Saya memilih bahagia

Home alone! (again)

The time when you stay dewe’an at home and nothing (you want)  to do, then you start gluntang gluntung di kasur padahal orang-orang yang abis shalat isya belum turun dari masjid niscaya lebih mulia daripada kelayapan tengah malam tak tau entah kemana sama siapa dan sedang berbuat apa. Hehehe, iya iya… Saya akui bahwa statement di atas hanya salah satu bentuk pembelaan seorang istri yang sedang ‘mati gaya’ ditinggal suami kerja di luar kota. Hiikkss..

Menghabiskan waktu dengan hanya scrolling social media yang isinya sudah terlalu embuh tapi tetep lanjut aja karena kepo ternyata cukup menyita waktu, hingga akhirnya saya berhasil untuk tidak tampak membosankan karena jam 8 malam sudah nyenyak di peraduan. Yeaayy

Padahal niat hati ingin buka lapak lebih pagi supaya postingan yang rilis hari ini tidak cuma sebiji, tapi apa daya karena sudah lama jari-jari ini tak bersentuhan dengan kata-kata, memulai satu paragraf saja membutuhkan energi yang begitu luar biasa. Hahaha… Ini terlalu lebay ya sodara-sodara.

Baiklah, daripada lebih ngelantur kemana-mana saya ingin mencoba mengarahkan tulisan ini untuk hal yang positif saja. Yup, sekali lagi memilih bahagia dengan cara yang sederhana. Duh, syahdu sekali yaa… Hihihi…

Memulai untuk bahagia, saya pagi ini tersenyum karena masih diizinkan membuka mata di samping teman hidup yang entah seabstrak apapun posenya ketika bangun tidur,  ia selalu membuat saya selalu bersyukur bahwa lelaki baik inilah yang padanya segala tanggungjawab ia ambil alih dari orang tua saya. Bahwa dengan lelaki yang ngga bisa ngambek sama istri inilah saya berikrar untuk menjalani sisa umur bersama. Dan dari hadirnya lelaki yang super grusa-grusu inilah hidup saya menjadi lengkap. (Untuk yang terakhir, saya siap diprotes, komandan :p)

Melihatnya menyiapkan keperluannya sendiri sebelum melaksanakan tugas mencari nafkah untuk istri (dan anak-anak nanti) adalah hal yang membuat saya geli sekaligus tidak sampai hati. Di satu sisi, inilah salah satu rezeki saya mempunyai suami yang terbiasa hidup mandiri, namun disisi lain saya sedikit beretorika, apa sebegitu abaikah saya kepada suami meskipun ia tidak minta untuk dilayani? Namun hanya sesaat pikiran itu ada karena pada akhirnya hari ini kami memutuskan untuk tetap bahagia. Meskipun yaahh, jarak sekali lagi harus diterima.

Sempat terbersit di kepala, ah, inilah seninya berumah tangga. Menerima keadaan yang tak selalu diinginkan, pada akhirnya membuat sebuah kata sesederhana ‘rindu’ manjadi bisikan magis yang meminta ‘pertemuan’ untuk disegerakan. Namun bukankah kita akan menghargai kesempatan ketika waktu memang diciptakan Tuhan untuk tak pernah bisa dirayu?

Jadi, tak apa jika rindu harus dijawab oleh jeda hingga saat nanti waktu mengizinkan untuk bersua. Toh, kehangatan yang menjalar melingkupi hati masih bisa mempertahankan kebahagiaan meskipun hanya melalui beberapa baris pesan. Karena kebahagian itu kita sendiri yang menentukan, tak perlu menunggu untuk singgah dan dipersilakan.

Demikian. Selamat malam…

Akhirnya saya pun membenarkan pandangan yang menyatakan bahwa tak ada gunanya kita menjelaskan kebenaran kepada orang yang hatinya sudah dipenuhi kebencian.

Terlalu jauh jika kita berharap agar si pembenci mengerti maksud dari apa yang kita sampaikan, karena sebelum penjelasan itu sampai menyentuh daun telinga mereka, ia akan terbakar telebih dahulu oleh bara di dalam hati yang tak kunjung padam. Bahkan semakin berkobar hebat karena dukungan dari hati-hati serupa bagaikan kayu bakar kering yang akan dengan senang hati ikut serta memberi dukungan agar api itu terus menyala.

