Akhirnya saya pun membenarkan pandangan yang menyatakan bahwa tak ada gunanya kita menjelaskan kebenaran kepada orang yang hatinya sudah dipenuhi kebencian.

Terlalu jauh jika kita berharap agar si pembenci mengerti maksud dari apa yang kita sampaikan, karena sebelum penjelasan itu sampai menyentuh daun telinga mereka, ia akan terbakar telebih dahulu oleh bara di dalam hati yang tak kunjung padam. Bahkan semakin berkobar hebat karena dukungan dari hati-hati serupa bagaikan kayu bakar kering yang akan dengan senang hati ikut serta memberi dukungan agar api itu terus menyala.

Lancang memang jika ada seseorang yang sok menjadi ksatria mencoba membujuk para pemilik hati itu untuk meredam nyala yang tak kunjung berhenti. Padahal, kalau mau mengakui, memiliki kebencian di dalam hati itu rasanya sangat menyakitkan. Mungkin rasa sakit itu sudah ada sekian lama hingga akhirnya seolah menjadi terlalu biasa. Tapi tetap saja, jika mau berdiam sejenak, mencoba menengok hati yang sudah sekian lama ditelantarkan penuh carut marut luka karena kebencian tersebut, maka rasa sakit itu akan terasa. Dan setelah sadar, rasa sakit itu semakin menjadi, namun berganti dengan rasa sakit karena penyesalan hingga sedikit demi sedikit mencoba berusaha untuk menyembuhkan potongan hati yang sudah tercabik-cabik itu.

Aaah, sepertinya saya terlalu optimis…

Something called as “comfort zone”

Sepertinya waktu memang berjalan terlalu terburu-buru. Ah, tak terasa enampuluhsembilan hari sudah kujalani status yang baru. Bagaimana rasanya? Mungkin benar memang jika banyak orang bilang tempat kami ini adalah zona paling nyaman sebagai ladang untuk mencari sesuap nasi dan berbongkah-bongkah batu akik. Waah…

Jaminan pangkat, kenaikan gaji berkala, dan tunjangan hari tua serta masih banyak fasilitas lainnya. Sosok pegawai pemerintah memang membuat seseorang lantas mudah untuk terlena. Lalu hadirlah istilah “oknum” yang membuat citra sang pengabdi masyarakat tidak seluhur janji yang penah diucapkan mereka. Memang tidak semuanya, tetapi tidaklah mungkin citra itu ada jika tak banyak orang melakukannya. Jadi, mendapat ucapan selamat ketika dirimu masuk di zona seperti saat ini terkadang terasa seperti sebuah sindiran. Ah, tak masalah. Bukankah semua orang juga menginginkannya? Tidak.

comfortable

Bagaimana dengan mereka, yang selalu merasa dikhianati oleh kesalahan yang wajar, yang selalu risih dengan ketidakdisiplinan? Karena sebuah loyalitas dan profesionalitas menjadi pondasi untuk mengabdikan diri. Hingga sedikit melengos dari kewajiban yang seharusnya dijalani terasa seperti menyakiti raga sendiri. Namun, upaya untuk menjadi superhero masakini pun bukan hal mudah mengingat bahwa sang korban lebih memilih menikmati kesalahan daripada repot-repot mau untuk diselamatkan.

Over all, segalanya berjalan baik-baik saja. Mungkin saat ini adalah masa untuk menebas rumput, menyingkirkan kerikil-kerikil, menapakkan kaki selangkah demi selangkah hingga jalan setapak tercipta seiring konsistensi yang masih harus terus dijaga. Bukankah kita belajar? Yappss. Belajar dari apapun, dari yang baik, yang buruk bahkan dari yang tak terduga sekalipun.

