A Half Week Relationship

Karena LDR terlalu mainstream… ;D

Selayaknya kawan baru yang harus diakrabi. Bertemu denganmu seminggu 3 hari harus mulai kubiasakan sejak saat ini. Ya kalo tiga hari. Kalo dua, satu atau bahkan harus lembur untuk memenuhi tuntutan kerjamu, aku akan ikhlas. Tapiii… ah, tidak mungkin. Jurus ampuh “Sayang, aku kangen” nanti bakal segera membuatmu tiba dihadapanku beberapa saat kemudian. Seberapa lama sih rindu bisa kau tahan? Uppsss… Apakah aku terlalu ke ge-er an. :p

Tidak bersamamu setiap hari membuat kedewasaan semakin teruji. Digenggamanmu kutitipkan seluruh kepercayaan yang kumiliki. Pun amanah yang membuatmu memilihku semampunya berusaha untuk kujalani. Karena, bersama setiap hari bukan sesuatu yang menjadi tujuan utama hubungan ini. Meskipun sebenarnya, keinginan itu nyata tak bisa dipungkiri. Ah, ini konsekuensi. Tak apa jika jarak memang harus ikut serta dalam kompromi, aku siap dan aku percaya gunung dan lembah seperti apapun akan mampu kita lewati. Masa kita kalah sama Ninja Hatori. Hahaha…

Seminggu tiga hari seperti menjadi waktu yang tak boleh disia-siakan. Bisa jadi minggu selanjutnya membuat waktu tak berbaik hati memberikan kesempatan. Entah hanya keluar makan atau jalan-jalan menghabiskan waktu seharian, apapun itu membuatku bersyukur. Hadirnya dirimu di sela hari-hariku menjadi salah satu kebahagiaan yang tak mampu kuukur.

Hingga hadir saat-saat dimana aku tak ikhlas menerima tiga hari dalam satu minggu saja. Malam-malam saat lelah-lelahmu mengusik raga membuatku sungguh ingin berada di sana. Menjelajah ruang hingga sampai pada koordinat yang sama. Mendekapmu hingga lelah itu luruh, menguap tak tersisa. Aahh, mungkin aku memang harus belajar beberapa mantra.

Pada akhirnya, kita memang harus berteman dengan keadaan. Menjadikan tiga hari dalam seminggu menjadi bumbu dalam sebuah hubungan. Tenang sayang, aku tak akan keberatan. Karena kamu dan segala keadaan ini adalah pilihan. Semoga semesta meng-amin-kan…

l-161253

Till we meet again

Tak begitu jelas teringat saat pertama berjumpa dengannya di suatu hari.
Namun, ketika kesempatan terakhir membawa kita berada di ruang waktu yang sama lagi,
aku sadar sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa.
Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa.
Padahal, aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu.
Karena dia, aku jadi ingin mengulang masa lalu.

Dan suatu hari ….

_Till We Meet Again_

*kutip dengan perubahan*

Till We Meet Again-Yoana Dianika

So stupid

Aku jatuh cinta padamu.

Dulu…

Dulu??? Tidak. Sekarang pun sepertinya masih.

Bukan sepertinya. Tapi memang benar-benar masih.

Apa ini?? Tak ada yang lain kah? Mengapa kamu??!!!

Mungkin memang harus jauh dulu. Baru bisa lupa. Namun aku sendiri tak yakin. Smoga paling tidak, sedikit demi sedikit rasa ini hilang. Seiring waktu yang semakin lama akan melarutkan memorimu di benakku.

DAMNN!!! Sepertinya itu akan sulit. Sekarang saja, entah kenapa music playerku dengan santainya bersenandung ria menyanyikan lagu yang harus membuat rekaman otakku memutar ulang gambaranmu. Lagu yang diam-diam pernah kau nyanyikan dulu.

Sudahlah. Tak ada gunanya memikirkanmu lagi. Benar-benar tak ada gunanya.

Sedikit lebih dewasa

Karena dulu aku belum memahamimu, belum mengerti tentang dia, dan belum bisa mengikuti apa kemauan mereka. Karena dulu, kita melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Karena dulu, kita belum mengetahui latar belakang satu sama lain, sebab, alasan dan hal-hal yang memang adalah ciri khas kita. Yang mungkin bukan selalu hal yang baik, yang mungkin tidak berkenan bagi orang lain, namun memang seperti itulah masing-masing dari dari kita. Unik.