Lancang memang jika ada seseorang yang sok menjadi ksatria mencoba membujuk para pemilik hati itu untuk meredam nyala yang tak kunjung berhenti. Padahal, kalau mau mengakui, memiliki kebencian di dalam hati itu rasanya sangat menyakitkan. Mungkin rasa sakit itu sudah ada sekian lama hingga akhirnya seolah menjadi terlalu biasa. Tapi tetap saja, jika mau berdiam sejenak, mencoba menengok hati yang sudah sekian lama ditelantarkan penuh carut marut luka karena kebencian tersebut, maka rasa sakit itu akan terasa. Dan setelah sadar, rasa sakit itu semakin menjadi, namun berganti dengan rasa sakit karena penyesalan hingga sedikit demi sedikit mencoba berusaha untuk menyembuhkan potongan hati yang sudah tercabik-cabik itu.

Aaah, sepertinya saya terlalu optimis…

Klasemen kebaikan


He said : “Kalau mau baik ya baik aja. Perkara orang mau membalas seperti apa itu urusan mereka. Yang penting apa? Ikhlas. ”

fb_img_1479216463793

Sementara orang-orang di luar lagi sibuk mengapling kebenaran tentang politik dan agama, saya yang akalnya masih lebih cetek dari kolam pancingan mainan di pasar malam ini malah baper gara-gara tidak merasa cukup baik untuk diperlakukan secara “baik” kembali. Halah, memang dasarnya “ringkih“, dibengoki sithik sama orang yang nggak sabar antri di pom bensin aja wis mbrabak. Apalagi …. Ah, sudahlah.

Ngga selesei-selesei kalau mau ngotot-ngototan bahwa kebaikan harus pasti dibalas dengan kebaikan pula. Eeemmm…  Yang tak pernah saya lupa adalah kata-kata dari seorang bapak tua pengingat saya bahwa masih banyak orang ikhlas di dunia ini : “Yakin saja mba, kalau kita berbuat baik, pasti akan ada balasanya. Meskipun bukan secara langsung. Bisa saja saya berbuat baik sama mba, lalu suatu saat saya atau keluarga saya mendapat pertolongan dari orang lain. Saya yakin itu.”

Bukankah hukumnya memang seperti itu, kebaikan dibalas dengan kebaikan.

Atau mungkin hanya kebaikan dengan level tertentu yang akan mendapat balasan kebaikan juga. Jika hanya sekedar menjadi aman dengan tidak mencari masalah dengan orang lain belum bisa disebut berbuat baik, mungkin dengan begitu seseorang tidak berhak meminta imbalan dibaiki juga. Karena menjadi super hero bagi seseorang pun yang sudah tidak diragukan lagi kadar kebaikanya, pengakuan kebaikan pun belum tentu didapatkanya.

Bagi orang yang super duper very ultimate baper kayak “sebut saja melati”, dikhianati (aduh kok syedih banget)  maksudnya mendapat perlakuan kurang manusiawi (hahaha, tambah parah) intinya ketika dia dikecewakan itu akan membuatnya bertanya kepada dunia dan seisinya sebenernya apa sih yang salah dengan dirinya, kurang baik apa, apa pernah dia melakukan kesalahan fatal yang membuat orang lain tega membuatnya kecewa. Duh… Sabar… Sabar Mel…

Kembali ke awal, bahwa kuncinya cuma satu. IKHLAS, ditambah inget banyak-banyak BERSYUKUR. (Alhamdulillah punya alarm penyemangat sekaligus donatur coklat paling bisa diandalkan se Bontang) *wink*

Gampang diucapkan, tapi susah direalisasikan. Memang. Katanya ikhlas itu ilmunya tingkat tinggi. Belajar sedikit-sedikit. Apa yang tidak sesuai diterima tapi ngga usah dimasukkan hati. Ditambah ingat, selalu banyak bersyukur. Rezeki kebaikan tidak datang dari satu tempat. Rezeki kebaikan dapat berupa apapun sebagai nikmat. Kesehatan iya, perkerjaan iya, waktu luang, keluarga yang bahagia. Tidak cuma sekedar materi saja. Yeesss… I absolutely know Mr. President… But…

