290417@149

Kejadian hari ini mengingatkan saya pada “Mas Mail” (bukan semacam tukang pos yeaahh), adalah salah satu supir dari travel langganan yang sering mengantar saya sampe di Balikpapan. Jadi hari ini, mas bojo mengalami ‘uncoditional moment’ karena kerjaan yang harusnya udah beres dari beberapa hari lalu dan target udh on akhirnya harus dianulir karena ada return dari klien. Yang bikin si abang uring-uringan, kesalahan itu adalah karena keteledoran orang lain yang seharusnya bisa untuk tidak terjadi jika dilihat dari situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Halaah…

Sebagai akibatnya, si abang harus nyari sales lagi di waktu yang udah mepet supaya bisa on target lagi, padahal ini sudah hari sabtu di akhir bulan dan udah siang pula..

Alhamdulillah, setelah doa dan usaha yang sebenernya sudah pesimis dari awal, menjelang maghrib Allah masih menakdirkan rezeki tersebut untuk kami. Dan disini saya semakin yakin bahwa apapun yang Allah inginkan, apapun yang Allah takdirkan, apapun yang Allah kehendaki, niscaya pasti terjadi.

Terus kenapa jadi inget sama mas Mail?

Sebelumnya saya luruskan sodara-sodara, bahwa namanya adalah Ismail, tapi biasa dipanggil Mail. Iya, ini penting. Masnya ini orangnya suka cerita, jadi waktu perjalanan Balikpapan-Bontang, saya lumayan terhibur karena ada teman ngobrol sepanjang jalan. Salah satu topik obrolan kami adalah tentang sesuatu yang menjadi hajat, tujuan, keinginan, atau rencana kita belum pasti akan terwujud. Jadi jangan buru-buru untuk diannounce kemana-mana yee.. Kata dia.

Jadi, obrolan kami sampai ke topik itu gara-gara zaman sekarang banyak orang yang suka pamer tentang sesuatu yang belum menjadi haknya. Dimana-mana yang namanya pamer pasti ngga disukai orang, apalagi yang dipamerin belum tentu ada. Tambahlah alasan orang buat nyinyir. Belum lagi kalo akhirnya yang dipamerin nggak jadi terlaksana atau nggak tercapai. Duuhhh.. Mau taruh dimane muka Neng, Bang??

Kebetulan prinsip mas Mail itu sama dengan saya, berusaha untuk menyimpan dulu suatu hajat atau keinginan yang belum pasti keadaanya.. Istilah jawanya “ngampet”. Misalnya nih, saya punya uang cukup untuk beli mobil (aamiin), udah ke dealer, bayar dan tinggal tunggu mobil dianter ke rumah. Tapi, kalo mobil itu belum bener-bener sampe kepegang tangan saya, saya anggap kalo itu belum menjadi hak saya. Bahkan kalau mobil itu pake cicilan dan cicilannya belum lunas, saya masih merasa bahwa itu mobil masih belum bener-bener punya saya..

Contoh lainnya misalkan, saat saya dulu diumumkan sebagai salah satu peserta yang lolos cpns, saya masih merasa takut dan khawatir sebelum SK yang disitu tertera nama saya, saya pegang dan lihat dengan mata kepala sendiri. Lebay ya? Aaaah, menurut saya itu hal yang wajar. Itu yang inshaallah sudah pasti, masih saya khawatirkan. La kalo udh gembar gembor mau beli mobil, tapi ujung-ujungnya ngga lolos buat ngajuin kredit, apa ngga malu cyint…

Lalu apa yang sama dengan kejadian sore tadi? Bukan masalah tentang pengumuman kepada orang lain tentang apa yang akan menjadi hak kita, namun lebih kepada campur tangan Allah terhadap segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia. Bayangin, udah jelas-jelas dipengumuman dinyatakan diterima, tapi saat pembagian SK, namanya tidak ada dan panitia menyampaikan bahwa untuk dirinya (hanya dirinya saja) terjadi kesalah administrai pada saat pengajuan formasi sehingga, SK tidak terbit dan dia gagal dianglat cpns. Bukan salah si peserta memang, tapi dengan mendesak atau komplain kepada panitia pun tak lantas membuat keadaan menjadi seperti apa dia inginkan (hal yang saya takutkan benar-benar terjadi, hanya saja pada orang lain).

Dari situ dan sekian keadaan lain saya selalu yakin dan semakin yakin, bahwa Allah lah yang berkehendak. Allah lah yang Maha Menentukan. Kamarin mas bojo sudah lega karena on target, namun hari ini Allah menginginkan mas bojo (dan saya. eh) untuk khawatir lebih dulu, untuk berusaha lagi, dan untuk berdoa lebih khusyuk atas rezeki-Nya tersebut. Dan untungnya kami sadar, dan bukannya mengeluh, menggerutu berkepanjangan (yaa, meskipun pada awalnya sempat kecewa. Hehehe)

Jadi, tetap selalu ingat bahwa segala yang kita miliki di dunia ini adalah titipan. Terserah yang punya dong, kalau kita diberi jangan lupa bilang terimakasih, bersyukur. Kalau diambil lagi, yaa diikhlasin. Duuhh gampangnya ngomong ya.. Hahaha… Belajar atuh… Belajar…

Yawislah, ini aja yang mau dishare malem ini. Semoga bermanfaat untuk sekedar pengingat.. Selamat malam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s