Taman Nasional Kutai (Cerita petualangan)

Taraaaa…. Lama ngga update ini blog. Maklum. Lagi sibuk-sibuknya persiapan tahun ajaran baru. Presentasi, brosur, beres-beres buku dan dokumen. Sudah kelihatan sibuk belum. Hihihi… Namun sebenernya bukan masalah itu sih. Mau secapek apa pun kalo emang lagi pengen nulis ya langsung deh ke TKP. Mungkin kemarin-kemarin suasana yang sedang tidak bersahabat. Hasrat untuk hanya menikmati alunan musik lebih menggoda ternyata. Uppss iya, sampai lupa. Akhirnya saya menemukan biang onarnya juga. Saya baru ingat kalau seminggu kemarin saya disibukkan dengan beberapa judul film yang harus saya tonton. Oalaaahhhh….

So, untuk edisi kali ini saya pengin membahas tentang salah satu tempat wisata yang “ehem” sekali. Kenapa “ehem”? Ya, karena memang “ehem”. Nah lo…

Jadi, dalam rangka menjalin keakraban para karyawan dan staf pengajar ditempat kerja saya, hari ini tadi kami rame-rame berwisata ke Taman Nasional Kutai Sangkima. Lokasinya berada di Kota Sangatta. Masih tetanggaan sama bontang. Sebelumnya sudah dikasih tahu bahwa acaranya nanti adalah outbond dengan track yang cukup menantang adrenalin. Hmmm, semenantang apa sih? -…Read More->

120513@149 Rain Over Me

Ternyata hari ini hujan masih belum rela membiarkan singgasananya digantikan oleh sang mentari. Karena hanya sebentar saja hangatnya menyapa makhuk Tuhan diperantauan ini. Itu pun masih malu-malu. Tak begitu cetar membahana seperti ketika ia sedang berada pada kondisi primanya. Cukup bersahabat memberi kesempatan kepada khalayak untuk menikmati akhir pekan menjelajah kota kecil mereka.

Dan saya… Masih seperti biasa menjalani rutinitas yang hampir kacau. Overlapping sempat mewarnai akhir pekan saya kali ini. Namun tak begitu berarti. Everything is gonna be okay. 🙂

Rintik hujan pun masih jatuh ketika akhirnya sebelum matahari benar-benar kembali ke peraduannya, saya putuskan untuk sedikit menyapa kota tercinta. Memikirkan sebuah tujuan yang sudah lama ingin saya singgahi. Dan saat itu juga ingin benar-benar saya eksekusi.

Taraaaa… Just another book store. Merupakan salah satu kemewahan bagi saya jika rata-rata yang bisa ditemukan di sini hanyalah sebuah super mini market yang akan tidak adil jika dibandingkan dengan kota-kota besar di luar sana. Atau beberapa toko buku lain yang takut untuk saya singgahi (setidaknya jika sendirian) karena suasananya yang begitu sepi. Seakan-akan sang penjaga di sana hanya digaji untuk mengawasi saya, satu-satunya pengunjung yang ada di tempat kejadian dalam salah satu kesempatan.

Lalu seperti biasa, sekian daya tarik judul-judul buku pun membuat saya seakan dihadapkan pada beberapa pilihan yang akan menentukan jalan hidup saya nanti (okay, jangan dihiraukan. Hehehe). Dan pilihan saya pun akhirnya tertambat pada sebuah novel fiksi berjudul “Rain Over Me”. Entah mengapa novel tersebut mempunyai daya tarik lebih. Selain tentu saja covernya yang mempesona, mungkin kecintaan saya akan hujan menjadi alasan lainnya.

Rain Over Me

140413@149

Apa kabar ya bintang-bintangku di langit Pelabuhan Lhok Tuan malam ini? Apakah masih sama seperti hari kemarin? Bersebelas saja, seperti terakhir kali aku menghitungnya? Atau sudah bertambah banyak kah? Jangan-jangan malah menghilang sudah semuanya. Tersembunyi di balik awan yang sibuk berarak kesana kemari.