Bukan masalah balasan rezeki, hanya tentang sikap. Fine! That’s the point. Sekali lagi harus diingat, bahwa ternyata kunci ketentraman hati (biar ngga baper mulu) itu ya cuma IKHLAS. Oooh, jadi selama ini mungkin saya dan orang-orang yang sering baper lainnya kurang ikhlas. Hahaha… (ambil kaca) Baiklah. Kita bisa usahan untuk perbaiki nanti. Pelan-pelan… 😉

Quote beberapa saat lalu…

Orang yang berbuat baik kemudian dibalas keburukan lalu dia berhenti berbuat baik itu biasa.

Orang yang berbuat baik kemudian dibalas kebaikan dan dia terus berbuat baik itu biasa.

Orang yang berbuat baik kemudian dibalas keburukan namun dia tetap berusaha berbuat baik, itulah yang luar biasa.

Super sekali. Semoga kita selalu dimudahkan, dikuatkan, diberikan jalan untuk selalu ikhlas dan istiqomah dalam kebaikan. Dan jangan lupa bersyukur. Karena barang siapa bersyukur, maka janji Allah akan ditambah nikmatnya namun siapa yang kufur maka ingatlah bahwa adzab Allah sangat pedih. Na’udzubillahi min dzalik.

Malah jadi ceramah. Kalah-kalah ustadzah Oki. Hehehe…

Selamat malam, semoga mimpi indah (dan tidak baper lagi) malam ini. 😉 😉 😉

Memulai lagi konsistensi

Mungkin menulis seperti ini adalah cara paling ampuh yang akan saya gunakan kelak ketika harus menunggu suami pulang malam. Ya, cara paling ampuh kedua. Lalu apa yang pertama? Cara paling ampuh pertama adalah dengan main sama “Pou” atau menanam tananaman yang bisa makan zombie. Hahaha… Sabar sabar ya kakanda…

Saya suka menulis, apapun itu ingin sekali saya ekspresikan lewat tulisan. Entah masalah pribadi sehari-hari kah, opini tenang trend masa kini, berita hoaks di sosial media, sampai quote-quote gratisan yang kadang bikin manggut-manggut kadang bikin kesindir bisa membuat saya geli sendiri untuk mengomentarinya. Tentu saja, mengomentarinya di blog pribadi saya ini.

Tapi… Menulis itu tidak mudah kawan. Saya sendiri, meskipun sudah menulis ribuan paragraf (yakalee ribuan, dapat sepuluh paragraf aja alhamdulillah), terkadang bisa tiba-tiba men-delete habis semuanya atau kalau tidak hanya membiarkanya saja memenuhi saved draft yang entah kapan lagi saya ingat untuk menyelesaikanya dengan ikhlas. Kenapa dengan ikhlas? Karena tulisan yang dibuat dan di-publish dengan tidak ikhlas niscaya akan mengecewakan pembacanya.

Maksudnya ikhlas? Seorang penulis, ah ngga usah muluk-muluk ngomongin penulis, kita saja yang suka menulis pasti bisa merasakan apakah yang sedang ditulis itu pantas dibaca atau tidak. Terkadang ketika ego sedang menguasai, mau tulisan itu bagus mau jelek yang penting mah posting aja. Biar kelihatan sering update. Padahal, ya itu tadi. Sebenarnya kita tidak ikhlas merilis tulisan yang dipaksakan seperti itu.

Mengapa bisa dipaksakan? Karena menulis itu mengikuti mood, dan yang jelas menulis itu memerlukan konsistensi. Mood nyata berpengaruh. Banyak penulis-penulis hebat, profesional mampu menciptakan mood menulis mereka sendiri. Jangankan menciptakan, kecapekan dikit aja, mood kita udah ngga karuan. Masih niat mau nulis? Ngelepas seragam kerja aja kadang ogah-ogahan (hahaha. Curhat banget). Sementara konsistensi tak kalah pentingnya sama mood yang udah dibahas tadi. Dulu dalam satu bulan, saya bisa menulis sampai dua puluh postingan, minimal lima atau enam lah. Nah, gara-gara mood tadi akhirnya kuantitas postingan semakin berkurang, bahkan sampai tiga bulan berturut-turut tidak ada postingan sama sekali. Hingga suatu ketika saya mau menulis lagi rasanya berat sekali. Serius… Ya, contohnya seperti sekrang ini. Banyak sekali ide-ide tulisan yang lebih fresh dan up to date muter-muter di kepala saya dari jaman kapan entahlah akhirnya tak juga rilis. Malah postingan absurd macam ini yang ter-publish. Maafkan saya para pembaca yang baik hatinya. 😀 😀 😀

