The moment that was…

Senin, Selasa, Jum’at, Sabtu, Minggu, Senin lagi, Selasa lagi, Jum’at lagi…

Cepet banget sih ya… Rasanya baru kemarin dpat sms ucapan selamat dari teman karena diterima SNMPTN. Baru kemarin bingung cari air mineral kemasan 1 liter (dan sampe sekarang belum ketemu), kenalan sama Lina, Lina, Rina, dan Nina (yang dulu bikin aku pusing mencocokkan nama dengan si empunya), kesasar sampe jalan raya Solo-Purwodadi km 11 pas pertama pulang ospek, dan bahagia pertama kali bertemu PA-ku yang amat sangat ramah sekali. Duh..

Dan sekarang, nggak terasa udah 4 taun saja. Udah ngerasain asamnya H2SO4, paitnya NaOH, dan manisnya sukrosa. Tiga bahkan empat laporan seminggu. Pernah bersahabat sama Organik, Anorganik, dan Analitik. Menaklukkan Kimia Fisika season 1, 2, 3, dan 4. Juga berhasil berdamai dengan bikomia dan bioteknologi. Mengenal rumitnya rantai DNA, menikmati harumnya kafein jerih payah hasil isolasi. Dari yang awalnya megang tabung reaksi saja masih kikuk, sampe sekarang udah ahli pakai buret dan seperangkat alat refluks. Iiiiwaaawww deh pokoknya…

Entah mengapa, saat-saat menjelang perpisahan adalah saat-saat yang dirindukan. Yaa, disela kesibukan individual yang tak ada habisnya, saat ini adalah saat dimana kebersamaan menjadi sangat berarti. Saat ketika, segala kesempatan kita ambil hanya sekedar untuk bertukar suasana hati. Mengingat-ingat sekian moment yang pernah kita lewati. Dulu… Beberapa saat lalu…

Kimiaku tersayang, kimiaku tercinta… Senang bisa menjadi bagian darimu. :*

Wanita Yang Sedang Jatuh Cinta

Wanita yang sedang jatuh cinta itu….. Cantik…
Yaa, cantik.

Kok bisa??

Nggak tau. Yang jelas, wanita yang dihatinya sedang tertancap panah asmara itu terlihat begitu mempesona (idih, bahasanya euy). Beda dari biasanya lah.. Mungkin memang belum ada penelitian tentang korelasi antara perasaan cinta dengan tingkat kecantikan seorang wanita (kapan-kapan coba deh diusulkan ke LIPI.. Hmmm…), tapi dari yang aku lihat selama ini sih sepertinya begitu..

Mungkin bisa dianalogikan begini. Yang umum saja, coba deh bandingin dua orang, yang satu abis dipecat sama bos, yang satu abis menang kuis Who Wants to be a Milionaire… Wajahnya pasti beda. Kalo yang ngelihat nggak dari monas, pasti bilang orang yang menang kuis tadi lebih nyaman dilihat daripada orang yang abis dipecat tadi (kecuali kalo orang yang dipecat sama bosnya itu adalah Edward Cullen, beda lagi urusannya… :D).

Pertanyaanya, kenapa???

Secara naluriah (cie…) setiap orang lebih suka menyaksikan keindahan daripada ketidakindahan. Nah lo.. Intinya, meihat sesuatu yang indah, ceria, dan bahagia itu lebih membuat kita nyaman daripada melihat sesuatu yang buruk, suram, dan sedih. Karena, yaa… Kita biasanya sih akan terbawa dengan suasana hati seseorang. Kalo ada yang cerah, kenapa harus milih yang suram? 🙂

Trus apa hubungannya sama wanita yang lagi jatuh cinta??

Seorang wanita yang lagi jatuh cinta itu, hatinya sedang berbunga-bunga, bertaburan rasa kasih, cinta, dan pikirannya dipenuhi dengan segala sesuatu yang indah. Itu akan berefek pada semua hal yang dia lakukan, dan orang-orang disekitarnya. Dia akan lebih mudah menyapa, tersenyum. Dan entah kenapa dan dari mana asalnya, tiba-tiba dia akan terlihat lebih cantik… 🙂

Just may opinion… 🙂

Saat itu pun hadir…

Tak habis waktu baginya mematut diri di cermin,
Mengagumi bayangan yang terpantul dari seberang,
Pipi merah dan bibir indah,
Berhias sesimpul senyum nan mengagumkan…

Sambil memainkan jemarinya,
Tak sabar menanti bergulirnya waktu,
Menunggu hadirnya sang pujaan hati…

Debaran jantung semakin kencang saja,
Menanti saat untuk berjumpa,
Melepas rasa rindu di yang sudah terpendam lama…

Tak terpikir olehnya terik mentari di luar sana,
Begitupun awan yang tiba-tiba datang menggantikan,

Hanya satu yang ia tau,
Bahwa rindunya membawa bahagia…

#8

Tiada suatu kesusahan pun
melainkan pasti akan ada akhirnya
dan tiada suatu keadaan pahit pun yang dialami seseorang,
melainkan akan datang sesudahnya keadaan lainnya yang manis

_Wanita yang Paling Bahagia_ 

Welcome June

Mei pun berlalu. Tergantikan Juni yang datang dengan sedikit mendung. Sepoi angin di pagi dan malam pun membawa dingin menusuk kulit. Membuat bulu kuduk berdiri tak kuasa menahan terpaannya. Sesekali mentari menampak. Begitu silau, namun hanya sesaat. Lagi-lagi mendung tak ingin terlalu lama membagi tempat untuknya…

Seakan semesta telah mewakili. Juni kuawali dengan secuil kegalauan. Namun kadang sesimpul senyum masih bisa terpancar di sela belantara kegelisahan..

Untuk esok, lusa dan seterusnya, kuharap cerah akan selalu mengiringi Juni. Menyibak mendung, membiarkan surya membagi hangatnya menemani setiap langkah menggapai harapan. Menyisipkan semangat bagi mimpi yang menanti untuk terwujud…