Menerawang ke atas. Ke hamparan langit Bontang yang beranjak gelap. Pun melemparkan pandangan jauh ke depan. Ke birunya lautan yang perlahan menghitam. Semuanya indah. Seindah kerlap-kerlip bintang yang muncul menghilang menghiasi langitnya. Seindah kerlap-kerlip bintang laut yang timbul tenggelam di tepian samudera.

Ahh… Rasanya tak ingin beranjak sebenarnya. Namun ternyata masih ada yang menakjubkan setelah itu. Ketika sang raja siang telah sempurna bersemayam di peraduannya di balik cakrawala, sebuah panorama lain Bontang pun seakan tak pernah ada habisnya. Keeksotisan pemandangan malam Pupuk Kaltim membuat mata tak ingin beralih pada yang lain. Lagi-lagi gemerlapnya cahaya memberikan sensor-sensor menuju kepala yang akhirnya bisa diterjemahkan hanya dengan sebuah kata. Mengagumkan. 🙂

 Dan aslinya lebih menakjubkan. :)

Pesona Cahaya Malam Pupuk Kaltim

Bontang #3

Tak terasa sudah setengah tahun saya berada di sini. Sengaja saya gunakan hitungan tahun supaya terdengar cukup lama. Di salah satu sudut Pulau Borneo yang masih terkenal kental akan nuansa pedalamannya. Di ujung timur Kalimantan yang langsung bisa sampai ke Sulawesi dengan hanya menyeberangi Selat Makasar saja. Tapi lihatlah kenyataannya. Bahkan kota asal saya sendiri, Solo, bisa jadi tidak sesibuk ini…

Beberapa bulan kemarin, Bontang menjadi sebuah nama yang sama sekali tidak familiar di telinga saya. Bukannya tidak pernah mendengar, tetapi memang tempat tersebut tidak pernah menjadi topik utama ketika saya berbicara dengan teman, keluarga, maupun orang-orang yang hanya sekilas malang melintang di kehidupan saya. Baru akhir-akhir tahun kemarin, rasanya Bontang telah menarik saya untuk turut serta larut dalam hingar bingar hari-harinya.

Tak sulit mencari tahu seperti apa Kota Bontang ketika segala informasi saat ini bisa langsung kita temukan hanya dengan mengetikkan huruf-hurufnya di halaman Google kemudian mengeksekusinya dengan tombol enter. Not so bad. Ada beberapa perusahaan besar di sana. Paling tidak tempat itu cukup ramai. Namun yang ada di dalam kepala saya melulu adalah sebuah daerah yang kira-kira akan berjarak sepuluh meter dari bangunan satu ke bangunan yang lain. Dan masih banyak hutan bertebaran di mana-mana. So extreme… >.<
Bayangan saya tentang nuansa pedalaman yang akan saya temukan di Bontang nanti semakin memuncak mengingat selama perjalanan dari Balikpapan, saya hanya disuguhi rimbunnya hutan belantara yang bisa saya saksikan dengan hanya diterangi sorot lampu mobil travel sejauh yang bisa dijangkau. Sepertinya niat saya datang ke sini untuk bisa menyatu dengan alam akan sukses terwujudkan.

Namun apa yang saya temukan, tak pernah ada dalam pikiran saya. Serius. Bukan metropolitan memang, tapi tempat ini benar-benar sudah jauh dari sesuatu bertema “pedalaman”. Sesuatu yang selalu membayang-bayang di kepala saya.

Wlcome to Bontang

 

Welcome to Bontang

 

Bontang

Wilayah PT Badak NGL, salah satu Industri terbesar di Bontang

Jalan raya dua arah dengan empat lajur yang bisa dilalui jika ingin mengelilingi Kota Bontang . Seperti di kota-kota pada umumnya. Sebagian beraspal dan beberapa merupakan beton. Bersih dan cukup teratur. Saya bilang cukup. Yaa. Sekedar informasi, pelanggaran lalu lintas di Bontang akan dikenai denda yang cukup tinggi. Contohnya saja, berkendara tanpa helm akan dikenai denda sekitar dua ratus ribu rupiah, atau lima ratus ribu. Upppss…. Saya sedikit lupa. Hihihi.. Namun ternyata masih ada juga beberapa yang nekat melanggar rambu-rambu atau tidak mematuhi aturan lalu lintas. Ahhh… Manusia…

