata memang sangat luar biasa. Saya ingin menulis tentang ini semua. Namun, saya masih ragu dari mana untuk memulainya. Takut mengecewakan. Saya tak ingin merusak makna pernyataan indah itu dengan tulisan yang abstrak tak bernyawa.

Okey, mari kita coba. Jadi, pernahkah kau ikut tersenyum saat menyaksikan orang lain tersenyum??? Jika tidak, sebaiknya kau lekas pergi ke dokter karena mungkin kotak senyummu bermasalah. Karena seharusnya tak ada alasan bagimu untuk berpaling pada suatu hal yang baik. Senyum itu hal yang baik dong ya, pastinya.

Ternyata bukan hanya jenis penyakit saja yang bisa menular. Flu katakanlah. Namun, hal-hal manusiawi seperti kantuk dan senyum rupanya bisa juga menjalar dari satu orang ke orang yang lainnya. Banyak yang bilang ketika ada seseorang sedang menguap lalu orang di sekitarnya melakukan hal yang sama tak lama kemudian, itu merupakan suatu bentuk empati. Lalu bagaimana dengan senyum???

senyum

Saya tak ingin sibuk googling hanya untuk mencari alasan mengapa sebuah senyuman bisa menular. Karena saya sudah cukup merasa nyaman hanya dengan menikmati sensasi yang dihadirkannya saja. Percaya atau tidak, tak ada hal negatif yang kau dapatkan dari sebuah senyuman. Kecuali ketika kau tersenyum, tetapi hatimu tidak. Itu pun sebenarnya masih juga ada gunanya.

Para pakar kesehatan mengatakan bahwa orang yang suka tersenyum akan lebih terlihat sehat dan awet muda. Mengapa?? Karena senyum itu ternyata cenderung mengurangi stress. Karena senyum bisa meredam kemarahan dan memperbaiki hubungan. Lalu, sadar atau tidak, senyum itu juga bisa menambah daya tarik seseorang, mengubah suasana hati, dan yang jelas senyum akan selalu membuat kita berpikir positif. Yappss. Pecayalah…

ALL PEOPLE SMILE IN THE SAME LANGUAGE

So, tunggu apa lagi. Mana senyummu? 🙂