Tapi tenang saja, saya menulisnya dengan ikhlas kok. Beneran, mengapa begitu, karena saya menuliskanya tanpa memeras otak memaksakan sesuatu di tulisan ini. Itung-itung memulai lagi konsistensi supaya bisa menulis lagi ikhlas benar-benar dari pikiran dan hati.

Jadi Mari Menulis Sekarang

Selamat malam.

Bicara Sosial Media (2)

Sebentar, mari kita sedikit flashback ke belakang…

Saya dulu adalah penganut ‘face to face communication’, betul sekali, itu adalah istilah ciptaan saya sendiri. Hahaha… Saya bukan aktivis “save vintage generation” atau penganut aliran “anti sosial media”, namun saya lebih suka dan sebisa mungkin untuk mempertahankan komunikasi secara langsung. Live. Meskipun hampir semua media sosial kecuali medsos alay. wkwkwk seperti Facebook, Twitter, Path, Skype, Instagram, Google+, BBM, Whatsapp dan sebangsanya nangkring di layar ponsel saya, tapi dua yang tersebut terakhir adalah yang paling cukup sering saya gunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, rekan kerja, dan teman lama yang sudah sangat akrab. Itu pun seringkali hanya beberapa chatting-an singkat, saling komentar status atau say hello sekedarnya. Niatnya hanya satu, supaya komunikasi tetap terjaga. Tak jarang memulai chat dengan orang lain hanya karena ada perlu, ya, karena ada yang ditanyakan atau minta info tentang masalah tertentu.  Kenapa seperti itu??? Silakan baca sendiri alasannya di sini.

Facebook dan Twitter yang merupakan saksi online eksistensi saya di jagad maya sudah sekian lama tak dikunjungi pemiliknya. Sampai suatu saat ketika saya iseng buka FB saya sampai menghabiskan waktu cukup lama untuk men-scroll postingan terakhir saya karena ternyata sudah banyak dermawan (baca : online shop) yang berbaik hati mengisi wall saya dengan produk-produk mereka supaya wall saya tidak sepi. Duh, baiknya… Saya jadi terharu dan mencak-mencak menghapus satu-satu iklan-iklan itu. Wkwkwk

…sekarang…

Facebook saya sudah bersih dari iklan (Alhamdulillah), Instagram mulai update dan Whatsapp saya semakin ramai dengan banyaknya grup yang ada, bahkan saya sendiri jadi admin sebuah grup. Apakah ini nyata sodara-sodara??? Hahaha…

Saya harus mencari toko buku terdekat dengan segera. Memborong bertumpuk-tumpuk novel supaya tidak habis setahun dibaca…

media-sosial-untuk-bisnis

Sumpah demi apa, mas Agus kok tiba-tiba mengganggu pikiran saya..

agus-harimurti-yudhoyonoDinginya Bontang pagi ini menjadi hangat bahkan panas saat yang mampir di pikiran saya pertama kali saat bangun pagi tadi adalah sosok gagah nan tampan yang mencuri perhatian khalayak (terutama mamah-mamah muda) bahwa dirinya akan melepaskan pangkat mayornya untuk ikut bertarung demi ambisi ayahanda menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Ya, ternyata mas-mas ganteng seperti Agus Harimurti Yudhoyono lebih bertahan di pikiran saya semalaman daripada sang kekasih yang rela posting di BBB mencari mangga hanya untuk memenuhi keinginan adindanya. Hahaha…