Ada tiga kecamatan di Bontang yang terbagi menjadi beberapa kelurahan. Bontang Barat (BB), Bontang Utara (BU), dan Bontang Selatan (BS). Saya sendiri tinggal di Kecamatan Bontang Utara yang masih satu wilayah dengan kompleks PT Pupuk Kaltim. Salah satu perusahaan yang menjadi tonggak utama perekonomian Bontang. Ada beberapa tempat yang dihuni kumpulan orang-orang pendatang hingga namanya pun menjadi khas. Contohnya saja ada daerah yang bernama “Kampung Jawa”. Yaa. Memang katanya di situ banyak tinggal orang-orang Jawa.

Ngomongin peduduk yang ada di sini, rasanya aneh. Populasi penduduk asli ternyata jauh lebih sedikit daripada pendatangnya. Kebanyakan pendatang berasal dari Jawa Timur dan Makasar. Lucunya, teman saya bilang, karena saking banyaknya orang Jawa Timur ada di Bontang, ketika ada pertandingan bola Bontang FC melawan Persema, Stadion Mulawarman akan penuh sesak oleh para penjual Bakso maupun Sate yang lagi cuti. Yaa. Mereka rela tidak berjualan sehari demi mendukung Tim kesayangan mereka, bermain. Bukan… Bukan Bontang FC tim kesayangan mereka. Persema. Ya… Persema. -.- Akhirnya sang Bontang FC pun merasa bermain di kandang lawan. *Pukpuk Bontang FC yaa*

Memang sepertinya demikian. Di kompleks tempat saya tinggal pun, tiga rumah di depan kos saya serta dua rumah di sebelah kiri kanan berpenghuni orang Jawa Timur. Bahkan Bapak Ibu Kos saya sendiri juga orang Jawa Timur asli. Ckckckck… Oiya lupa. Ibu sama Bapak yang jualan nasi di dekat kantor saya juga tidak lain dan tidak bukan adalah orang Madura asli. Hmmmm…..

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya ceritakan. Kehidupan sosialnya, sudut-sudut kota Bontang yang mengagumkan, industrinya, juga tak kalah kuliner-kulinernya yang….  Mmmmm…. Sesuatu deh pokoknya.

Mau tau episode #Bontang selanjutnya??? Sering-sering mampir ya…
Selamat malam… 🙂

Finally I had to get there (Beras Basah)

Jarang – jarang punya waktu buat liburan seperti ini. Hari Minggu pun rasanya sekarang bukan “hariku” lagi.

Beras Basah. Yupphh. Akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk berkunjung juga. Setelah hampir setengah tahun pesonanya hanya bisa saya dengarkan dari cerita rekan – rekan yang pernah ke sana. Atau iseng – iseng mencari gambar di google image hanya sekedar untuk menebus rasa ingin tau saya.

Sekitar 10 menit perjalanan dari kos sampai Pelabuhan Tanjung Laut. Salah satu pelabuhan yang menyediakan akses untuk wisatawan mengunjungi Pulau nan eksotis tersebut. Kurang lebih 45 menit dengan perahu motor kecil yang banyak disewakan di sana. Akhirnya saya (bersama teman-teman lain tentunya. hehe) merapat di dermaga Pulau Beras Basah. Limaratus ribu rupiah untuk sewa kapal. Murah atau mahal itu??? Yaaaa… Relatif. Hihihi…