Dulu kita yang kiranya masih kolotan. Men-judge seseorang sebagai makhluk cildish hanya karena banyak bicara. Berpikir tentang kemalasan dia hanya karena selalu lama dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja, memberikan cap “pelit” pada orang yang tidak mau meminjamkan tugasnya. Padahal kita sendiri yang malas. Ahh, betapa sempitnya akal manusia. Padahal telah dijelaskan bahwa “belum tentu kita lebih baik dari orang yang telah kita jelek-jelekkan.”

Masih ingat dulu, mereka mereka mereka dan kita terkotak-kotak dalam istilah “best friend”, atau juga anak gaul menyebutnya “geng”. Yang kita banggakan dimana-mana, yang kita utamakan, yang akhirnya sekarang, untuk hanya membuat janji hangout bareng saja, harus melalui konsolidasi yang sangat rumit, mencocokkan jadwal ini itu, dan akhirnya harus ikhlas saat pertemuan sakral itu tak jadi terwujudkan.

Mungkin saatnya kita memahami, masing-masing dari kita punya jalan hidup yang lain. Tapi bukan berarti jalan hidupku hanya untukku sendiri, juga kamu. Kadang kala, kita bisa berbagi, belajar dari apa yang kita dapat selama perjalanan kita, memotivasi. Kamu bercerita tentang hidupmu, pun pengalaman hidupku akan kubagi denganmu.

 

 

 

When the distance could be the reason

Ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan. Jauuuuh lebih sulit. Kukira senyum akan ada setiap ucapan itu mengalir. Ya, memang ada senyum. Selalu ada senyum. Mengiringi do’a yang terlantun untuk kebaikanku nanti. Terima kasih… :*

Tapi kadang yang terlihat bukan selalu yang sebenarnya. Jauhh di dalam hati, seperti ada yang satu persatu jatuh. Entah perasaan apa itu namanya. Yang kutau, perasaan itu memaksa terwujud dalam genangan di pelupuk mata yang mendesak untuk keluar. Yang akan terasa sakit ketika aku sekuat hati menahannya. Dan akhirnya, senyum itu pun hadir tanpa kekuatannya yang menyejukkan. #hambar. Maaf… 😥

Karena keputusan sudah aku tetapkan. Dan untuknya pun aku mengambil segala risiko. Menerima perasaan ini adalah salah satunya. Dan jauh adalah risiko yang lain.

 

 

 

Unreasonable

Kampusku terasa begitu sepi. Atau hatiku!? Hingar bingar mahasiswa yang antri menunggu giliran konsultasi sudah lenyap. Keceriaan sahabat2 pasca ujian pun kini sudah berpindah tempat. Hanya segelintir yang masih “stand by” dengan laptopnya masing2.

Tidak seperti biasanya. Aku yang selalu ingin pulang ke rumah. Entah kenapa, saat ini aku hanya ingin berada di sini. Tanpa alasan apa pun. Janji yang…. ah, nggak tau lah. Seharusnya semakin membuatku ingin pulang. Namun, aku saat ini aku masih disini.

Lumayan. Mumpung speed hotspot lagi kencang2nya. Hmmm,, alasan lagi. Seberapa pun alasan yang aku ajukan, rasanya tak ada yang tepat. Hatiku menolaknya.

Argghhh… Kenapa sih, aku sibuk mencari alasan. Buat apa coba. Nyatanya aku sekarang di sini. Dan tidak membutuhkan alasan apa pun…

Undefinied

Detik lagi menit berlomba untuk menghampiri pagi. Tapi seperti biasa, mata ini selalu sulit untuk terpejam. Terlebih yang aku nggak habis pikir adalah, sekali lagi aku mengingatmu. Untuk kesekian kalinya. Teriringi syair-syair rindu yang mengalun lirih menemani malam sunyi ini. Entah kenapa kau tanpa permisi mencoba mengambil ruang di pikiranku. Dan kau berhasil..

Aku pun tak berani menebak-nebak. Ini sebuah firasat atau rindukah? Yang tersebut terakhir pun , tak ingin aku akui. Namun kenyatannya, itulah yang benar…