Lalu apa yang membuat mas Agus begitu menyita atensi saya padahal sebelumnya pun saya tak terlalu mengidolakanya meskipun ya, dia cukup idolable sebagai TNI ganteng yang mungkin akan lebih hits jika penampilannya terekspose seperti Norman Kamaru dulu. Bukannya seperti sekarang ketika dia tiba-tiba menjadi sorotan Indonesia terlebih Jakarta karena (nekat) mencalonkan diri untuk bersedia mengabdikan diri membenahi ibukota di detik-detik akhir pendaftaran calon pasangan gubenur-wakil gubernur di KPU. Oh, mas Agus, semoga Allah selalu melindungimu dari godaan jabatan dan niat jahat politik yang terkutuk. Amin…

Banyak spekulasi mengatakan bahwa hadirnya mas Agus (duh, kenapa dari tadi saya mas-mas melulu, kayak kenal aja. hahaha) di tengah kancah perebutan DKI-1 adalah hanya sebatas korban obesesi partai dan ayahnya  agar eksistensinya tetap diakui mengingat dulu mereka pernah menjadi bagian dari penguasa. Namanya juga politik, apapun yang menjadi trending topik akan langsung disambar media yang langsung peka, diracik, dan dihidangkan hingga lezat untuk menjadi santapan publik. Begitu saja.

Dan khalayak yang heterogen pun akan terkotak-kotak untuk kesekian kali menjadi kubu pro, kontra, dan golongan tak peduli. Bagi saya, ah, saya mah apah atuh. Mikirin kekasih aja masih susah diurus, apalagi mau repot-repot mikirin mas Agus.

Selamat pagi. 🙂

 

Sibuk semauku…

Sementara Bruno Mars lagi asyik menghayati nasib dirinya jadi seorang mantan, saya entah kenapa lebih ingin membuka tab baru padahal baru beberapa menit saja mantengin eyang google demi benar-benar belajar tentang siklus PDCA. Beberapa menit. Itupun disambi balas-balasan komen di FB. Hahaha… Sebenarnya niat belajar atau tidak sih saya ini. Ooohh.. Oke. Ternyata kalau belajar bukan memang niat dari sendiri itu amat sangat tidak enak sekali. Ya, memang. Kalau bukan karena tugas, mungkin saya juga enggan mengetik “siklus PDCA” di mesin pencari yang tingkat ketergantungan orang terhadapnya mungkin hanya bisa disaingi oleh ganja, atau micin??

img20160919220828

I sometimes love being busy, but I hate being too busy, but I also hate when I have nothing to do.

Disitu masalahnya. I love being busy, tapi kalo busy bukan karena kewajiban pribadi atau sesuatu yang ikhlas dijalani rasanya kok berat sekali. Memang manusia itu sukanya “nganeh-nganehi”. Well, guys. Do you know what I mean? Saking susahnya nyari istilah (sebenarnya enggak juga sih) tapi memang begitu kan ya. Pengen sibuk, ada kerjaan bertubi-tubi ngeluh. Kayaknya pengennya itu ya kerjaan datang kalo dia lagi pengen kerja. Secukupnya saja (memangnya ro*co, secukupnya saja). Kalo lagi pengen kerja, berharap ada kerjaan, kalo pas lagi males ya mbok kerjaane ngerti, nanti-nanti dulu datangnya. La kok penak tenan…

Aiissshh… Gara-gara quote itu sih. Malah jadi asik ‘ngelapak’ gini. Padahal tadi niatnya mencoba mengumpulkan tekad sekuat tenaga berusaha menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada saya. Eeeh la malah nyasar ke tongkrongan sini. Yasudah, sambil menyelam cari ikan bawis. Lumayan enak dibikin gami. Hahaha… (harap maklum, sudah malam)

Jadi sebenarnya di postingan kali ini apasih yang mau dibahas? NGGAK ADA… Nggak ada yang mau dibahas. Hehehe… Sekedar mengalihkan pikiran sekalian menyalurkan hasrat pengen nulis yang udah dari jaman kaman pengen terealisasi tapi nggak jadi-jadi karena memulai membiasakan lagi itu ternyata memang sulit sekali saudara-saudara.

Baiklah, cukup obrolan nggak pentingnya. Semoga postingan lain yang (semoga) rilis setelahnya bisa lebih memberi makna. Selamat malam. Salam dari Bruno Mars yang sekarang lagi nyanyi “Marry You” (Udah move on kayaknya).