Dari kejauhan sebelum kita merapat di dermaga, Beras Basah sudah terlihat begitu mengagumkan.Jejeran pohon kelapanya, pasir putihnya, juga mercusuar yang menjadi salah satu daya tarik pulau tersebut. Ternyata memang pulau yang sangat kecil. Mungkin hanya akan muat sepuluh rumah jika ada seorang kontraktor yang berniat membuat deretan hunian di sana. Dan karena terlalu banyak orang yang datang berkunjung, pulau yang saya lihat di google image terlihat teduh, terasa menjadi penuh sesak setelah saya eksekusi dengan mata kepala saya sendiri. Apalagi sedikit pun tak ada nuansa syahdu yang sebenarnya ingin saya temukan di sana. Karena entah kenapa, hari ini di Pulau itu tengah dilangsungkan pemotretan untuk pasangan yang sedang mengambil foto prewed. Juga tiba-tiba saja banyak orang di situ sedang asik ber-harlem shake  ria. Benar – benar ribut sekali… >.<

Beras Basah... :D

Harusnya itu Beras Basah… Huruf A dan H -nya menghilang entah kemana… -.-

Dan akhirnya daripada tergoda untuk ikut latah menari, saya putuskan untuk berjalan menyusuri pantai mengitari Beras Basah. Mencari terumbu karang. Berfoto dengan Patrick (baca : bintang laut). Juga menjadi juri lomba lari spesiesnya Mr. Crab (kepiting yaaa… #ehh). Bertemu sekumpulan anak – anak pantai yang sedang mencari binatang laut (aiiihhh… apa tadi, aku lupa namanya) dan mencoba ekstrim kuliner. Kata anak – anak itu, binatang laut yang mereka dapat bisa langsung dimakan. Bulat berduri – duri mirip seperti bulu babi, namun warnanya coklat. Ketika dibuka, di bagian cangkangnya terdapat sesuatu seperti kuning telur. Karena saya penasaran, saya meminta teman saya yang ikut berpetualang mencicipi binatang tersebut. Hahaha… Maaf ya kawan, anda saya jadikan korban. Sebenarnya saya sendiri ingin mencicipnya. Tetapi saya benar – benar tidak tega dengan lidah saya nanti jika terjadi apa – apa. ^^v… Asin katanya… Hihihi… Dan setelah kita agak jauh dari mereka (anak – anak pantai tadi), teman saya bilang kalu dia sebenarnya pengin muntah. Uppsss… Sorryyy… 😀

Rasanya nyaman sekali mengitari separuh Pulau mini tersebut. Namun ketika kita sampai di sisi lainnya, rasanya pengin cepat – cepat kembali ke tempat di mana kta tadi berteduh. Ternyata di sisi sebelah Pulau ini pasirnya panas sekaliiii. Pantas saja dari tadi saya perhatikan tidak ada pengunjung yang bermain – main di sana. Ternyata…..

Tak ketinggalan juga tadi saya mencoba floating fish karena bujukan teman – teman yang ternyata amat sangat manjur sekali (iya benar, floating fish. Fishnya tidak terbang, tapi cuma terapung ditarik sama speedboat…. -.-). Juga tak ketinggalan untuk mengabadikan gambar untuk saya pajang di blog yang dari kemarin beraura sendu ini. ^^

Beras Basah… Pulau yang cantik. Mungkin akan lebih cantik lagi jika setiap orang yang datang tidak hanya menikmatinya, lalu pulang meninggalkan sampah bertebaran diman-mana. Mungkin akan lebih cantik lagi jika para penikmat yang berkunjung ke sana ikut menjaga dan merawatnya. Ahhh… Selalu begitu. Mungkin budaya, atau kesadaran diri yang harus terus dikoar – koarkan. Uppss… Saya juga merasa tersindir sendiri. Hihihi…

Selamat tinggal Beras Basah. Semoga ada kesempatan lain untuk bisa mengunjungimu lagi. 🙂

Patrick... :D

Main – main sama Patrick

Cari Mr. Crab

Manjadi juri lomba lari spesies Mr. Crab… >.<

Bersama anak - anak pantai

Bersama anak – anak pantai… 🙂

Ekstrim Kuliner

Ekstrim Kuliner… >.<